GADIS NAIF

1134 Words
Harapan akan selalu ada bagi mereka pengejar cita-cita. Asha menggantung setinggi langit berharap bisa digapai dengan perjuangan. Aroma musim dingin masih membayangi setiap langkah pejuang mimpi. Delusi menjadi penyemangat kala ambisi untuk mencapai kesuksesan terlihat di depan mata. Masih banyak yang harus diperjuangkan, entah itu untuk membuat orang tua bangga atau menguatkan diri sendiri, semua itu butuh waktu tidak mudah. Mobil mewah hitam berhenti tepat di depan gerbang masuk sekolah menengah atas di pusat kota. Banyak anak-anak dari kalangan atas berdatangan dan tidak sedikit menatap ke arah kendaraan tersebut. Mereka terkejut kala sang pangeran tiba bersama seorang upik abu yang hanya mengandalkan beasiswa di sekolah. Gumaman demi gumaman terdengar membuat Kenzie menghentikan langkah. Tatapan nyalang diberikan pada beberapa siswa dan siswi yang berkerumun di sana. Mereka tidak menyangka jika sang casanova datang bersama seseorang yang sangat jauh perbandingannya. "Kenzie." Panggilan seorang gadis membuatnya menoleh ke belakang. Lusi Qadira berlari kecil mendekati sang kekasih dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. Seketika kerutan kening pun muncul kala pandangannya menatap seseorang di belakang Kenzie. Ia tidak menyangka menyaksikan gadis lain di sana. "Kamu berangkat bersama Permata? Bukankah hubungan kalian sudah berakhir? Jangan bilang kalau-" "Nanti aku ceritakan," potong Kenzie cepat lalu melangkahkan kaki disusul Lusi. Permata yang berada di belakang mereka masih berdiam diri di tempat. Tatapan mengintimidasi dilayangkan para siswa yang masih berlalu lalang di sana. Ia sudah terbiasa dan hanya membiarkannya saja. Hanya satu objek menjadi pusat perhatiannya saat ini, yaitu punggung tegap Kenzie terus menjauh. "Apa aku sudah gila?" gumamnya pelan, tidak mengerti jalan pikirannya sendiri. Tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Semua siswa berlarian menuju kelas masing-masing menunggu guru untuk mengajar. Permata dan Kenzie berada di kelas yang sama membuat gosip baru dengan cepat tersebar luas. Banyak yang menyudutkan gadis manis itu, menyalahkannya dengan tuduhan tidak mendasar. Namun, lagi-lagi Permata hanya membiarkan saja sampai semuanya berlalu dan dilupakan. Mereka hanya bisa menggosip tanpa tahu kebenarannya. Ia cukup terbiasa akan hinaan dan tuduhan yang terus menerus datang padanya. "Selamat pagi, anak-anak. Silakan duduk di bangku masing-masing." Suara guru berperawakan tinggi dengan bahu lebar itu pun menyembul masuk. Senyum lembutnya dengan garis rahang tegas menjadi daya tarik. Dimas Mahendra, guru fisika menjadi favorit setiap gadis di kelasnya. Para siswi begitu senang menyaksikan sang guru dengan penampilan luar biasanya. Mereka bahkan tidak memikirkan betapa sulitnya pelajaran yang harus ditempuh. Karena semua itu terpatahkan oleh pesona pengajar di depannya. Jam pelajaran tengah berlangsung, Permata yang duduk di bangku kedua dari depan terlihat fokus mendengarkan penjelasan Guru Dimas. Sampai, tidak lama kemudian namanya dipanggil untuk memberikan jawaban di papan tulis. Ia terkejut dan langsung menyanggupi suruhan sang guru. Tangannya begitu lihai saat angka demi angka tertulis jelas pada layar besar tersebut. Tidak heran jika lengkungan bulan sabit mulai terbit di wajah tampan Guru Dimas. Pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut melipat tangan di depan d**a seraya mengangguk-anggukan kepala. Ia bangga terhadap murid berprestasi seperti Permata. "Kerja bagus, Permata," ucapnya kemudian memberikan dua jempol di wajah cantik itu. Permata hanya mengangguk samar lalu kembali berjalan menuju bangkunya berada. Dimas kembali menjelaskan jawaban yang diberikan salah satu siswinya. Dari bangku ketiga jajaran kedua sepasang mata elang sedari tadi terus memperhatikannya dalam diam. Ia mendengus sebal kala menyaksikan interaksi guru dan murid di depan kelas. Decihan pun terdengar samar keluar dari mulut menawannya. "Apa harus bereaksi malu-malu seperti itu? Sungguh menyebalkan," gumamnya. "Huh, apa yang kamu katakan Kenzie?" teman