Langit menjadi saksi tentang keterdiaman Permata di depan pintu kamar sang tuan muda. Kata-kata yang terus keluar dari mulut dingin Kenzie membekukan sosok manis itu.
Berat bagi Permata untuk melangkah kembali ke kamarnya yang hanya berjarak beberapa meter dari sana. Namun, entah kenapa itu terasa jauh untuk dijangkau.
Bersamaan dengan ia turun ke bawah untuk mengambil air tadi, Kenzie tengah berada di ruang pribadi sang ibu.
Ruangan yang berbentuk segiempat sedikit luas dan seperti tempat kerja di kantor menjadi pertemuan mereka. Kenzie dengan tangan mengepal menatap serius ke arah wanita yang sudah melahirkannya.
"Apa Mamah tidak bisa menunda keberangkatan ke Negara I? Bulan ini aku berulang tahun ke-delapan belas, Mah," jelas Kenzie mengingatkan.
Wanita bersanggul rapih itu pun mendongak mengalihkan perhatian dari dokumen yang tengah digenggam. Netra cokelat terangnya menatap ke dalam iris sang putra.
"Kamu tahu sendiri, bulan ini usiamu menginjak delapan belas tahun, jadi jangan bersikap kekanakan Kenzie. Mamah tidak bisa menunda keberangkatan, lagipula ayahmu sudah ada di sana. Kita tidak bisa menunda pekerjaan untuk hal tidak perlu, seperti ulang tahun yang seharusnya hanya dirayakan oleh anak-anak."
Mendengar jawaban dari sang ibu, iris Kenzie melebar sempurna. Jari jemarinya sedari tadi mengepal kuat sampai kuku-kukunya memutih. Tanpa membalas perkataan sang ibu, ia pun pergi dari sana menyisakan kepedihan.
"Dari dulu pun kalian tidak pernah merayakannya bersamaku," monolog Kenzie, kesal.
Ingatannya berputar ke beberapa tahun silam, di mana setiap ia berulang tahun hanya ada beberapa pelayan dan kado-kado yang terus berdatangan.
Namun, bukan itu yang diinginkan seorang Kenzie Pratama, melainkan keberadaan ayah dan ibu di sisinya. Ia berharap di momen yang terulang satu tahun sekali itu bisa dihabiskan bersama mereka, hanya itu saja, tidak lebih.
"Tetapi sepertinya itu hanya angan-angan belaka," batinnya lagi, sendu.
Kenzie masih berada dalam posisinya tidak menyadari jika seseorang tengah mengawasi sedari tadi. Rasa sakit begitu menusuk hingga membuat ia tidak sadar jika pintu kamar terbuka.
"Aku harus pergi dari sini," gumam Permata setelah beberapa saat, lalu berusaha melangkahkan kedua kaki.
Permata yang sedikit ceroboh itu pun tersandung dan membuat gelas dalam genggaman terantuk ke pintu jati di hadapannya. Suara tersebut membuat Kenzie bangun dari lamunan lalu menegakan kepala melihat ke depan.
Siluet seseorang tertangkap pandangan dan dengan cepat ia mengusap air mata kemudian berjalan keluar.
Permata yang belum sempat masuk ke dalam terkejut dengan cengkraman kuat di bahu kirinya. Seketika gelas meluncur dan jatuh berserakan, hingga pecahan kacanya melukai kaki telanjang Kenzie.
Pemuda itu langsung membalikan Permata membuat mereka saling bertatapan.
"Apa yang sedang kamu lakukan di depan kamarku, hah? Kamu sengaja mengintip dan mencari kelemahan ku dan ingin membalas dendam? Menyebarkan berita jelek ke sekolah dan mengejekku, begitu?"
Kenzie terus menghujaninya dengan pertanyaan tak mendasar. Permata lalu berjalan mundur sampai punggungnya menghantam dinding.
Sorot mata penuh kebencian menatap nyalang padanya dan ia hanya membalas tanpa ada ekspresi berarti.
Menyadari jika tidak akan ada jawaban yang hendak diberikan lawan bicaranya, Kenzie mencengkram erat kedua pipi putih Permata. Gadis manis itu tersentak dan masih mengunci bibir rapat, ada perasaan resah kala melihat jejak air mata di wajah tampan sang tuan muda.
"Jawab aku Permata, apa yang kamu lakukan di kamarku tadi?" tanyanya sekali lagi.
"Darah," kata tersebut membuat Kenzie mengerutkan dahi.
Menyadari sorot mata penuh tanya, Permata kembali bersuara. "Kakimu berdarah," katanya seraya mengisyaratkan ke bawah.
Kenzie melepaskan tangannya lalu mundur selangkah mengikuti instruksi Permata. Benar saja, kaki kanannya terluka dan mengeluarkan darah. Seketika pemuda itu terdiam dengan sedikit gemetar.
Seulas senyum terpendar di wajah cantik Permata, tangan ramping itu terangkat lalu menggenggam erat pergelangan tangan orang di depannya. Kenzie terdiam merasakan hangat yang menjalar sampai ke hati.
Tanpa meminta persetujuan sang empunya, Permata menarik Kenzie menuju kamarnya berada. Di sana ia mendudukkan pemuda dingin itu di sofa tunggal samping tempat tidur. Sosok manis Permata pun berjalan menuju meja belajar.
Ia membuka tas mengeluarkan kotak kecil dari sana lalu kembali menuju Kenzie. Permata berjongkok tepat di depannya dan mengobati luka di kaki putih itu dengan telaten membuat tuan muda arogan tersebut menatapnya dalam diam.
Selama ia hidup hampir delapan belas tahun, baru kali ini ada seseorang yang membalut lukanya dengan hangat. Ia sudah menorehkan luka di hati Permata, tetapi kenapa sosok itu baik padanya? pikiran Kenzie melalang buana.
"Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan gelas dan melukaimu."
Kepala bersurai hitam lembut itu pun mendongak, tatapan mereka saling bertubrukan menyelami keindahan masing-masing.
Bulan sabit hadir mengantarkan kepiluan dalam d**a. Kenzie dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah lain, tiba-tiba merasa gugup.
"Kenapa kamu mau membantu mengobati lukaku?" tanyanya, penasaran.
"Bukankah aku tadi sudah mengatakannya? Aku tidak sengaja melukaimu dan... aku harus bertanggungjawab," balas Permata acuh tak acuh.
"Ah, tanggungjawab," cicit Kenzie. Aneh, ia merasakan sesuatu tidak biasa dalam diri.
Hening menyapa keduanya lagi, Permata sibuk membereskan peralatan luka dan memasukannya kembali ke dalam kotak setelah selesai menggunakannya.
Tidak nyaman dengan atmosfer di sekitar, Kenzie kembali angkat bicara.
"Jadi, bisa kamu jelaskan kenapa tadi berdiri di depan kamarku?" tanyanya yang masih tidak menemukan jawaban.
Lagi-lagi pertanyaan itu meluncur dari balik bibir menawan Kenzie. Permata kembali menoleh dengan sorot mata berbeda.
Kenzie kemudian menautkan kedua alis tajam melihat ekspresi wajahnya dan sabar menunggu jawaban apa yang akan diberikan.
"Aku tadi habis mengambil air minum dan tidak sengaja menguping lalu melihatmu dalam keadaan seperti itu. Aku minta maaf," jelas Permata menjabarkan.
Kenzie mendengus dan menyeringai. Beberapa saat kemudian ia pun beranjak lalu berjalan meninggalkan kamar Permata. Namun, sebelum mencapai pintu keluar suara halus gadis cantik itu menghentikan langkah.
"Seorang lelaki menangis bukan berarti dia lemah, tetapi dengan itu membuktikan jika dirinya kuat. Air mata tidak selalu melambangkan cengeng dan payah, tapi juga ketegaran."
Permata melihat punggung tegap Kenzie terdiam dengan kepalanya sedikit menoleh. Namun, ia tidak mengatakan apa pun sampai sosoknya menghilang dalam gelap.
Permata menghela napas dan meletakan kotak p3k di meja belajar. Netra nya memandangi tumpukan buku di sana.
Kedua tangan yang bertumpu di kursi perlahan meremasnya kuat. Tanpa ada kata yang terucap cairan bening menetes membasahi punggung tangan.
Ada luka tersemat yang tidak bisa ia katakan pada siapa pun. Hal itu tersembunyi apik dan menjadi rahasia tersendiri dalam kamus kehidupan Permata.
"Aku pandai merangkai kata-kata untuk orang lain, tetapi bagaimana dengan diriku sendiri? Masih adakah aku di sini? Apa aku benar-benar hidup dan menghirup udara yang sama dengan mereka?"
Malam itu kembali Permata melakukan hal sama seperti dua tahun lalu. Hanya ada keheningan yang menjadi saksi seperti apa buku kelam itu kembali terbuka. Dengan senyum yang hadir di wajah cantiknya, Permata merasakan hidup.