Molly duduk di ruang makan bersama Vincent. Tubuhnya kaku, wajahnya lesu dan pucat. Matanya kosong menatap hidangan lezat di atas meja, seolah tak berarti apa-apa. "Aku tidak selera," ucap Molly pelan, hampir seperti bisikan. Tatapannya tak berpaling dari piring di depannya. Vincent menegakkan tubuhnya. Sorot matanya tajam, penuh tekanan. Suara laki-laki itu dingin dan menakutkan, seperti cambuk yang mencambuk udara. "Jangan bermain denganku, makan... atau aku akan bertindak lebih jauh," kecamnya. "Bunuh saja aku kalau kau membenciku. Untuk apa menahanku di sini dan memaksaku makan?" katanya, nyaris menantang. Vincent mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, dan senyum sinis melintas sesaat di wajahnya. "Untuk menyiksamu," desisnya. "Kalau kau mati, itu terlalu mudah bagimu. Nyawa

