•Excuse You•

1422 Words
Di senin pagi, tiga petugas polisi—bawahan Sakurai—berkeliling menanyai informasi soal bangunan yang ditempati iblis semalam ke warga sekitar Minami-Enokicho. Salah satu petugas mendekati seorang pria muda dengan surai Hazel model rambut Emo. “Permisi sebentar. Saya dari pihak kepolisian,” kata pria itu sembali menunjukkan kartu identitas yang dia kalungi. “Apa belakangan ini Anda melihat pemilik bangunan kosong di ujung jalan itu?” “Aah, bangunan lantai dua itu? Maaf, saya kurang tau. Berhubung saya tidak tinggal di sekitar sini ....” “Maaf menggangu kalau begitu.” Pria muda itu lanjut berjalan dengan tas di punggung menuju ke rumah orang tuanya yang tak jauh dari area bangunan tadi. “Aku pulaaang!” serunya riang sambil membuka pintu. Dia terdiam mendapati adik laki-lakinya—Masao—sedang memakai sepatu. Masao membulatkan mata. “Loh, Mori-nii? Hari ini hari senin bukannya kau sedang bekerja?” “Umm, sebenarnya ada masalah di perusahaanku sekarang, jadi kantor diliburkan.” “Masalah?” Sang ibu keluar dari pintu sebelah kanan yang letaknya dekat dengan lorong pintu masuk. Dia ikut menatap kaget putra pertamanya, tapi kemudian menatap laki-laki itu senang. “Okaeri, Moriyama,” ujarnya sambil menghampiri. “Aku pulang, Ibu.” “Masuk, masuk. Lelah kan, rasanya berjalan dari kos-kosanmu sampai sini? Sudah kubilang untuk pakai saja motor Ayah sampai kau bisa membeli transportasi sendiri.” “Ibu, aku berangkat,” seru Masao yang selesai memakai sepatu, lalu beranjak pergi. “Hati-hati, Masao!” Sang Ibu menanyai masalah apa di kantor kakak Masao itu. “Bos kami hilang, Bu.” Wanita paruh baya yang sedang mencuci piring itu mematikan keran, membalik badan dengan raut kaget. “Menghilang?” Moriyama mengangguk. “Dari hari Jumat sudah tidak datang ke kantor. Sekertarisnya juga bilang kalau istri Pak Bos tak melihat suaminya dari malam. Padahal kemarin sore, jelas kalau dia sudah pulang ke rumah.” Ibu menatap putranya khawatir. “Ya ampun, kasihan sekali. Lalu bagaimana dengan gajimu? Tiga hari lagi kau gajian bulanan.” “Kalau itu sudah disiapkan oleh wakil Pak Bos dari seminggu kemarin. Pokoknya, kami akan ikut mencari juga nanti, sampai Pak Bos ketemu.” “Ya ampun. Ibu pernah menonton berita soal Bos yang dibunuh oleh anak buahnya sendiri dulu. Aku harap nasibnya tidak berakhir begitu juga.” Pria muda itu tersenyum tipis begitu ototnya sempat menegang karena ucapan si Ibu. “Aku juga, Bu. Semoga dia baik-baik saja.” Siangnya, berita soal korban kultus muncul di televisi. Daftar korban ditayangkan dengan jelas dan para keluarga diminta segera datang ke rumah sakit yang tertera untuk mengklaim jasad tersebut. Pihak berita yang mewawancarai warga sekitar bertanya soal pendapat mereka tentang kejadian itu. “Ini sudah keterlaluan. Kultus itu harus dibasmi sampai ke akar-akarnya.” “Aku yakin salah seorang dari insiden lima Mei itu lah yang kembali membuat keonaran beberapa hari terakhir ini. Seperti malam rabu kemarin.” “Aku tidak mengerti kenapa mereka memuja pembunuh. Ya, iblis itu pembunuh.” Kazan menonton siaran itu dari televisi yang digantung di dekat kantor administrasi markas. “Empat puluh lebih korban selama seminggu. Benar-benar tragis,” gumam Nobu-san. Laki-laki bersurai keunguan itu mendadak menendak tripleks pembatas meja kantor di dekan Nobu-san, membuat pria berkacamata itu melompat dari kursi. “K-kazan-kun?” “Cih!” decaknya yang kemudian pergi dari kantor. Pria itu membetulkan tempat kacamatanya. “Kazan-kun kok terlihat lebih garang dari biasanya?” gumamnya ke karyawan lain. “Pasti Axel-sama meledekinya lagi. Biasa, mereka kan begitu.” Kalau semalam aku di sana, aku pasti bisa membantu Akio-san dan berhasil menangkap iblis itu. Namun, dia melarangku pergi padahal aku baik-baik saja! Dumal laki-laki itu dalam hati. Dia yang hendak ke ruang latihan, melewati ruang inap, melihat Hiroto masih terlelap di sana. Tangannya terkepal, matanya menatap dingin laki-laki bersurai hitam itu, mengingat ucapan Axel yang berharap Hiroto bisa menjadi pemburu dengan kemampuan iblis. “Kau ingin merebut posisiku di sini? Coba saja, Hiroto. Coba saja.” *** Akibara Guild memiliki tiga belas cabang di kota-kota besar dan berpusat di markas Tokyo. Satu markas memiliki lima sampai delapan pemburu di dalamnya dengan satu wakil kepala guild yang memimpin cabang. Para Pemburu pulang dari pagi dan bebas datang jam berapa pun sebelum jam lima sore.     