BAB 58 “Gue belajar sama Bi Menih aja, Tante. Lo gak usah sok baik, deh, sama gue. Makin lo cari perkara, gue makin keras. Gue memang sudah memiliki sisi baik karena ajaran Mama Nur, tapi Tante jangan lupa, sisi keras gue lebih melekat karena gue hidup bersama Tante Anggita. Jadi, berhenti cari muka depan gue, Tante!” ucap Celia, penuh penekanan. Nilam menarik napas panjang. Dia pun hanya mampu menelan saliva dan berjalan menjauhi Celia. Hatinya tengah gundah menunggu ketukan palu sidang pengadilan. Kini semakin semrawut ketika mendapati perlakuan Celia yang sama sekali tak pernah berpihak padanya. Perempuan itu berjalan menuju ke halaman belakang, di mana Naima dan Ardhan biasa menghabiskan waktu bersama Elin. Dia pun duduk di gazebo, hanya pasrah menikmati sisa waktu bersama kedua bua