sebangkunya Ikbal menoleh cepat. "Tidak ada, bangunkan aku jika pelajaran guru tebar pesona itu selesai." Kenzie langsung menangkupkan wajah di lipatan tangan di atas meja. Ikbal hanya menggelengkan kepala sudah hapal dengan kelakuan sahabatnya satu ini. "Sebenarnya ada apa denganku?" batin Kenzie kemudian. *** Jam istirahat tengah berlangsung, semua murid bergegas menuju kantin mengisi perut yang sudah keroncongan. Di antara banyaknya para siswa, Kenzie dan Lusi yang sudah mendapatkan makanan mencari tempat duduk. Di tengah pencariannya ia seketika menghentikan langkah kala iris kecokelatan itu menangkap sosok manis di ujung sana. Gadis yang tengah menikmati makan siang seorang diri seraya memunggunginya menjadi pusat penglihatan. Ia tidak menyadari jika Kenzie memperhatikannya dalam diam. "Kenzie, ayo duduk di sini ada bangku kosong." Seketika ucapan Lusi mengejutkan, Kenzie tersadar dalam lamunan dan bergegas menuju kekasihnya berada. Tempat yang ia duduki masih memberikan akses baginya untuk memandangi gadis itu. Entah kenapa ada hal tidak biasa dalam dirinya, membuat ia bertanya-tanya. "Apa karena selama sebulan ini aku sering makan bersamanya, jadi seperti ini? Ah, apa yang kamu pikirkan Kenzie, Permata hanya gadis tidak penting," monolognya lagi. Permata, siswi berprestasi yang selalu mendapatkan peringkat satu di sekolah menikmati saat-saat terakhirnya seorang diri. Ia pikir di tahun ketiganya di sekolah menengah atas akan mendapatkan teman atau seseorang yang spesial, tetapi, nyatanya ia harus kembali menelan pil kesendirian. Kebiasaan itu kembali terulang, tapi sepertinya ada ruang kosong yang terasa berdenyut dalam d**a. Permata menyadari hal tersebut, jika selama satu bulan kebelakang ia sering menghabiskan waktu bersama Kenzie. Ketiadaan sosok itu membuatnya sedikit kesepian, terutama kala kenangan hari-hari telah lalu kembali terulang dan membuatnya tersenyum masam Ia harus mengenyahkan kenangan manis yang sudah dirinya dan Kenzie ciptakan bersama. Karena nyatanya pemuda itu sama sekali tidak pernah tulus dalam mencintainya. Namun, bagaimana dengan dirinya sendiri? Ia pun tidak tahu. "Kata tulus hanya bisa diucapkan secara lisan, bagaimana dengan hatiku? Aku hanya menghargai perasaannya saja. Aku pikir dia serius menyukaiku, ternyata hanya dusta semata, tapi kenapa rasanya tidak nyaman? Apa karena aku sudah terbiasa bersamanya jadi merasa kehilangan? Hei, Permata sadarlah kamu siapa dan dia siapa. Derajat kita tidaklah sama," racau Permata membatin. Kembali ia harus menelan obat pahit mengenai fakta tentang kehidupannya. Dunia fana ini memiliki aturan yang sudah ditentukan. Ada yang di atas dan di bawah, dan Permata salah satu kaum di bawah yang tidak mungkin merangkak untuk bersama kaum atas. Ia cukup sadar diri dan menyadari kekurangannya. Tanpa sadar ia menekan jari telunjuk menggunakan kuku ibu jarinya sendiri. Cukup kuat hingga menimbulkan bekas kemerahan. Hiruk pikuk keadaan di kantin membuat ia terdiam. Dalam keramaian Permata hanya seorang diri seperti parasit yang keberadaannya tidak diperhatikan. Ia Hanya mengikuti pada induk untuk memenuhi kebutuhannya. Permata sadar sosoknya yang berbeda membuat mereka enggan untuk menjadi temannya. Hanya karena ia dari kalangan bawah tidak ada satu pun murid yang mendekatinya. Ada pun itu disebabkan mereka hanya ingin mengambil keutungan darinya saja, mengerjakan pr misalnya atau memanfaatkan keberadaannya sebagai bahan taruhan, seperti yang dilakukan Kenzie. Namun, apa benar hubungan mereka selesai sampai di sana? Bagaimana perasaan yang mulai berkembang selama satu bulan ini? Bohong jika Permata tidak merasakan hal berbeda untuk Kenzie. Selama mereka bersama pemuda dingin tersebut sering memperlakukannya dengan sangat baik. Jadi, bukan salahnya kan jika hal itu terjadi? Permata berusaha menampik, tapi sepertinya ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. "Aku hanyalah gadis naif. Berkata benci di belakang, tapi nyatanya-" Hanya ia yang tahu seperti apa perasaan dalam d**a yang terus bergelora.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD