Selalu ada benang kusut menemani langkah perjalanan seseorang. Kesulitan demi kesulitan menjadi tantangan tersendiri guna mencapai puncak. Perlu berdarah-darah dulu hingga berderai air mata untuk mendapatkan kebahagiaan. Ilusi tak bertepi hanya berupa karangan ketika kesedihan membayang. Memikirkan seandainya hidup lebih baik dari kemarin selalu membentuk konsonan baru. Air mata kembali menjadi satu-satunya pelepas perasaan ketika bibir tak dapat mengucapkan satu kata. Tidak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Orang hanya bisa berceloteh tanpa merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaikan burung berkicau para mulut-mulut tetangga menambah kepelikkan. Biarkanlah orang mau berkata apa, kita punya dua tangan untuk menutup telinga dan tidak usah menghiraukan nada-nada sumb

