bagian 4

531 Words
Malam ini langit sungguh cerah, ribuan bintang Berkelap-kelip di atas langit, tidak lupa juga dengan sinar bulan yang melengkapi. Dikamar kedua pengantin baru. Setelah makan malam Attar dan Tia kembali ke kamar nya. Attar duduk di atas kasur dengan bersandar sambil mengotak-atik laptop. Sedangkan Tia duduk di sofa kamar tersebut, dia sedang berbalas chat dari sahabat satu-satunya, via. Saat ini jarum jam menunjuk angka 22, yang artinya sudah waktu nya tidur bagi Tia. Tia berlalu menuju kamar mandi untuk menggosok gigi. menggosok gigi adalah kebiasaan Tia sebelum tidur dan bangun tidur. Setelah keluar dari kamar mandi, Tia berjalan menuju ranjang, berniat untuk tidur di samping Attar duduk saat ini. Karena dia berpendapat bahwa Attar yang memindahkan nya ke kasur kemarin malam. Sehingga dia berfikir Attar mengizinkan nya untuk tidur bersama. "Ngapain kamu naik?" tanya Attar dengan dingin, saat melihat Tia naik ke ranjang nya. "Ingin tidur tuan" jawab Tia, sambil menunduk. "Siapa yang mengizinkan mu tidur di kasur ku?" ujar Attar sinis, tanpa melihat kearah Tia sedikit pun. Tia turun dari ranjang itu dengan pipi yang memerah, dia sangat malu saat ini, bisa-bisa nya dia ingin tidur dengan tuan rumah ini. Tia duduk di di sofa tempat nya tadi bermain HP, berniat untuk tidur di sana. "Lancang sekali kamu, ingin tidur di sofa mahal ku" ujar Attar lagi masih dengan nada yang sinis. "Maaf tuan, lalu saya tidur dimana?" tanya tia. "Tidur dilantai" suruh Attar tak berperasaan. Tia langsung mengambil bantal nya dan langsung berbaring di atas lantai marmer itu. Sungguh kejam tuan nya ini, tega sekali menyuruh nya tidur dilantai yang sangat dingin tanpa alas sedikit pun. Ingat kan Tia, jika dia sudah di jual kepada Attar untuk melunasi hutang keluarga nya. °°°°°°°°°°°°°° Pagi hari, Attar bangun lebih dahulu, dia tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan semalam. Membiarkan istri nya sendiri tidur di atas lantai yang pasti sangat dingin. Attar bangun, dia berjalan menuju Tia yang sedang menggigil kedinginan. "Gadis bodoh, kenapa dia mau-mau saja tidur dilantai yang dingin ini?" oceh Attar, saat menyentuh tangan Tia yang terasa sangat dingin. "Bangun" kata Attar, dengan suara serak, khas bangun tidur. "Dasar kebo" dumel nya, karena Tia tidak Terganggu sama sekali dengan ucapan attar. "Tia bangun" ucap Attar lebih kuat, sambil mencolek lengan Tia. "Eh, iya tuan" jawab Tia, setelah membuka mata nya. Dia kaget saat melihat Attar sudah berada tepat dihadapan nya. "Bangun, pindah ke kasur" ucap Attar dingin. "Ha" Tia hanya melongo, tidak mengerti apa yang dimaksud sang suami. Attar menarik Tia agar segera pindah, dan menyelimuti Tia dengan selimut tebal nya. "Kenapa kau tidur di lantai yang dingin itu?" tanya Attar sambil berdecak. "Tapi kan tuan yang menyuruh saya tidur dilantai" jawab Tia, Memberanikan diri menatap wajah tampan Attar. "Maksud ku, kamu tidur di tikar itu, kenapa kamu malah tidur dilantai yang dingin? Dasar gadis bodoh" hinanya di akhir kalimat. Tia hanya melongo mendengar Attar berbicara sepanjang ini, biasanya hanya berbicara sepatah atau dua patah kata kata saja. Lagi pula jelas-jelas Attar menyuruh nya tidur di lantai, kenapa malah dirinya yang disalah kan?. °°°°°°°°°°°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD