Axel baru kembali dari kantor polisi setelah berbincang dengan Sakurai dari tadi siang sampai jam setengah tiga sore. Dia berjalan menuju ruangannya, tapi berhenti saat mendengar seruan kencang dari sebelah kanan, lorong yang mengarah ke ruang peralatan.
Maniknya mengerjap. “Di sana terdengar ramai sekali ....”
Ruang peralatan kosong, kegaduhan berasal dari ruang latihan yang ada di luar belakang ruangan peralatan. Dia mendapati kimono hitam corak bambu seragam Magine dan jaket model atasan hanbok milih Chiyo.
Axel melirik ke dalam dari tengah dua perempuan itu, mendapati Kazan yang sedang mengikat Hiroto dengan rantai sihir koto yang ada di bawah kaki laki-laki bersurai hitam itu. Mulutnya menganga, langsung masuk ke ruang latihan. “Stop, stop, stop!”
Hiroto menoleh, menunjukkan ekspresi sakitnya menahan tarikan rantai di bawah. “Axel-sama ....”
“Kazan, hentikan!” Pria itu melirik ke Akio dan Yugi. “Kenapa kalian tidak menghentikannya?”
“Kami sudah mencoba dan Kazan tiba-tiba memulai,” kata Akio yang kembali berseragam lengkap dengan jubahnya.
“Yugi,” tukas Axel.
Si pria pirang itu tersenyum tipis. “Maa, biarkan saja, Axel-sama. Mereka masih anak-anak, sudah begitu laki-laki, wajar untuk bertengkar.”
“Tapi—“
“Tentu aku akan menghentikannya kalau salah satu dari mereka sudah kelewatan. Untuk sekarang, kita lihat saja dulu.”
Karena perlawanan Hiroto, sihir rantai besi koto pecah dan hilang. Belum sempat Hiroto menyeimbangkan tubuh yang oleng, serangan berupa angin berbentuk panah datang dari kanan dan kiri sekaligus, berbelok seperti pesawat kertas ke arahnya. Laki-laki itu bisa terluka lagi kalau tidak segera melompat mundur.
Dia punya cakar, dia punya shigo, tapi dia tidak melawanku. Yang dia lakukan sejak tadi hanya menghindar dan melepaskan diri! Dia tidak serius karena dia menganggapku lemah! Batin Kazan.
Serangan panah angin yang meleset mengenai tembok, menciptakan kepulan asap dan pasir, menyembunyikan sosok Hiroto yang melarikan diri. Walaupun begitu, Kazan tidak berhenti. Dia mengirim banyak panah angin ke kepulan bertubi-tubi sampai temboknya hancur dan tercipta lubang besar.
Manik violet Kazan melirik sekitar, mencoba menangkap warna jaket hitam Hiroto dibalik kepulan yang semakin tebal dan membuat batuk. Sembunyi di mana dia?
Dalam kepulan, tiba-tiba Hiroto melompat dari lantai ke tembok, melesat ke Kazan dengan cepat. Namun, laki-laki itu tak bisa berhenti di udara, jadi dia menabrak Kazan dan mereka berdua jatuh ke lantai.
“Apa yang kau lakukan, hah?” ketus Kazan menjambak belakang kepala remaja di atasnya, memaksanya untuk segera menyingkir.
Hiroto kesakitan, membalas menarik kerah remaja bersurai ungu di bawahnya, lalu menaruh telapak di wajah Kazan.
“Awas!”
“Lepaskan dulu tanganmu!” bentak Hiroto.
Kazan mendorong Hiroto, mereka berguling ke samping, bertukar posisi. Kini tangan remaja bersurai ungu itu mencekik laki-laki di bawahnya.
Axel dan Yugi langsung berlari mendekat, memisahkan mereka.
“Kazan, sudah!” seru Yugi yang menahan Kazan dari belakang dan menariknya mundur.
Axel mengecek keadaan Hiroto yang terbatuk-batuk karena cekikan.
“Lepas, Yugi-san!” bentak Kazan yang masih melawan.
“Aku sudah kalah darimu, Kazan,” lontar Hiroto sambil memegangi lehernya. “Aku tak bisa melawanmu.”
Kazan melotot. “Kau ... k*****t!”
“Zan, bahasamu!” tegur Axel.
“Kau bisa menang dariku! Kalau kau memakai shigo, kau langsung menang dariku! Kalau kau melukaiku dengan cakar itu, kau bisa menang dariku! Tapi sejak tadi, kau tidak melakukannya! Kau tak menganggapku sebagai lawan yang setara!!” bentak Kazan.
Hiroto membulatkan mata, kemudian terlihat kesal. “Kenapa kau ingin aku menganggapmu sebagai lawan?”
Kazan mendengus kesal. “Kau, kan, iblis, Hiroto.”
“Sudah cukup!” Axel menampar Kazan. Hiroto, Yugi dan yang lain membelalak melihatnya—berhubung pria itu tidak pernah berbuat demikian ke siapa pun. “Dinginkan kepalamu. Pola pikirmu barusan tak ada bedanya dengan iblis.”
***
Langit senja muncul seperti hari biasa dengan warna jingga, pink dan ungu yang bergradasi di atas gumpalan awan mendung. Kazan menatapnya dari bilik lantai dua yang pintunya dia geser dan dia duduk bersila di beranda kecil itu.
Langkah kaki terdengar, Kazan melihat Hiroto di sana dengan jaket hitam miliknya yang kebesaran. Manik violetnya menatap jengkel. “Apa? kau mau aku meminta maaf?” tukasnya.
“Tidak ....” Hiroto menatap ngeri, takut Kazan menyerangnya secara tiba-tiba seperti tadi siang.
“Terus apa?”
“Aku tidak mengerti kenapa kau terus ingin melawanku, jadi aku kemari untuk bertanya alasannya.”
Kazan kembali menatap ke depan, menopang dagu, teringat lagi soal ucapan Axel yang bilang dia bisa jadi pemburu hebat. Bukan berarti aku cemburu! Aku hanya kesal. Ya. Hanya kesal.
“Aku tidak ingin jadi lawanmu.”
Remaja bermanik violet itu terdiam. Ya, karena kau kasihan padaku.
“Jujur saja, dulu aku juga kesal padamu. Saat itu kupikir karena pengaruh Enma, tapi bukan.” Hiroto terus menatap punggung Kazan. “Aku merasa iri, melihatmu yang sudah jadi pemburu di saat aku masih tak memiliki keputusan soal apa yang ingin kulakukan nanti setelah lulus. Kakakku juga selalu ingin jadi pemburu, padahal dia tak bisa melihat iblis. Aku rasa dia akan sangat iri juga padamu begitu sudah sadar nanti.”
Hiroto terdiam. Duh, kenapa aku segala menceritakan soal Aniki? Situasinya jadi semakin awkward! Batinnya menyesal.
“M-maaf aku malah mengoceh tidak jelas. Intinya, aku tidak ingin kita berkelahi lagi. Axel-sama juga menceramahiku panjang lebar tadi. Aku tidak mau diceramahi lagi,” katanya yang kemudian pergi.
Kazan menatap ambang pintu bilik yang sudah kosong. Mendengarnya entah kenapa membuat sesuatu yang sejak tadi terasa berat dan sesak menjadi hilang dari dalam laki-laki itu. Dia menghela napas berat. “Iri padaku? Dasar iblis,” gumamnya.
Di saat yang sama di tempat lain, Moriyama yang baru pulang setelah ikut serta dalam acara pemakaman bosnya kini berjalan santai di gang kecil gelap di antara dua bangunan tinggi. Berbagi kemampuan dengan Majin membuatnya bisa bertelepati dengan iblis itu. Kini dia sedang mengarah ke tempatnya berada.
Laki-laki bersurai emo itu berhenti, segera melirik ke belakang, mendapati gang sepi dan kosong. Dia kembali berjalan setelah yakin kalau tak ada yang mengikutinya.
Setelah Moriyama bergerak cukup jauh, satu dari dua orang yang ada di celah sempit antar bangunan berjalan maju perlahan dengan pistol di tangan. Mereka adalah bawahan Sakurai.
Petugas polisi yang sudah keluar dari celah mulai melangkah pergi. Namun, tak lama terdengar suara pekikan singkat dan suara benda jatuh ke tanah. Rekannya yang masih bersembunyi membelalak, mengeluarkan pistol dari tangan, menerka apa yang terjadi di sana.
Setelah dia merasa cukup aman untuk keluar, dia bergerak keluar celah, mendapati area gang kosong dan rekannya yang pergi pertama menghilang. Petugas polisi dengan topi itu terdiam mendapati dua tetes darah di tanah yang belum menyerap. Dapat disimpulkan kalau rekannya barusan diserang dan dibawa pergi dalam waktu singkat. Dia segera menepon Sakurai dan melaporkan apa yang terjadi.
Sementara itu, Moriyama yang sudah sampai di hutan tempat Majin bersembunyi kembali mengaplikasikan shigo ke petugas polisi yang dia tangkap. “Bergerak.”
Pak polisi yang seingatnya masih di gang dan tertusuk kawat besi langsung kaget mendapati dirinya sudah berada di tempat yang berbeda dan cukup jauh pula. Dia tak bisa bergerak karena ada beberapa kawat lain yang melayang di sekitar, mengarah padanya.
“Pergerakanku di awasi, jadi aku tak bisa mengumpulkan banyak manusia untuk sementara waktu,” ucapnya ke atas, entah ke siapa karena si petugas polisi tak bisa melihat Majin.
“Tidak apa. Aku sudah cukup kuat untuk mencari makanan sendiri. Kau sudah cukup berjasa untukku,” kata Majin yang mengulurkan lengannya ke petugas polisi. Pria itu kaget saat mulutnya dibuka paksa oleh sesuatu yang tak terlihat. Lalu saat lengan iblis perlahan masuk ke tenggorokan petugas itu, dia merasa lehernya mati rasa, nadinya berhenti berfungsi. Matanya berotasi ke atas seiring badannya membiru dengan cepat dan tewas di tempat.
“Gagal lagi, ya,” kata Moriyama. “Sebenarnya apa yang ingin kau coba?”
“Ada salah satu iblis yang berhasil masuk ke tubuh manusia dan mengendalikannya hidup-hidup. Aku ingin menjadi seperti itu dan membalas pengkhianatannya dulu padaku.”
“Manusianya masih hidup?” Moriyama mendelik heran. “Sepertinya mustahil.”
Majin menatap pria muda itu dengan garang. “Mustahil?”
“Mungkin caranya bukan lewat sentuhan, tapi lewat cara yang kau lakukan padaku kemarin. Soal berbagi kemampuan.”
Majin terdiam, masih tidak mengerti karena dia cuma tau hanya ada kontrak ‘Pertukaran’. “Nanti aku akan cari lagi manusia kalau kau memberiku kemampuan lain yang lebih efisien,” pancing Moriyama dengan senyum liciknya.
Majin menurut, kembali memberikan kemampuan baru ke pria muda itu. Simbol angka romawi di tengkuknya bertambah menjadi tiga garis. “Kini kau bisa mengendalikan pikiran manusia lain.”
“Sungguh?” Pria itu melebarkan senyum jahatnya. “Aku akan mencobanya nanti sekalian menggiringnya kepadamu.”