Sore hari di perusahaan, alan sedang mengerjakan tugas yang di berikan oleh atasan nya, tuan Attar.
Ruang alan dengan Attar hanya di batasi dinding kaca, sehingga mereka bisa melihat aktifitas masing-masing, dan juga memudahkan Attar saat ingin memanggil alan.
Drttttt
Drtttt
Drtttt
Alan langsung mengangkat telepon nya yang berbunyi, terpampang dilayar ponsel nama sri yang tercantum.
"Ya, ada apa sri?" tanya alan.
"Ini tuan, nyonya besar datang dan meminta tuan Attar supaya pulang" jawab sri dari sebrang sana.
"Ah ya baik lah" ujar alan, lalu menutup telepon nya, dan langsung beranjak menuju meja kerja sang bos.
"Tuan, nyonya besar sudah pulang, dan saat ini beliau ada di kediaman anda, dan meminta anda untuk pulang segera" kata Attar menjelaskan kan.
"Apa, mami di rumah? Semoga dia tidak bertemu dengan Tia" gumam Attar diakhir kalimat nya.
Attar langsung berjalan keluar dari ruangan nya, dia harus cepat sampai di rumah.
"alan kau disini saja" perintah nya pada alan, sebelum benar-benar pergi.
Attar sampai di mobil dan mengendarai nya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia sungguh cemas saat ini, kalau sampai mami nya tau dia sudah menikah bisa diomeli dia.
Tak sampai 15 Attar sudah tiba di rumah nya, dan memarkirkan mobil dengan asalan, biar lah nanti sopir yang memarkirkan nya.
Dia dengan cepat berjalan masuk ke rumah, dan yang pertama kali dia lihat adalah mami nya sedang cipika-cipiki dengan Tia.
Mendengar ada yang datang melinda dan Tia langsung mengalihkan pandangan nya, dan mereka lihat Attar datang dengan nafas ngos-ngosan sambil melihat ke arah mereka.
"Anak tidak tau diri, berani sekali kamu menikah tanpa sepengetahuan ku? apa kamu tidak menganggap ku ibu mu lagi, ha? Bisa-bisa nya kamu menikah tampa memberitahuku sedikit pun, kau ini menganggap ku apa? jawab Attar?" Marah melinda pada pria itu saat attar sudah berada di hadapan nya.
"Mi, bukan begitu" jawab Attar, ingin menggapai tangan ibu nya, tapi melinda dengan cepat menepis nya.
"Bukan begitu, lalu bagaimana? Jelas-jelas kamu menikah dan aku tidak tau" ujar melinda lagi.
"Aku bisa menjelaskan semua nya"
"Apa yang akan kamu jelas kan, kamu ingin mengatakan bahwa kamu tidak membutuhkan ku lagi? Kamu sudah bisa hidup sendiri? Biar bagaimana pun aku ini ibu mu Attar, aku yang melahirkan mu" kata melinda dengan air mata yang mengalir. Dia sudah lama menginginkan seorang menantu dan sekarang terwujud, tapi dia tidak ikut menyaksikan pernikahan anak nya sendiri. Dia sungguh sangat kecewa saat ini pada Attar, putra sulung nya.
Ini yang Attar takut kan, ibunya mengetahui semua nya. Dan ibunya menangis karenanya, dari dulu Attar selalu menjaga supaya sang ibu tidak menangis karena kelakuan nya, dan sekarang sang ibu kecewa pada dirinya.
Attar langsung terduduk lemas melihat sang ibu yang menangis, dia memegang kaki ibunya, untuk meminta maaf.
"Mi, maafin Attar mi, maaf" ucap Attar ikut menangis melihat ibu nya menangis.
Tia yang menyaksikan nya hanya diam tidak tau harus melakukan apa, dia merasa iba pada Attar yang saat ini terduduk lemas di bawah kaki sang ibu. Tia tak menyangka kalau Attar sangat menyayangi ibu nya, dan dia kagum akan itu.
"Berdiri" ucap melinda pada Attar dia tidak tahan melihat anak nya seperti ini.
"Tia, pergi ke kamar" suruh Attar pada Tia. Tia langsung pergi sesuai permintaan sang suami, dia tidak mau menggangu ibu dan anak ini.
"Jelas kan pada mami" suara melinda melunak dan menghapus air matanya.
"Jadi, Tia itu anak dari rekan kerja ku, dia memiliki hutang pada ku dan sebagai gantinya dia memberikan anak gadis nya kepada ku" jelas Attar.
"Jadi maksud mu, Tia itu dijual kepada mu? Begitu?" tanya melinda kaget, dia tidak menyangka ada orang tua yang rela menjual anak nya demi melunasi hutangnya.
"Ya, begitu lah" jawab Attar.
Walau dijelaskan secara singkat tapi melinda dengan cepat bisa menangkap akar permasalahan yang terjadi sehingga gadis manis itu berakhir jadi istri dari anaknya yang mendiam ini
°°°°°°°°°