•Pull A Blinder•

1364 Words
Menjelang penghujung petang, Hiroto melihat Akio, Magine dan Axel yang berjalan menuju pintu utama. Penasaran, remaja itu mendekati Yugi. “Yugi-san, Axel-sama dan yang lain hendak pergi ke mana?” “Sakurai-san meminta mereka untuk bekerja sama meringkus kultus pemuja iblis.” Hiroto mengangguk-angguk. “Loh, biasanya Kazan selalu mengikuti Axel-sama ....” “Anak itu dilarang ikut sama bos. Kau lihat sendiri tadi, emosinya sedang tidak stabil.” Remaja itu teringat kembali soal tadi pagi. “Di mana dia sekarang?” Yugi terdiam sejenak. “Aku tau kau bermaksud baik, tapi tolong jangan dekati dia dulu. Selagi Axel-sama pergi, aku tak ingin Enma terpancing keluar karena pertengkaranmu dengan Kazan. Sampai di mobil Sakurai, Axel disodori map plastik. “Ini daftar lokasi-lokasi yang aku curigai.” Di dalam map ada tiga foto bangunan dengan kondisi yang beragam, diselip ke lembar kertas berisi informasi detail soal bangunan itu. “Di Yamabukicho, di sebelah San TARO ramen. Ini yang paling jauh,” ucap Axel sembari membaca. “Ramen di sana enak, sayang sekali tak dekat dengan kantorku,” kata Sakurai. “Kalau aku jadi kau, aku bakal pergi setiap hari, tak peduli jaraknya.” “Maksudku, kalau dekat kan jadi tak perlu menghadapi jalan macet di jam istirahat.” Akio dengan raut malasnya membatin, Kenapa mereka malah membahas ramen? Cepat ke lokasi biar aku bisa cepat pulang. “Biar efisien, bagaimana kalau kalian berpencar?” ujar wanita berlipstik merah itu. “Aku, sih tidak masalah ...,” tutur Axel ragu sembari menatap kedua pemburunya. “Aku juga tidak masalah dengan itu. Lebih efisien,” kata Akio. “Saya juga,” timpal Magine. “Kalau ada apa-apa langsung melapor, oke? Jangan bertindak ceroboh, oke?” Sakurai menukik alis. “Memangnya kau ayah mereka.” “Jangan lupa nyalakan alat di telinga kalian itu,” sambung pria yang terkadang suka khawatiran itu. “Mereka tidak akan berada dalam bahaya. Jika lokasi ditemukan, pihak kami yang akan menahan orang-orangnya dan kalian tinggal membersihkan tempat itu semisal ada iblis.” Sampai di lokasi bangunan mencurigakan yang pertama di Minami-Enokicho, Shinjuku—dekat sekolah Hiroto—, Akio turun lebih dulu dari mobil. “Jangan gegabah, ya,” pesan Axel sama. Akio menunduk singkat lalu berlalu mengikuti jalan yang berbelok. Bangunan yang terlihat dari foto di genggaman laki-laki berusia dua puluhan itu langsung terlihat di seberang tempatnya berdiri. Sinar jingga yang terakhir memantul di tembok kiri bangunan lantai dua yang cukup lebar itu terlihat masih baru dan bersih. Lampu luarnya sudah menyala atau mungkin terus menyala sejak ditinggalkan. Tanpa basa-basi, Akio menyebrangi jalan raya sepi dan berjalan ke belakang bangunan, berharap ada pintu masuk agar dia tak perlu ribet menaiki jendela. “Pemburumu yang tadi itu terlihat ogah-ogahan, apa kau memaksanya tuk ikut?” lontar Sakurai di mobil, sedang jalan menuju bangunan kedua di Wasedatsurumaki, tak jauh dari lokasi pertama. “Aaa, Akio-kun? Enggak, kok. Dia yang menawarkan diri.” Axel menatap ke jendela, refleks tersenyum. “Walaupun dia terlihat malas, aslinya dia orang yang paling bekerja keras dan serius dalam memburu, berhubung dia sangat membenci kegagalan.” Karena tak menemukan pintu, Akio mengernyit jengkel, menatap beranda lantai dua dari besi tanpa tangga yang mengarah ke sana. “Sudah kuduga tidak akan semudah itu untuk masuk ....” Dia sendiri tak begitu bisa memanjat tembok atau tempat tinggi seperti yang Kazan lakukan, jadi dia mulai menyesali keputusannya tuk memilih tempat ini karean jaraknya dekat. Akio menatap birai besi beranda, agak mundur lalu melompat. Tangannya berhasil meraih birai dan dia bergelatung di tepi. Setelah bersusah payah tuk naik, dia lega mendapati pintu di sana tidak terkunci. Akio langsung merasakan hawa keberadaan iblis yang mengingatkannya dengan keberadaan Hiroto. Dia terdiam, bergerak masuk dan menutup pintu perlahan. Jemarinya menekan tombol di wireless earphone. “Axel-sama,” panggilnya pelan. Axel yang baru hendak turun dari mobil berhenti mendengar suara itu. “Akio-kun?” “Di sini ada iblis. Aku rasa tipenya sama dengan Hiroto.” Axel terdiam. Apa mungkin itu iblis bernama Majin yang Hiroto ceritakan? Pikirnya. “Akio-kun, kau jaga saja dari luar. Tunggu kami tuk sampai.” “Baik—“ “Diam!” Akio membeku di tempat sejenak, langsung terbebas dan membalik badan, mendapati seseorang sedang berdiri membelakangi satu-satunya lampu yang menerangi lantai dua itu. “Shigo?” kata Akio bingung. Suatu benda mendadak melayang dari belakang pria itu, melesat melewatinya menuju laki-laki bersurai hitam itu. Akio memiringkan badan sebelum sebuah batang besi karatan berhasil menancap di bahunya. Dia membelalak saat beberapa pipa besi lain menyusul. “Tidak!” Akio meraih pintu, keluar dari lorong itu dan melompat turun dari lantai dua. Dia mendengar suarai nyaring batang besi menusuk pintu. Dia tidak akan hidup kalau tertancap benda tajam sebanyak itu. Dia mengeluh sakit karena lengan atas kanannya membentur aspal lebih dulu. Saat hendak bangkit, maniknya mendapati makhluk menyeramkan menembus atap bangunan dan terbang pergi. Akio menarik panah karimata dari balik jubah, melemparnya dengan pelempar panah ke arah iblis yang mirip kelelawar itu. Panahnya tak sempat mengenai iblis dan jatuh ke bawah. Telinganya mendengar suara dari arah depan bangunan. Dia mengerang kesal. “Dia kabur.” Dua menit setelah itu, Axel, Magine dan Sakurai datang. Akio duduk di tepi jalan depan bangunan tadi sambil menunduk memeluk kaki. Axel mengerjap melihat anak itu merengut. “Apa yang terjadi?” Akio menunjukkan wajah marahnya. “Iblis dan seorang kultus iblis kabur.” “Kau membiarkan dia kabur?” lontar Sakurai yang melotot. “Orang itu punya shigo!” tukas laki-laki itu yang mendadak berdiri, tak menerima ucapan Sakurai. “Dia bahkan bisa mengendalikan benda.” “Haaaa? Kau mengigau, ya?” Axel menengahi mereka. “Hei, hei, sudahlah, Sakurai. Dia tak mungkin berbohong di saat begini.” “Bagaimana dengan situasi di dalam? Ada berapa orang?” “Aku yakin hanya satu. Satu lagi iblis tipe kaibutsu.” Sakurai menyisir surai panjangnya ke belakang dengan frustrasi. “Tidak ada korban? Satu pun?” “Tidak ada, tapi aku curiga mereka dikubur di sana karena ada satu ruangan dengan beton basah.” “Aku akan memeriksanya,” ucap wanita itu kemudian masuk ke bangunan lewat pintu depan. Axel menepuk lengan laki-laki itu bermaksud bercanda, tapi Akio mengerang sakit. “Kau terluka?” “Tidak ... hanya terbentur.” “Apa kau sempat melihat wajah orangnya?” “Dia membelakangi cahaya jadi aku tak bisa melihat wajahnya.” “Maa, yang penting kau selamat. Kita bisa mengejar mereka nanti,” tutur pria bermanik hijau pudar itu. Akio masih terlihat jengkel, sampai mereka kembali ke markas pun moodnya masih memburuk. “Akio-kun, bisa ke ruanganku sebentar sebelum bertugas?” kata Axel. Sampai di ruangan dengan meja rendah yang panjang, pria bersurai panjang itu bertanya, “Iblis yang tadi, bagaimana ciri-cirinya?” Akio yang masih ingat pun menjelaskan, “Dia punya sayap. Sepintas mirip kelelawar.” “Kau yakin dia tipe kaibutsu?” “Ya. Tekanannya lebih kuat dibandingkan berada di dekat tipe dua, bahkan iblis Akibara kemarin.” Yang Enma bilang soal Majin adalah fakta. Soal kultus pun juga. Namun, sulit rasanya mempercayai kalau kemampuan lima generasi Akibara berasal darinya. Pikirnya keras. “Anda nampaknya tau sesuatu soal iblis itu.” “Eh?” Akio memberi tatapan sinis. “Apa Anda tau lokasinya sekarang?” Axel meneguk ludah. “A-aku hanya tau kalau iblis itu kenalan Enma.” Laki-laki bersurai hitam lurus itu memberi tatapan bingung. “Kenalan?” ulangnya tak yakin. Axel menjabarkan penjelasan singkat. “Kalau begitu kita pancing saja si Majin itu pakai Enma,” kata Akio. “Itu berbahaya. Enma sudah tidak mengambil alih Hiroto lagi dan anak polos itu bakal habis oleh Majin.” “Lalu, Apa yang Anda rencanakan soal itu?” Axel menarik senyum. “Aku sudah punya rentetan rencana untuk Hiroto. Yang pertama, dia mesti tau apa saja kemampuan iblis yang dia bisa, setelah banyak latihan baru kita pancing Majin.” Akio mengerti dengan cepat. “Soal manusia yang bisa shigo itu, aku rasa dia salah satu keturunan Akibara juga. Tak mungkin punya kemampuan pemburu tanpa memiliki darah pemburu,” tuturnya. “Ya, aku juga sempat berpikir begitu. Urusan orang itu biar Sakurai saja yang menangani pencariannya. Aku yakin dia akan menghubungi kita lagi kalau sudah ketemu.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD