Kepala Jacky mengeluarkan darah, mengalir pelan di pelipisnya, sementara dia mengerang kesakitan dan memegangi luka itu dengan wajah menyeringai. "Aku... aku akan menuntutmu!" geram Jacky, suaranya serak, dipenuhi dendam dan ego yang terluka. Namun Molly tak gentar. Napasnya memburu, matanya sembab dan penuh luka. “Manusia sepertimu sama sekali tidak layak dicintai,” ucapnya dingin, tapi di balik ketegasan itu ada getar kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan. Dengan tangan gemetar dan penuh emosi, Molly meraih botol minuman di meja dan meneguknya dalam-dalam, seperti ingin menenggelamkan semua kecewa dan rasa hancur yang mendidih di dadanya. "Dalam beberapa tahun ini... aku mencintaimu sepenuh hati," batinnya lirih, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi semuanya hanyalah kebohongan... sama

