Mendadak pintu ruangan dibuka, seorang bawahan Sakurai yang lain masuk dengan flashdisk di tangan. “Sakurai-san, coba lihat ini.”
Polisi wanita itu mencolok flashdisk ke laptop yang sudah terhubung ke layar proyektor, membuka suatu folder dan berkas.
“Daftar orang hilang dalam seminggu ini?” kata bawahan yang lain membaca judul laporan dari berkas yang dibuka.
Polisi wanita mengangguk. “Mereka orang-orang yang tinggal sendiri dan orang-orang yang tinggal di jalan. Sebagian besar kehilangan tidak dilaporkan.”
“Ini mirip dengan kasus dari kultus iblis tiga tahun lalu,” lontar Sakurai.
“Saya juga berpikir demikian, Sakurai-san. Sudah begitu mereka hilang di hari yang sama.”
“Kultus pemuja iblis maksudnya?” gumam salah satu bawahan yang baru beberapa bulan bekerja di sana.
“Iya. Awalnya mereka lebih sering mencopot jimat di bangunan-bangunan saja atau mengorbankan diri sendiri, tapi beberapa tahun belakangan ini mereka mulai merenggut nyawa orang lain. Paling parah saat kejadian lima mei tiga tahun lalu,” jelas seniornya yang juga bawahan sakurai.
“Waktu itu mereka menyebarkan jimat rumah yang palsu juga, jadi korban sangat banyak,” keluh Sakurai sambil memijit pelipisnya dengan frustrasi. “Setelah tiga tahun sekarang mereka mulai lagi? Para idiot.”
“Kalau benar mereka menghilang karena kultus iblis, maka ....”
Tanpa dijelaskan, mereka tau kalau kemungkinan besar sudah terlambat untuk berharap para orang hilang masih hidup. “Ayo tangkap mereka dan buat mereka bertanggung jawab,” tegas Kepala inspektur Sakurai.
“Siap!”
Di saat yang sama, Hiroto yang selesai membersihkan diri kini berjalan ke ruang latihan bersama Chiyo. Semalam, setelah remaja laki-laki itu menceritakan omongan Enma ke Axel, pria itu ingin memastikannya langsung dengan mengajak Hiroto tuk duel bersama para pemburu paginya.
Masih dengan surai hitam setengah basah yang nyaris menutup pengelihatan dan jaket hitam longgar milik Kazan, dia melangkah dengan gugup.
Chiyo melirik dari bahu, dia terkekeh singkat melihat laki-laki yang terus menunduk sejak tadi. “Mereka tidak akan brutal, kok.”
“Tapi, aku kan tidak bisa melawan. Mereka bisa mengendalikan jimat, bisa menyerang dengan instrumen musik juga. Aku rasa bukan ide bagus untuk melawan para pemburu.”
“Ya, aku setuju. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan mau melawan Akio-san dan Yugi-san.”
Begitu sampai di ruang peralatan, Hiroto berhenti, melirik boken—Pedang kayu—yang tepajang di pengait di tembok dan segera meraih itu. “B-boleh aku pakai ini?” tanyanya ke Chiyo.
“Silakan.”
Keluar dari ruang peralatan lewat pintu belakang, ada ruang latihan yang terpisah. Pintunya terbuka lebar, di dalam ada Kazan, Axel dan Yugi. Hiroto memejamkan mata, ya ampun, ada Yugi-san. Pasti dia juga ikut memberi serangan.
Untuk pertama kalinya, Axel tak memakai yukata biasa dan memakai pakaian santai—hoodie hitam dengan celana gunung senada yang panjang—, surainya juga diikat tinggi. “Pagi, Hiro-kun,” sapa pria itu yang raut cerianya sangat bertolak belakang dengan raut Hiroto.
“Ano, Axel-sama, aku—“
“Yosh, Zan, tadi kau bilang mau mencoba duluan?”
“Tunggu, tolong dengar aku!”
Kazan dengan tatapan sinis menggulung lengan jaket, memperlihatkan jimat panjang yang tergulung di lengan. Hiroto langsung bergeser, berlindung ke belakang Axel.
“Dia tidak akan membunuhmu. Aku jamin itu,” tutur Axel.
“T-tapi ....”
“Oi, kora (sialan).” Kazan menggerakkan telunjuknya, gerakan tuk menantang Hiroto maju. “Kochi ni koi ya (Cepetan maju),” geramnya.
“DIA PASTI BAKAL MENGHABISIKU! LIHAT AJA MATANYA BEGITU!” protes Hiroto yang memeluk Axel.
Yugi menghela napas. “Dia benar-benar keterbalikan dari Enma,” gumamnya lucu.
“Hiro-kun, kalau begitu mau coba denganku dulu? Tapi seranganku bakal lebih berbahaya dari Kazan karena aku memakai koto,” tawar pria bersurai pirang terang itu.
Hiroto bergeming, perlahan keluar dari sisi Axel. “Aku sama Kazan saja ....”
“Oke deh.”
“Kau meremehkanku, ya?” kata Kazan, melonggarkan gulungan jimat.
Remaja bersurai hitam itu membalas. “Aku justru takut padamu.”
“Oh, begitu?” Jimat mulai bergerak di udara seperti ular. “Kalau gitu, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat.”
Jimatnya bergerak cepat, mengikat kaki Hiroto dan menggantung anak itu secara terbalik di udara. Hiroto memekik ngeri.
Kazan menghela napas, melirik ke Axel yang berpikir keras tak jauh dari mereka berdua. “Tidak terjadi apa pun, ya. Kupikir Enma bakal muncul kalau kita memancingnya begini.”
Laki-laki bermanik violet itu mendengus. “Aku rasa kita perlu menyakitinya lagi kalau ingin memancing Enma. Begini misalnya!”
Kazan mengendalikan jimat yang mengikat kedua kaki Hiroto, melempar anak itu ke seberang ruangan, nyaris membentu tembok. Axel, Chiyo dan Yugi melotot melihatnya.
“Zan!” seru Axel, segera melangkah mendekati Hiroto yang tersungkur di lantai beton.
“Jahat sekali. Padahal Hiroto tak bisa melawan,” kata Chiyo.
Axel mendekati remaja itu dan membantunya duduk. “Kau tidak apa-apa?”
Hiroto mengerang nyeri. “I-iya ....”
Jimat kembali mengikat seluruh badan laki-laki itu sebelum dia sempat bangkit. “Zan, hentikan!” kata Axel.
“Aku rasa dia tidak akan bisa terluka, sama seperti Enma. Jadi aman-aman saja—“
Jimat robek dari dalam gulungan ke atas. Mata Kazan membelalak melihat jemari Hiroto yang seperti cakar elang. Dia sudah berganti tempat dengan Enma? pikirnya.
Hiroto menekan sebelah kaki kuat-kuat ke lantai, lalu dia meluncur cepat ke Kazan. “Diam!” Laki-laki bersurai ungu itu mengaplikasikan bahasa mati, tapi itu cuma berpengaruh ke Chi-chan.
Remaja laki-laki bersurai hitam itu meraih boken yang tadi lepas dari pegangan sembari masih berlari ke arah Kazan. Yugi hendak memetik senar koto,”Jangan dulu, Yugi-kun,” seru Axel.
Kazan menyilangkan kedua lengan di depan wajah tuk menahan cakaran Hiroto ke wajahnya sebagai pertahanan terakhir karena jimatnya sudah rusak. Namun, laki-laki itu tidak menerima cakaran, hanya pukulan ringan dari pedang kayu yang Hiroto kibas ke lengan.
“Aku menang ...,” lontar Hiroto dengan napas tersengal.
Kazan terdiam sejenak dengan mata membulat. Dia menurunkan lengannya, menatap Hiroto bingung. “Oi, kenapa kau tidak melawanku dengan cakar itu?” ketusnya.
“Eh? Tapi—“
Laki-laki itu menendang Hiroto, lalu pergi keluar dari ruang latihan. “Zaaan!” panggil Axel.
Yugi menatap punggung Kazan yang berlalu. “Baru kali ini dia seemosi itu.”
Axel membantu Hiroto tuk berdiri. “Kenapa sih anak itu? Dia sangat aneh belakangan ini.”
Remaja laki-laki itu menatap tangannya yang sudah kembali normal. “Tadi itu ....”
“Ya, sepertinya benar kalau kau bisa menggunakan kemampuan Enma tanpa melibatkannya,” kata Axel.
“J-jadi aku bisa melakukan shigo juga? Teknik musik juga?” tanya remaja itu yang terlihat antusias.
“Wohoo, kau mau duel lagi?” Yugi membunyikan koto dengan asal.
Nyali Hiroto langsung ciut. “Tidak, terima kasih ....”
Ketukan di pintu besi terdengar, itu Sakurai yang mendatangi markas Akibara. “Axel, kupinjam waktumu sebentar.”
•••••
“Kultus itu menunjukkan pergerakan lagi?” ulang Axel ke Sakurai. Mereka berdua ada di bilik kecil lantai dua yang pintu berandanya dibuka agar cahaya dan udara masuk.
Sakurai memijit batang hidungnya, membalas dengan ‘Hmm’.
“Pantas Bu Kepala Inspektur Sakurai terlihat sangat pusing,” ejek Axel.
“Berisik. Buktinya memang belum ada, tapi mengingat pola kegiatan kriminal mereka tiga tahun lalu, firasatku mengatakan itu perbuatan mereka. Kau akan bekerja sama lagi, kan?” tanya wanita itu sambil menyipit jengkel.
Axel mengangguk. “Aku tak punya kuasa melawan anjing pemerintah.”
Pria itu mengulurkan tangan tuk menggenggam tangan Sakurai yang terangkat, menariknya mendekat. Mereka berdua bertukar pandang.
“Aku senang kita bisa bertualang seperti tiga tahun lalu,” tutur Axel sambil tersenyum.
Sakurai mendengus, menarik tangannya segera. “Bodoh, kau senang saat nyawa orang banyak yang melayang?”
“Maksudku, kita punya banyak kesempatan untuk berduaan saat itu.”
“Terserah apa katamu. Bentuk tim segera. Aku akan menghubungimu lagi nanti.” Sakurai kembali duduk begitu teringat sesuatu. “Apa ada kabar terbaru soal iblis dalam bocah itu?”
“Kabar terbaru? Hmmm, ya. Kabar baik tepatnya. Iblis itu tidak akan mengambil alih raganya lagi.”
“Eh? Iblisnya sudah keluar dari sana?”
“Belum.”
“Terus, maksudmu apa? Kalau dia masih ada di salam sana, berarti bocah itu masih berbahaya.”
“Hiroto berhasil mengambil alih kendali dari Enma. Bahkan, ada kemungkinan besar kalau bocah itu bisa menggunakan kemampuan iblis dalam kondisi sadar.”
Sakurai menautkan alis. “Terdengar semakin berbahaya.”
“Tidaaak. Ini namanya inovasi baru! Bisa saja dia jadi pemburu hebat.”
Kazan yang baru hendak menggeser pintu bilik, terdiam mendengar ucapan Axel. Dia menarik tangannya kembali, rautnya semakin kesal.
“Kau bicara seperti para maniak.”
“Enak saja.”
Dia memutuskan pergi. Perasaan tidak nyaman apa ini, sialan. Batin Kazan.