PESTA ULANGTAHUN

1116 Words
Layaknya waktu berhenti berputar detik itu juga, harum parfum dari sang lawan bicara menyeruak masuk ke dalam indera penciuman. Degup jantung tidak bisa dihindarkan, bagaimana darah mengalir mengantarkan rona merah di pipi putih Permata. Ia termangu, terkesiap, dan terdiam tanpa kata memastikan apa yang telah terjadi. Daun telinga yang terlihat lebar memberikan warna lain di sana. Keduanya mematung memandangi keindahan bola mata satu sama lain. Hingga suara lembut seorang gadis mengejutkan mereka. "Kenzie." Panggilnya. Kenzie dan Permata menatap ke arah yang sama menyaksikan Lusi datang seraya mengangkat gaun panjang. Senyum manis hadir di wajah cantik dengan rambut ikal yang tersamping ke samping kanan. Sedikit riasan natural menambah keanggunan gadis ini. Permata pun ikut terkesima melihat pancaran manis dalam diri Lusi. Hingga gadis itu tiba di samping Kenzie dan menggandeng lengannya erat. "Teman-teman sudah menunggu, ayo." Lusi sedikit menyeret Kenzie pergi dari sana, membuat pemuda itu hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya, sedangkan Permata terdiam mematung dengan pakaian pelayan memandangi dua sosok yang terus menjauh. Tidak lama kemudian tepukan pelan mendarat di bahu kanannya membuat ia menoleh. Senyum sang perancang busana membuat Permata menautkan kedua alis, tidak mengerti. "Anda Permata? Nyonya Winter menyuruh saya memberikan pakaian ini untuk Anda. Mari ikut saya." Tanpa sepertujuan si empunya pria berambut panjang setengah dikuncir itu pun langsung menarik Permata ke kamar Kenzie. Dengan penuh kebimbangan ia pasrah atas semua yang diberikan padanya dan tidak menyangka mendapatkan pelayanan istimewa dari sang nyonya. Sorak sorai menggema di taman belakang saat sosok Kenzie dan Lusi menampakan diri. Musik mengiringi setiap langkah keduanya seperti sepasang pengantin baru. Lusi sibuk tebar pesona pada teman-teman yang masih bertepuk tangan menatap kebersamaan mereka. Berbeda dengan gadis itu, Kenzie hanya menampilkan wajah datar, seperti biasa. Setibanya mereka di depan kue bertingkat tiga dengan lilin angka delapan belas di puncaknya MC pun mengambil alih. Rangkaian acara mulai dilaksanakan dengan sangat baik. Tamu yang hadir pun menikmatinya dengan riang gembira, hingga sampai waktu santai tiba. Di tengah hiruk pikuk pesta seseorang dengan gaun baby pink berjalan perlahan. Keberadaannya sontak mengejutkan para tamu undangan, terutama sang pemeran utama, Kenzie. Sedari tadi tatapannya tidak lepas dari sosok manis nan cantik yang tengah membawa sekotak kue lengkap dengan lilin. Wajah putih terbalut make-up ringan semakin mempertegas kecantikan alaminya. Sorot mata mereka pun saling bertemu, sampai beberapa saat kemudian sang pemeran utama dan gadis menawan itu saling berhadapan. "Permata? Bukankah itu si upik abu? Sedang apa dia di sini?" tanya salah satu siswa di sana. "Apa Kenzie mengundangnya juga?" jawab teman gadis di sampingnya. "Tidak bisa dipercaya, bagaimana mungkin?" ucap yang lain. "Pasti ada kesalahan." "Hei, bukankah Kenzie sudah memutuskan hubungan mereka?" Asad menyenggol lengan Daren yang tepat berdiri di sampingnya. "Aku tidak tahu, apa mungkin mereka balikan lagi?" bisik nya kemudian. "Sudahlah kalian jangan bicara di belakang orangnya. Nanti kita tanyakan saja langsung," ucap Ikbal seraya menikmati sepiring cake keju. Kedua pemuda itu mengangguk setuju dan melihat kembali ke depan di mana drama baru tengah berlangsung. Kenzie mematung di tempat kala netra nya memandang tepat ke arah kedatangan Permata. Gadis manis bergigi kelinci dan berlandang di bawah mata itu pun menjadi pusat perhatian. Aroma manis menyapa kuat, bola mata sang tuan muda melirik kue ulang tahun yang tengah dibawanya dengan cahaya lilin angka delapan belas menyoroti wajah cantik Permata. Seketika hening menyambut, musik pun berhenti dan semua orang menutup mulut rapat. Adegan yang terjadi sangat menarik atensi. Bak menyaksikan drama remaja, orang-orang yang hadir menyaksikan penuh minat. Siapa yang menyangka jika si pemeran utama menerima kehadiran Permata. Pipi kemerahan menjadi daya tarik seorang Kenzie menimbulkan bisik-bisik pada teman-teman sekelas. Ini pertama kali bagi mereka melihat pangeran arogan bersikap malu-malu seperti itu dan hal tersebut disebabkan oleh Permata. Gadis dengan aura lemah dan hanya menonjol dalam bidang akademik semata. "Selamat ulang tahun, aku harap kamu mendapatkan apa pun yang terbaik. Aku doakan semoga kamu selalu bahagia." Seulas senyum pun hadir menambah kecantikan sosok di hadapannya. Suara lembut bak musik pengiring tidur menyapa indera pendengaran. Kenzie diam bak patung seraya terus memperhatikan Permata. Entah bagaimana jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang tengah dirasakannya saat ini. Semua terjadi sekejap mata sampai kejadian tidak diinginkan harus datang menerjang. Lusi yang tengah berdiri di samping Kenzie tidak terima jika perhatian sang kekasih berpihak pada seseorang seperti Permata. Cemburu dan kekesalan menjadi satu membentuk amarah. Tanpa pandang bulu gadis cantik itu membawa kue ulang tahun di tangan Permata dan dengan cepat dihempaskan ke lantai. Seketika kue tersebut hancur berantakan, krimnya menyebar ke mana-mana tidak indah lagi. Api lilin pun padam seketika yang belum sempat Kenzie meniupnya. Di tengah keterkejutan itu, kejadian tak diharapkan lain datang menyusul. Beberapa orang siswi menggiring Permata lalu menceburkannya ke dalam kolam. Riak air menyadarkan Kenzie, Daren, Ikbal, serta Asad yang kompak membulatkan kedua mata sempurna. Mereka terkejut bukan main dengan tindakan teman seangkatannya. Belum sempat keempatnya bicara, gelak tawa seketika berdengung dari pelaku. Tidak lama kemudian Permata muncul ke permukaan dengan wajah terkejut menyaksikan sang pelaku yang telah mendorongnya ke kolam. "Jangan besar kepala Permata, kamu hanya anak beruntung yang bisa tinggal di lingkungan kami." "Dasar tidak tahu malu, derajat kita berbeda." "Kami tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti putri Lusi." "Jangan karena ada gosip dekat dengan Kenzie, kamu bisa seenaknya." "Kue ulang tahu murahan seperti itu mana mungkin Kenzie menyukainya." "Dasar tidak tahu diuntung." Kata demi kata yang terlontar dari beberapa siswa maupun siswi begitu melukai. Air kolam sedikit menyembunyikan cairan bening yang meluncur di balik mata. Tanpa mengatakan sepatah kata Permata berjalan ke pinggir kolam dan keluar dari sana secepat yang dirinya bisa. Masih dalam diam ia pergi meninggalkan pesta ulang tahun Kenzie penuh luka mendera. Pemuda tampan itu memperhatikannya sedari tadi, kedua tangan mengepal kuat kala mereka kembali tertawa melihat Permata terus menjauh. Ketiga sahabatnya datang menepuk pundak Kenzie perlahan, menyadarkan. "Apa yang terjadi?" tanya Daren, sang sepupu. "Kenapa mereka tega sekali melakukan itu?" lanjut Ikbal tidak percaya. "Ck, picik sekali. Seharusnya mereka tidak mengacaukan pestamu," ujar Asad, emosi. "Kenzie." Panggil Lusi seraya memegang lengan kekasihnya. Namun, siapa sangka seketika itu juga Kenzie menghempaskan tangannya dan menatap ke depan di mana para pelaku masih ada di sana. "Berani-beraninya kalian mengacaukan pestaku. Pergi dari sini aku tidak mau melihat kalian lagi!" Dengan tegas dan suara menggelegar Kenzie mengusir mereka. Tentu hal tersebut membuat semua orang terkejut. Tidak biasanya pangeran tampan itu tidak setuju dengan apa yang terjadi. Karena biasanya kekacauan datang dari kelakuan Kenzie sendiri. Ketidakpercayaan itu membuat mereka mengerutkan dahi bingung. "Aku bilang pergi!" Tidak ada pengulangan kata lagi, mereka pun membubarkan diri. Kenzie merunduk lalu membawa kue ulang tahun hancur itu pergi. Lusi, Ikbal, Asad dan Daren yang menyaksikan kejadian tersebut dibuat bingung. Tanpa mereka sadari ada penyesalan tersembunyi apik dalam diri seorang Kenzie setelah peristiwa itu terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD