bagian 5

704 Words
Pagi ini sangat cerah, matahari tanpa malu-malu menyinari bumi. Terhitung pernikahan Attar dan Tia sudah berjalan dua minggu, dan semua nya berjalan dengan semestinya nya. Tapi ada yang berubah dengan Attar, dia jadi suka menyuruh-nyuruh Tia. Seperti menyiapkan kan pakaian, makanan dan lainnya. Seperti pagi ini, Attar kembali menyuruh Tia, "Tia pakai kan kaos kaki ku" suruh Attar, saat Tia baru keluar dari kamar mandi. Tia langsung berjalan menuju Attar berada, dan mulai memakai kan nya kaos kaki dengan hati yang dongkol, masa kaos kaki saja harus Tia yang pakai kan. "Pakai kan dasi ku" suruh Attar lagi. "Tapi... " ucap Tia "Tidak ada tapi-tapian, aku ini tuan mu" ucap Attar menyombong kan diri. "Baik lah" jawab Tia pasrah. Attar mengambil HP untuk mengalihkan perhatian, walau pun saat ini jantung nya berdetak sangat cepat. "Tuan kenapa telinga anda merah" tanya Tia, saat selesai memakai kan dasi. Attar langsung gelagapan dan menyentuh telinganya, "kepo" jawab Attar cuek. Dia langsung berdiri untuk ke meja makan, dia sungguh sangat malu saat Tia melihat telinganya yang merah. Dimeja makan ini sangat sunyi, hanya suara dentingan sendok yang terdengar, Attar masih malu soal tadi. "Aku berangkat" ucap Attar, setelah menghabiskan sarapan nya. "Iya tuan" jawab Tia, ikut berdiri. "Kau lanjut saja makan nya" suruhnya saat melihat Tia juga ikut berdiri. Attar langsung pergi menghampiri alan yang saat ini telah menunggunya di mobil. °°°°°°°°°°°° Mobil yang ditumpangi Attar telah sampai ke parkiran kantor, Attar berjalan lebih dahulu dan diikuti alan dari belakang. Ditengah perjalanan menuju lift, banyak karyawan yang menyapa sang atasan, tapi hanya diacuhkan oleh nya. Attar masuk ke lift khusus untuk petinggi perusahaan, sehingga saat ini hanya dia dan alan saja yang berada di lift tersebut. Tak menunggu lama saat ini mereka sudah sampai ke lantai 20, dimana ruangan Attar berada. "Selamat pagi, pak" sapa roy sekretaris Attar dengan langkah mengikuti sang bos sampai ruangan. "Apa saja jadwal ku hari ini?" Attar bertanya tanpa melihat roy sama sekali "Setengah jam lagi anda akan menghadiri rapat, dan siang ini anda bertemu dengan klien kita dari bali pak, dan setelah itu anda free" jelas roy, Attar hanya berdeham menanggapi nya. °°°°°°°°°°°°° Sore hari di rumah Attar, tia sedang duduk di pinggir kolam renang dengan menjuntai kan kaki nya kedalam air. "Attar" teriak seseorang dari pintu depan. Tia mencondongkan kepala nya saat mendengar seseorang memanggil nama Attar, seperti nya itu wanita. Tia langsung berdiri untuk melihat siapa yang datang, dan dia melihat seorang wanita cantik walau mungkin sudah berumur setengah abad. Wanita itu melihat Tia, dan langsung menghampiri nya "kamu pelayan baru?" tanya wanita itu menghampiri Tia, sebab sebulan yang lalu dia tidak melihat gadis ini. Tia hanya menggeleng kan kepala nya, "lalu kalau bukan pelayan, kamu jalang anak ku?" tanya tanya lagi. "Bukan" jawab Tia cepat, karena dia memang bukan seorang jalang. "Lalu?"tanya nya. "dia nyonya muda kami, nyonya" bukan Tia yang menjawab tapi sri. "WHAT" pekik wanita itu, dia tidak tau mau berkata apa lagi saat ini, tidak mungkin anak nya menikah tapi dia tidak tau. "Benarkah?" tanya nya lagi tak percaya. "Iya, benar nyonya. Nyonya Tia adalah istri tuan Attar" jelas sri. Saat sri mendapat laporan dari salah satu pelayan bahwa nyonya besar datang, dia langsung bergegas menemui nya. "Benar-benar Attar sialan itu, dia bahkan tidak memberi tau ku kalau aku sudah memiliki menantu" ocehnya, dia sangat geram saat ini pada anak sulungnya itu, melinda sudah lama menantikan menantu tapi anak nya malah menikah diam-diam. "Sri, suruh bocah sialan itu pulang sekarang, tangan ku sudah gatal ingin menjambak rambut nya" suruhnya pada sri, sambil meremas tangan membayang kan kalau itu adalah anak nya. "Baik nyonya" jawab sri, dan langsung melaksanakan perintah tersebut. "Jadi kamu adalah menantu ku?" tanya melinda pada Tia. "i-i-iya nyonya" jawab Tia sambil menunduk. "Hey, jangan panggil aku nyonya, aku adalah ibu Attar, suami mu, jadi panggil aku mami" terang melinda dengan lembut. "Iya, mami" jawab Tia sedikit takut. "Eh ayo kita duduk dulu, sambil menunggu anak yang tak tau diri itu" ajak melinda, dan Tia hanya menurut saja. °°°°°°°°°°°°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD