PERUBAHAN

1361 Words
Salju sudah berhenti turun dari semalam, benda putih nan dingin itu meleleh di jalanan membuat pengendara harus ekstra hati-hati menjalankan kendaraannya. Hari ini untuk pertama kali, Permata bertugas sebagai pelayan pribadi seorang Kenzie Pratama. Jam menunjukan pukul setengah tujuh pagi, sedari tadi Permata sudah membangunkan pangeran tampan tersebut berkali-kali. Kesabaran yang hanya setipis itu itu pun habis, induk kelinci tersebut berkacak pinggang seraya menghela napas kasar. Tanpa mengindahkan apa pun, kedua tangannya menarik paksa selimut yang membungkus tubuh tegap Kenzie. "Kenzie! Bangun! Waktunya pergi ke sekolah-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja ia ditarik kencang membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Seketika Permata jatuh tepat ke d**a pemuda yang masih berada dalam buaian mimpi. "Lima menit lagi, mah," oceh nya tanpa sadar. "Bangun Kenzie! Aku bukan ibumu!" Teriakan Permata kesekian kali akhirnya bisa membuka kelopak mata itu. Seketika aroma manis menyapa indera penciuman, Kenzie menatap ke depan melihat sosok cantik bertengger di dadanya. Dengan cepat ia menghempaskan nya begitu saja tanpa perasaan. Sontak permata merintih kesakitan, sambil memegang pinggang sebelah kanannya. Suara ringisan membuat Kenzie mengerutkan dahi dalam. "Aku tidak mendorongmu kuat," oceh nya membela diri. "Aku tahu, tapi tetap saja kekuatanmu tidak bisa dibandingkan denganku," balas Permata masih duduk di lantai, sembari bertatapan dengan lawan bicaranya. "Kamu mengejek atau memuji?" tanya Kenzie kemudian. "Keduanya, cepat mandi dan setelah itu sarapan. Aku sudah menyiapkannya jadi bergegaslah!" titah si manis seperti seorang ibu? istri? Yang tidak ingin dibantah. Dengan menguap lebar Kenzie beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi seraya menggaruk belakang kepala. Permata menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan pemuda itu yang tidak jauh dari seorang bocah. "Bagaimana bisa dia menjadi rebutan gadis-gadis? Jika mereka melihatnya seperti sekarang apa masih ingin berteriak untuknya? Aku rasa tidak," oceh Permata seraya memperhatikan pemuda tampan tersebut yang berjalan ke pintu kamar mandi. Sedetik kemudian dahinya mengerut kala menatap bercak merah di atas lantai. "Kenzie, luka terbuka lagi? Ya Tuhan." Dengan cepat Permata menariknya membuat Kenzie yang belum siap tersentak. Gadis manis itu mendudukkannya di tepi tempat tidur, lagi. Ia berjongkok di hadapannya dan membawa kaki kanan Kenzie ke dalam pangkuan untuk diperiksa. "Kenapa kamu membuka balutannya? Lihat! Lukanya cukup dalam dan kembali terbuka. Apa tidak sakit? Ini berdarah lagi," cerocos nya seraya membolak-balikkan kaki sang tuan muda. Kenzie terperangah tidak bisa mengatakan apa-apa dan terdiam begitu saja. "Lebih baik kamu mandi dulu nanti aku balut lagi lukanya." Tanpa membantah Kenzie mengangguk patuh. Perlahan ia berjalan menuju kamar mandi dan sesekali melirik ke belakang di mana Permata tengah membereskan tempat tidurnya. "Aneh, ada apa denganku?" batinnya, berkecamuk. *** Beberapa menit berlalu, Kenzie yang sudah selesai mandi keluar dan mendapati kamarnya bersih dan rapih. Seragam sekolah bahkan sudah tergantung di luar lemari, senyum kecut hadir menemani kesendirian. Setelah mengenakan seragam dan menata penampilannya, Kenzie turun menuju lantai satu. Di sana ia melihat beberapa pelayan seperti biasa berdiri di kedua sisi meja makan hendak menyambut kedatangannya. Seketika perhatian Kenzie tertuju pada sosok manis tengah menyunggingkan senyum hangat, seperti pelayan yang lain. Langkah tegap itu membawanya mendekati pelayan baru tersebut. Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain seolah tidak ada orang lain di sana. Sampai Kenzie berdiri tepat di depan Permata. Senyum meremehkan hadir sempurna dengan sorot mata tegas. Ia lalu menganggukkan kepala beberapa kali menatap wajah cantik Permata. Gadis berlandang di bawah mata itu pun hanya terdiam menyaksikan sang tuan muda. "Sarapannya sudah siap, Tuan. Saya sendiri yang memasaknya, silakan Tuan Muda duduk!" titah Permata kemudian. Kenzie melakukan perintahnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan. Bola mata cokelat beningnya mengikuti ke mana gadis cantik itu pergi. Dengan cekatan Permata melayani sang tuan muda seperti sudah terbiasa. Kedua tangan ramping itu mengambil nasi beserta lauk pauk untuk Kenzie. "Silakan, semoga rasanya selera Tuan Muda," ucap Permata dipungkas dengan senyum lembut. Kenzie yang sedari tadi mendongak menatapnya terperangah dan dengan kikuk menyuapkan makanan di depannya. Beberapa detik berlalu, pemuda dingin itu membatu merasakan sensasi yang menyeruak di dalam mulutnya. "Ke-kenapa rasanya mirip sekali? Di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa aku makan masakannya, yaitu masakan Mamah dan bibi itu. Sebenarnya siapa Permata ini? Apa mungkin dia anaknya bibi Mentari? Tunggu! Dari wajahnya saja mereka mirip, apa jangan-jangan? Eh tunggu sebentar! Bukankah kemarin dia bilang menggantikan ibunya bekerja di sini? Jadi dia-" Kenzie sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa menyadari jika Nafisha berkali-kali memanggil namanya. Ia lalu melambai-lambaikan tangan tepat di depan wajah tampannya. "Tuan, Tuan Muda, Tuan Muda Kenzie!" tegas Permata sedikit meninggikan suara. Kenzie tersentak lalu kembali menatap ke dalam manik di sampingnya. "Apa rasanya tidak enak?" tanya Permata mengembalikan kesadarannya. "Tidak." Hanya satu kata yang diberikan Kenzie. Permata kebingungan sambil menggaruk pangkal kepala kemudian mundur ke belakang membiarkan tuan muda itu menikmati sarapan. Namun, sebelum sampai pada posisi sebelumnya ucapan pemuda tampan tersebut menghentikan langkah. "Apa kamu sudah sarapan?" Permata mengangguk singkat seraya menjawab, "saya sudah sarapan tadi. Silakan Tuan Muda nikmati sarapannya." Kenzie tidak mengatakan apa pun lagi. Keheningan menemaninya, meskipun di kedua sisi terdapat beberapa pelayan yang berdiri, tapi hal tersebut tidak membuat kekosongan dalam d**a terisi. Banyak orang dalam mansion, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa melepaskan ia dari kesepian. "Tuan muda, biar saya balut lukanya dulu," kata Permata lagi yang kini sudah bersimpuh di samping kanannya. Kenzie harus berkali-kali terkejut dengan tindakannya. Dalam diam ia memperhatikan gerakan lembut gadis manis di bawahnya. Para pelayan yang menyaksikan adegan tersebut tersenyum tidak percaya. Tuan muda yang terkesan dingin dan tidak mudah disentuh bisa luluh oleh Permata. Mungkin karena mereka seumuran? Pikir mereka. "Sudah, tapi untuk sementara waktu Tuan Muda tidak bisa mengenakan sepatu terlebih dahulu. Gunakan sandal ini, akan membuatnya sedikit nyaman," lanjut Permata dengan mengulurkan sandal untuknya. Kenzie hanya mengangguk patuh tanpa satu kata pun terlontar. Entah kenapa ia merasa wajahnya memanas dan segera memalingkan tatapan. Tidak lama berselang sosok sang ibu tertangkap pandangan, kedua kaki jenjangnya melangkah pergi tanpa memperhatikan sekitar. Kenzie tersenyum masam sudah terbiasa dengan keadaan rumahnya. Diam-diam Permata memperhatikan, ada guratan kesedihan yang berhasil ditangkap. "Pasti berat baginya untuk menjadi sosok tegar di depan semua orang, eh tunggu! Kenapa aku bersimpati padanya? Bukankah dia sudah memperlakukanku seperti barang? Sadarlah Permata. Ah tidak-tidak ini sudah menjadi bagian pekerjaanku," monolognya dalam diam. Setelah selesai sarapan, Kenzie dan Permata bersiap untuk berangkat sekolah. Sesampainya di pekarangan tuan muda itu pun menghentikan langkah melihat sang ibu masih berada di sana. Senyum dari bibir merah merona nya melebar kala pandangan mereka saling bertubrukan. "Kenzie, mulai hari ini kamu harus pulang dan pergi bersama Permata. Karena dia sudah menjadi pelayan pribadimu, jadi biarkan Permata melayani mu di mana pun." Nyonya Winter pun menoleh pada gadis di samping putra semata wayangnya. "Permata saya titip Kenzie padamu." Permata hanya mengangguk sebagai jawaban. Ucapan itu kembali mengejutkan, Kenzie pikir sang ibu akan memberikan beberapa petuah sebelum dirinya berangkat sekolah, seperti "nak jangan lupa belajar yang rajin, dengarkan apa kata gurumu, jangan bermain terlalu malam, jangan bermain dengan sembarang orang, baik-baik lah dengan teman-temanmu" dan lain sebagainya. Namun, hal tersebut hanya angan-angan semata. Dari kecil sampai remaja hanya beberapa pelayan yang selalu setia mengikutinya ke mana pun ia pergi. Permata menoleh, melihat Kenzie mengepalkan tangan erat, ia tahu pasti tidak mudah bagi tuan muda menghadapi kehidupannya selama ini. "Baiklah, waktunya bekerja," batin Permata lagi dan melihat kepergian sang nyonya dengan mobil mewahnya. "Mari Tuan Muda kita harus segera berangkat ke sekolah," ajaknya lalu membuka pintu mobil untuk Kenzie. Tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya lagi pemuda itu langsung memasuki kendaraan roda empat tersebut disusul oleh Permata. Sepanjang perjalanan hanya ada suara mesin yang menemani. Dalam diam Permata memperhatikan Kenzie tengah menopang dagu seraya menatap keluar. Ia tahu suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Permata menyadari di balik topeng yang selalu acuh tak acuh itu tersimpan kerapuhan. Selama sebulan mereka bersama, Permata sedikit memahami karakter Kenzie. Di tambah dengan kejadian tadi malam, ia semakin menyadari jika tuan mudanya masih membutuhkan sosok kedua orang tua dalam hidupnya. "Harta memang tidak bisa menggantikan kasih sayang orang tua. Aku mengerti dengan air mata yang Kenzie keluarkan tadi malam, bagaimanapun keberadaan ayah dan ibu sangat berarti dalam perkembangan anak. Aku mengerti itu." Permata kembali membatin. Pagi itu langit sedikit cerah dengan sang raja siang menyembul di balik awan sendu mengiringi perjalanan kisah kedua remaja tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD