RUNYAM

1125 Words
Ilusi hanya sebaris kata kala mengandung makna pengharapan. Imajinasi bermain liar berharap keadaan berubah dengan kebaikan. Itulah hidup, kadang kala Tuhan memberikan ujian untuk memberikan kekuatan pada setiap hamba-Nya. Meskipun air mata membayang, tetapi akan ada senyum mengembang setelahnya. Senja yang semula menghiasi langit perlahan sirna dan berganti kegelapan. Udara dingin masih berhembus membekukan perasaan. Permata tengah berjalan di lorong rumah sakit kembali menjenguk sang ibu. Sebelum masuk ke dalam ia menghembuskan napas perlahan dan setelahnya menyunggingkan senyuman. Perlahan, tapi pasti pintu terbuka menampilkan sosok lemah tengah duduk di atas tempat tidur. Kepala bersurai hitam tipis itu menoleh dengan bibir pucat nya melengkung menyambut kedatangan sang putri. "Permata, kamu datang Nak?" Suara halus mengalun membangkitkan kurva melengkung dengan indah. Permata mengangguk lalu duduk di kursi samping ranjang. Tangannya terulur menggenggam jari jemari hangat sang ibu. "Bagaimana keadaan Mamah? Kenapa wajah Mamah semakin pucat?" Permata bertambah khawatir dan takut secara bersamaan. Mentari melepaskan satu tangannya lalu mengusap puncak kepala Permata penuh kasih sayang. "Mamah baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir. Bagaimana sekolahnya? Lancar? Ah juga bagaimana pekerjaanmu di mansion Pratama? Apa putranya menerimamu?" tanyanya beruntun. Permata mendongak melihat ke dalam sorot mata lemah di hadapannya. Ia semakin mengeratkan genggaman tangan mereka menyalurkan kehangatan di sana. "Semuanya baik, Mah. Bahkan nyonya besar mau membiayai biaya rumah sakit Mamah, kan? Dan juga putranya-" jeda sejenak Permata mengatur napasnya sendiri, "tuan muda adalah teman sekelas ku, Mah. Jadi, Mamah tidak usah khawatir," ujar Permata berpura-pura riang. "Mamah sudah mendengarnya, kemarin nyonya besar kemari dan mengatakannya." "Bukankah itu bagus? Tuan muda menjadi teman sekelas mu? Mamah harap kamu bisa berteman dengan dia. Meskipun tuan muda Kenzie terlihat dingin dan keras kepala, tapi sebenarnya dia anak kesepian. Tuan muda membutuhkan keberadaan seseorang untuk memperhatikannya, karena tuan dan nyonya besar terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Kamu bisa berteman dengannya kan?" tutur Mentari panjang lebar. Permata hanya mengangguk-anggukan kepala, mengerti. Mereka terus berbincang-bincang sampai Mentari tertidur lelap. Permata memberikan kecupan lembut di puncak kepala sang ibu, setelah itu pergi dari sana menuju suatu tempat. Jalanan terasa sepi, hanya ada beberapa orang yang berpapasan dengannya. Tidak jauh dari rumah sakit, Permata menuju apartemen sederhana tempat tinggalnya bersama ayah dan ibu. Situasi di sana sangat sepi, bangunan itu sudah jarang dihuni membuatnya tidak terurus dengan baik. Gang sempit di antara dua bangunan mengantarkan ia ke sebuah apartemen sederhana. Kegelapan menelan kesepian membuat Permata merapatkan jas sekolah. Satu demi satu anak tangga besi yang sudah berkarat ditapakinya. Delapan tahun sudah Permata menghabiskan waktunya di sana. Ia tumbuh sebagai remaja pintar dalam lingkungan biasa, jauh dari keramaian pusat kota. Suara pintu berderit mengejutkan seseorang yang tengah berbaring di atas sofa. Ruangan gelap hanya mengandalkan cahaya bulan itu membuat Permata terdiam di ambang pintu masuk. Aroma tidak enak bercampur alkohol menyapa indera penciuman. Ia tahu apa yang tengah terjadi di dalam dan seketika tubuhnya bergetar dan menegang. "Oh rupanya kamu ingat pulang?" Nada berat nan serak pria paruh baya menyambut kedatangannya. Tubuh ringkih itu perlahan bangkit dan berjalan mendekat. Permata tidak mempedulikannya dan berjalan cepat menuju kamarnya berada. Di sana ia bergegas memasukan barang-barang yang dibutuhkan. Bukan waktu yang tepat baginya untuk tinggal terlalu lama. Baru saja ia kembali keluar, tatapan nyalang dari sang ayah mengarah tepat padanya. Seringaian pun hadir membuat Permata mencengkram erat tas yang dibawanya sambil menatap ke arah Dimas. "Apa yang Ayah inginkan?" tanyanya langsung. "Apa lagi? Beri aku uang! Jangan harap kamu bisa membohongiku, nyonya besar itu sudah membiayai rumah sakit ibumu, dan dia pasti memberimu kompensasi besar bukan? Mana sekarang berikan pada Ayah." Dimas menengadahkan tangan kanannya di hadapan Permata. Gadis itu menggeleng sebagai tanda penolakan. "Dasar anak kurang ajar, kamu tidak mau memberikan uang pada ayahmu sendiri? Serahkan uangnya sekarang juga!" titahnya dengan suara meninggi. "Uang apa? Nyonya besar belum memberiku uang. Lebih baik Ayah pergi bekerja dari pada terus menghabiskan uang hanya untuk berjudi dan minum-minum," balas Permata menggebu-gebu. "Kamu berani melawan ayahmu sendiri? Dasar anak tidak tahu diuntung." Dengan kasar, Dimas membanting tubuh ramping Permata. Pekikan kesakitan lolos dari bibir kemerahannya hingga menimbulkan seringaian tajam di bibir bengis sang ayah. "Kamu merengek seperti anak kecil saja. Dasar anak tidak berguna. Dari kecil kamu hanya terus merepotkan dengan sakit-sakitan. Sekarang gantian, kamu harus membayar semua biaya yang sudah aku berikan." Dimas yang masih di bawah pengaruh alkohol semakin menjadi. Bola matanya bergulir melihat ke atas meja di mana beberapa botol minuman bertengger di sana. Tanpa rasa bersalah pria yang menjabat sebagai ayahnya itu melemparkan salah satu dari mereka hingga mengenai kepala sang putri. Seketika darah mulai menetes membasahi seragam putih Permata. "Ayah berhenti! Ayah sedang mabuk jangan seperti ini." Suara lemah Permata tidak membuat Dimas sadar dari pengaruh alkohol. Pukulan kembali dilayangkan membuat Permata harus berusaha bebas dari cengkraman nya. Sampai beberapa menit berselang akhirnya gadis manis itu pun keluar dari sangkar kejam. Napasnya tersengal-sengal setelah melarikan diri dari amukan sang ayah yang tidak mudah untuk dilewati. *** Air mata sudah kering dalam tangis kesendirian. Noda darah di seragamnya begitu kontras terlihat. Permata berusaha menutupi luka di tubuhnya menggunakan jaket pemberian sang ibu. Pelipisnya yang robek tidak bisa disembunyikan, membuat ia acuh tak acuh berjalan lunglai menuju Mansion Pratama. Rasanya ia tidak sanggup jika harus kembali ke sana dalam keadaan seperti itu. Namun, beberapa kali sang tuan muda menghubunginya tanpa henti. Mau tidak mau Permata harus melakukan tugasnya sebaik mungkin. Sebagai tanda terima kasih pada sang nyonya, juga untuk mendapatkan uang sebagai penyambung hidup. Suasana dalam mansion sudah sepi, beberapa pelayan telah kembali ke ruangannya untuk beristirahat. Jam menunjukan pukul setengah sebelas malam. Permata berjalan lunglai menuju kamarnya berada. Namun, sebelum ia menapaki anak tangga suara berat Kenzie dari arah belakang membuatnya membeku. "Dari mana saja? Kamu mau dipotong gaji? Karena tidak bekerja dengan baik?" ujarnya seraya melipat tangan di depan d**a. "Aku minta maaf. Aku tadi sudah menjenguk ibuku dan pulang ke rumah mengambil barang-barang," balas Permata lemah. Kenzie mengerutkan dahi dalam. Iris nya memindai penampilan gadis yang tengah memunggunginya dari atas kepala sampai ujung kaki. Ia lalu melangkah mendekati sosok manis itu hingga mereka pun saling berhadapan. Seketika netra nya melebar melihat penampilan Permata. "A-apa yang terjadi? Ke-kenapa kamu terluka seperti ini?" Kenzie sangat gugup dengan menankup kedua bahu Permata. "Aku terjatuh," jawabnya singkat. "Bohong, mana ada terjatuh sampai lebam di lehermu juga. Kemari!" Tanpa persetujuan si empunya Kenzie menarik Permata menuju kamarnya berada. Manik kecokelatan gadis manis itu menatap tangan yang melingkar erat di pergelangannya. Tanpa ekspresi Permata menyimpan berjuta kemelut dalam kehidupan yang terus berkeliaran tanpa jeda. "Apa aku pantas berada di samping orang ini?" benaknya seraya mendongak menatap punggung tegap Kenzie. Tanpa pemuda itu ketahui setetes air mata jatuh dalam netra bening Permata, mengiringi langkah kaki keduanya. Ada perasaan yang harus disembunyikan tidak boleh diungkapkan. Karena Permata merasa tidak pantas dan tidak mungkin untuk bersamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD