Langit terlihat menertawakannya saat ini. Bintang berkelap-kelip di atas sana dengan cahaya bulan bersinar terang seolah mengejek kesendirian Permata.
Kedua tangan meremas kuat teralis pagar pembatas. Balkon kamar yang sudah ditempatinya satu bulan ini memberikan kenyamanan. Setidaknya ia terhindar dari amukan sang ayah yang setiap saat menjadikannya sebagai sasaran kemarahan.
Ada air mata yang tersembunyi dalam diam. Permata berusaha tegar atas apa yang terjadi beberapa saat lalu. Udara dingin yang berhembus menyadarkan ia masih mengenakan pakaian basah.
Dengan desahan lemah, Permata tersenyum masam, "sayang sekali pakaian mewah ini harus basah begitu saja. Apa aku harus menggantinya? Tuan Rei tidak akan marah, kan?" tanyanya pada diri sendiri.
Keheningan menyapa, membelutnya dalam kesepian. Pegangan tangan pada pagar pembatas semakin menguat menyalurkan sesak dalam d**a. Permata enggan membalas perbuatan mereka, sebab tidak ada gunanya. Ia hanya memikirkan sang ibu yang tengah berbaring di rumah sakit.
"Sedang apa kamu di sini?"
Suara baritone mengejutkan, Permata membalikan badan melihat sang tuan muda tengah berjalan mendekat.
Sebelum ia membalas pertanyaannya tadi, Kenzie langsung menarik tangannya tanpa permisi lalu menyeretnya keluar dari sana.
Permata yang diperlakukan seperti itu terkejut dan berusaha melepaskan diri, tetapi kekuatan pemuda tampan ini tidak sebanding dengan dirinya.
Tidak lama kemudian Kenzie kembali membawa Permata ke dalam kamar pribadinya. Ketidakpercayaan dan bingung membuat gadis manis tersebut bertanya-tanya.
Bukankah seharusnya Kenzie masih ada di dalam pesta? Pikir Permata.
Namun, sekarang ia tengah berjalan menuju lemari pakaian dan mengeluarkan salah satu piyama dari sana.
"Ganti pakaianmu dengan ini, cepat!" tegas Kenzie kemudian.
Seolah tidak ingin mendapatkan penolakan, Permata menerimanya begitu saja kemudian berjalan menuju kamar mandi yang berada di sana.
Selama berada di dalam, Permata bertanya-tanya dengan sikap aneh tuan mudanya barusan. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran pemuda itu.
"Apa mungkin dia mau mempermalukan ku lagi?" gumamnya gamang.
Beberapa menit kemudian, setelah berkutat dengan pikirannya sendiri Permata menampakan diri lagi. Kenzie yang tengah duduk di sofa tunggal mendongakkan kepala melihat ke depan.
Ia terkejut saat melihat salah satu piyama kesukaannya dari sekolah menengah pertama melekat pas di tubuh Permata. Seketika Kenzie membeku dan untuk sesaat enggan berpaling ke arah lain.
Pikirannya tumpul dengan degup jantung bertalu kencang. Aneh, satu kata mengawali perasaan. Belum pernah ia merasakan hal gila seperti ini saat menatap Permata. Seraya berdehem samar Kenzie menundukkan pandangan, menekan gelenyar dalam d**a.
"Jangan berdiri terus di sana, sini duduk," titahnya seraya menunjuk sofa depan menggunakan dagu.
Permata mengerutkan dahi kala melihat kelakuan sang tuan muda. Mau tidak mau ia duduk di hadapannya masih memperhatikan Kenzie.
Hening menyapa, hanya terdengar dentingan jam di dinding sebagai musik peneman. Permata maupun Kenzie sama-sama membungkam mulut enggan berkata-kata lagi.
Kesepian menelisik ke dalam relung hati masing-masing. Kejadian beberapa saat lalu pun kembali teringat dalam bayangan, membingungkan diri satu sama lain.
Bagaimana kejam dan tidak berperasaan orang-orang yang sudah membully nya. Permata mengepalkan kedua tangan erat menahan kekesalan. Merasakan aura berbeda, Kenzie mendongak dan mendapati gadis cantik itu tengah dirundung kepedihan.
"Permata." Panggilnya lembut.
"Apa... apa se-menyenangkan itu memperlakukan orang lain dengan seenaknya? Apa mereka tidak punya hati dan perasaan mempermalukan seseorang lalu mengatakan kata-kata menyakitkan? Apa aku sehina itu di mata mereka? Apa aku tidak layak untuk berada dalam lingkungan kalian? Apa aku memang serendah itu?"
Pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari mulut ranum Permata mengandung empedu. Terasa pahit dan juga menebarkan kepedihan. Perlahan lelehan air mata menganak bagaikan sungai mengalir deras di kedua pipi.
Kenzie tercengang dan tidak mengerti dengan diri sendiri. Jika beberapa bulan lalu ia bisa mengabaikan keberadaan Permata, tetapi entah kenapa sekarang tidak bisa. Tanpa sadar ia beranjak dari tempat duduk lalu kedua tangannya terulur merengkuh hangat sosok di hadapannya ini.
Seketika itu juga netra jelaga Permata melebar sempurna dengan mulut menganga lebar. Berada dalam pelukan orang lain baru kali ini ia rasakan.
Kedua tangan besar itu melingkar erat di pinggang rampingnya memberikan efek perlindungan. Bahu tegap yang tertangkap pandangan membungkam mulutnya erat. Permata merasakan kehangatan disalurkan Kenzie padanya.
Aroma mint dan maskulin seketika menyapa indera penciuman. Permata diam membeku tidak bergerak sedikit pun.
"Kamu tahu? Apa yang kamu lakukan tadi menjadi hal pertama bagiku? Seseorang datang dengan kue ulang tahun dan mengucapkan selamat dengan tulus adalah pengalaman terindah yang pernah aku terima. Apa kamu membuat kuenya sendiri?" bisik Kenzie memberikan sebuah pertanyaan.
Bersamaan dengan itu Kenzie pun melepaskan pelukan dan menatap ke dalam manik indah di depannya lagi. Permata cengo seraya membalas tatapan sang lawan bicara dengan sorot mata tidak percaya.
Entah ada angin apa sosok arogan sang tuan muda menghilang sekejap mata. Seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi.
"Permata, apa kamu membuat kuenya sendiri? Ah, lihat! Apa luka-luka ini luka bakar?" Kenzie mengelus pelan beberapa plester di jari-jemari lentik Permata sambil menggenggam tangannya hangat.
"A-aku membuatnya sendiri, maaf jika bentuknya tidak sebagus kue mahal mu. Lu-luka ini aku dapatkan... karena tidak terbiasa menggunakan oven. Maafkan aku sudah lancang membuat kue di rumahmu," jelas Permata lalu menunduk menghindari netra kecokelatan tuan muda sekaligus mantan kekasih.
Ia menyaksikan kedua tangannya masih berada dalam genggaman Kenzie. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba saja datang menyapa. Ia tahu apa yang tengah bersemayam dalam d**a. Permata, seorang remaja yang tengah berada dalam masa pubertas mengerti akan situasi dirinya sendiri.
Sedetik kemudian Kenzie melepaskan genggaman tangannya lalu beranjak dari hadapan Permata. Ia kembali duduk di tepi tempat tidur dan membawa kue hancur berada di atas nakas.
Gadis cantik berlandang di bawah mata itu masih setia menundukkan kepala tidak tahu apa yang tengah dilakukan Kenzie.
"Ini enak, rasanya tidak seburuk itu. Bahkan lebih lezat kue buatan mu, Permata?"
Suara Kenzie kembali menyapa memaksanya untuk mengangkat kepalanya lagi. Kata-kata yang terlontar dari celah bibir pemuda itu barusan membuat Permata terkesiap.
Netranya melebar kala melihat pangeran tampan di sana tengah menikmati kue ulang tahun buatannya yang sudah hancur berantakan.
"A-apa yang sedang kamu lakukan? Ke-kenapa kamu memakan kue hancur itu?" gugup Permata tidak mengerti, sekaligus merasa bersalah.
"Kenapa? Kamu sudah membuatkannya untukku. Jadi aku harus menikmatinya, terima kasih. Ini pertama kalinya untukku."
Binar kebahagiaan yang tersimpan apik di dalam matanya mengantarkan bulir cairan bening merembes keluar. Kenzie sekuat tenaga menahan tangis yang menyeruak tak tertahankan. Permata kembali tercengang tidak percaya.
Senyum yang turut mengembang di wajah Kenzie menambah ketampanan. Di dalam ruangan bernuansa gelap itu hanya ada cahaya bulan sabit bertengger apik di bibir ranum sang tuan muda.
Permata merasakan jantungnya berdegup kencang lagi. Ia tidak menyangka jika usahanya akan berbalas manis. Ini juga pertama kali ia merasakan perasaan lega setelah hadirnya rasa sakit.
Kebiasaan yang sering ia lakukan tidak teringat lagi dan Permata bahagia dengan cara tidak terduga.
"Syukurlah," bisik nya membatin menyaksikan Kenzie menikmati kue buatannya, walaupun bentuknya sudah tak bagus lagi.
Keduanya berusaha menekan segala gelenyar perasaan datang menerjang. Baik Permata maupun Kenzie sama-sama menekan rasa aneh tersebut, dan bersikap tidak ada yang terjadi.