BAB 44 “Duduk, Non.” Abimanyu melirik satu kursi tunggu yang biasanya diduduki Suryadi di sana. “Hmm.” Celia hanya berdeham, tetapi tak urung juga dia menarik kursi itu lalu duduk. Hening, tak ada lagi percakapan. Untungnya, ruang rawat untuk Abimanyu itu kelas VIP. Jadi terasa nyaman, bahkan ada juga televisi. Abimanyu memejamkan mata, tak tahu juga mau bicara apa. Dia lebih memilih merasakan perih dan sakit pada bekas jahitan yang masih belum kering itu. “Bekal dari Bi Lala keburu dingin, Lo mau makan sekarang, gak?” Akhirnya Celia membuka suara. Ia kesal karena Abimanyu malah memejamkan mata, padahal dia sudah semalaman gelisah ingin melihat kondisinya. Eh, yang dijenguk malah cuek-cuek saja. “Iya, Non. Makasih sudah mengingatkan.” Abimanyu membuka kelopak matanya dan menoleh pada