Akio datang jam dua siang ke markas dari apartemennya yang berlokasi cukup dekat dari markas. Setelah mengabsen di kantor administrasi, dia langsung pergi ke ruang latihan yang ada di luar belakang bangunan tradisional markas. Dia melihat Kazan yang sedang mengangkat beban tubuhnya sendiri dengan palang besi sampai remaja itu tak menapak. Akio mengingat dirinya yang kesusahan mengangkat diri sendiri di birai besi semalam. Melintar pikiran tuk ikut membentuk otot, tapi kemudian dia tertawa. “Nanti tenagaku bakal langsung habis dan tidak bisa berburu malamnya,” tuturnya sambil hendak berlalu. “Akio-kun,” panggil Yugi yang datang dari arah berlawanan. “Selamat siang,” sapa laki-laki yang memakai jubah hijau gelap itu yang kemudian lanjut melangkah pergi. Yugi yang jahil menarih jubahnya, membuat Akio agak tercekik. “O-oh, maaf. Tadi kau hendak masuk, kenapa tidak masuk saja?” “Aku akan menunggu sore di ruang inap saja.” “Sambil bermain game di ponsel?” Akio mendelik jengkel sambil menarik jubahnya dari pria pirang kurang kerjaan itu. “Memangnya kenapa?” “Tidak apa-apa. Aku hanya heran kenapa bisa kau kalah melawan pemuja iblis yang bisa menggunakan shigo juga,” tutur Yugi sambil tersenyum. “Apa shigo nya lebih kuat darimu?” Laki-laki bersurai hitam itu tersenyum sarkas menahan gejolak emosi yang mulai tumbuh. “Tidak. Namun dia nyaris membunuhku dengan kawat besi jadi aku lompat dari lantai dua dan tak sempat menangkapnya.” “Hee, begitu.” Mendadak pria bersurai pirang itu menarih tangan Akio. “Kalau begitu, ayo kita latihan.” “Ha?” tukas Akio. “Kau terlalu kurus untuk ukuran pemburu, Akio-kun. Fisik yang kuat akan mempermudah pergerakan, lalu pekerjaanmu bakal lebih efisien. Bukan begitu?” Ya, aku tau punya otot bakal mempermudah pergerakanku, tapi aku tidak suka bergerak dengan badan yang terasa nyeri! Batin Akio. “Chiyo saja lebih lincah darimu. Masa kau kalah dari perempuan.” Yugi berhasil membuat Akio kesal dengan membandingkan dirinya dengan Chiyo—pemburu yang dia anggap paling lemah di markas. “HAAA? FUZAKERUNA (Jangan bercanda)! Dia tidak bisa apa-apa.” “Dia yang melawan Enma saat kau pingsan dan Magine-chan nyaris tewas. Aku dengar sendiri dari Magine. Itukah yang namanya tidak bisa apa-apa?” Yugi mendorong pelan laki-laki itu ke alat angkat beban dengan tempat berbaring. “Tenang saja. Aku akan membantu. Aku senang kalau ada teman kerjaku yang ingin naik level ke versi yang lebih baik.” Akio mengerut malu begitu sadar kalau Yugi tau dirinya yang diam-diam ingin melatih badan, tetapi sebagian dirinya setuju dengan celaan pria pirang itu tadi. “O-onegaishimasu.” Tak lama, Hiroto yang bosan mengunjungi ruang latihan, terbengong melihat tiga laki-laki sedang melatih otot mereka di sana. Kazan berlari di atas treadmill tanpa menggunakan baju atas. Akio dengan kaosnya terlihat kesakitan mengangkat barbel dua kilo di tangan kiri sambil duduk, sementara Yugi yang juga bertelanjang d**a sedang mengangkat diri di palang besi. Yugi berhenti melihat Hiroto yang mengintip dari balik ambang pintu besi ruang latihan. Dia turun, mengusap keringatnya dengan lengan. “Hiro-kun, sini,” panggilnya. “E-eh?” “Sini.” Akio dan Kazan menatap Hiroto seperti musuh ketika dia berjalan masuk ke area gym di ruang latihan. “Mau ikutan?” “Ikutan ... ini?” kata laki-laki itu menunjuk barbel berat di lantai. “Ya.” Yugi kembali jahil, menarik jaket anak itu sampai lepas. “Risau juga melihat Hiroto-kun yang kurus kerempeng ....” Pria itu terdiam melihat otot Hiroto yang bisa dibilang cukup kekar untuk anak yang tak pernah berlatih sepertinya. “Aku salah bilang kalau kau kurus kerempeng,” gumam Yugi dengan nada datar. Hiroto memeluk dirinya sendiri dengan wajah mengerut malu. “I-ini karena Enma ....” “Aaah, pantas kau bisa membentuk otot sampai seperti itu. Ada orang dalam ternyata.” “T-tapi, aku tidak sekuat Yugi-san, Akio-san atau Kazan. Aku pasti bakal langsung kalah kalau berhadapan dengan kalian.” “Kalau menurutku, kau bakal menang adu panco sama Akio.” Akio membalas dengan ketus—masih mengerang sakit di otot lengan yang sedang mengangkat barbel—, “Tidak usah bawa-bawa aku.” Kazan yang jengkel mendengar itu kemudian melompat turun dari treadmill. “Kalau begitu bagaimana kalau kita duel lagi? Kali ini yang serius.” Laki-laki bersurai keunguan itu menatap sinis. “Jangan berhenti melawan.” “Tenang, Zan,” tegur Yugi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD