bc

Grounded

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
HE
friends to lovers
kickass heroine
confident
heir/heiress
drama
bxg
office/work place
enimies to lovers
war
like
intro-logo
Blurb

"GROUNDED"Dua musuh bebuyutan. Satu cinta terlarang. Dan satu kesempatan untuk terbang... atau jatuh selamanya.Sejak kecil, Kai Dawson dan Amelia Thorne hanya tahu satu hal: mereka harus saling mengalahkan. Diisahkan oleh permusuhan keluarga, mereka tumbuh sebagai rival dalam segala hal—dari nilai ujian sampai olahraga.Sampai suatu hari, Kai memutuskan untuk kabur dengan bergabung dengan Angkatan Udara Inggris.Tentu saja, Amelia tidak mau kalah. Dia pun mendaftar.Kini, mereka harus berhadapan di Akademi RAF yang keras. Di bawah tekanan pelatihan militer yang ekstrem, garis antara kebencian dan ketertarikan mulai kabur. Setiap pertarungan, setiap sindiran tajam, menyembunyikan percikan api yang berbahaya.Tapi mereka tidak sendiri. Scarlett Reed, putri seorang kolonel yang pintar dan ambisius, mengamati setiap langkah mereka. Dan instruktur mereka, Rhys Cavanaugh, menyimpan perhatian khusus yang membuat segalanya makin rumit.Dari ruang kelas ke simulator, dari latihan malam hingga misi rahasia berbahaya, Kai dan Amelia harus memilih: tetap bertahan dalam perang lama mereka, atau mengambil risiko terbesar—dengan membuka hati pada satu-satunya orang yang paling dilarang.GROUNDED adalah kisah tentang cinta yang lahir dari permusuhan, tentang keberanian melawan aturan, dan tentang menemukan rumah di mata seseorang yang pernah kau benci.---

chap-preview
Free preview
Bensin dan Kembang ApiPerang Taman Mawar
Pagar itu berdiri miring , menjadi awal dari segala kekacauan . Bukan soal uang atau kekuasaan yang membuat kayu itu terpasang di tempat yang salah. Sejak hari itu , pandangan mereka menjadi dingin satu dengan yang lain . Tanah sempit di antara rumah mereka berubah jadi medan perseteruan keluarga Dawson dan Thorne. Permasalahan yang tak terlihat . Tidak ada tembakan atau lempran bola, yang ada hanya bisikan pagi yang sengaja di perdengarkan oleh satu sama lain . Semua itu karena batas yang tak pernah seharusnya dilewati. Di Cherrywood Lane, sebuah gang yang sunyi di tepi Guildford, ada dua rumah yang berdampingan . Rumah keluarga Dawson bergaya Georgia yang selalu tampak rapi , teratur , hingga rumputnya tidak akan pernah berani memanjang hingga 5cm. Mereka bekerja sebagai kontraktor , menyukai segala sesuatu yang lurus dan tetap pada tempatnya . Sedangkan di rumah sebelahnya, memiliki nuansa yang berbeda - gaya Victoria tua penuh warna , dikelilingi taman liar yang tidak teratur . Pemiliknya adalah seorang pengajar,seorang ahli sejarah dan profesor seni, pasangan yang menghargai hal tak terduga , lebih menyukai konsep hidup alami tidak terlalu kaku untuk sebuah aturan dan penataan segala sesuatu. Pagar kayu setinggi satu meter yang ambruk , tidak lagi sekadar garis imajiner, yang di akibatkan oleh bola tendangan Kai Dawson yang baru berusia enam tahun. Bola itu melayang masuk ke pekarangan tetangga samping rumahnya, yang menghantam tanaman anggrek langka milik Dr. Alistair Thorne - dan itu satunya-satunya di koleksi anggrek yang dia miliki. Lompatan kemarahan memancar dari suara Alistair yang membahana di udara . Wajahnya menyala seperti api kecil yang tak bisa dipadamkan. Teriakannya menusuk telinga, tajam dan berat. "Richard! Lihat kelakuannya!" ujarnya, jemarinya menunjuk tanpa ragu. Suasana mendadak sesak oleh amarah yang meledak begitu saja. Anak muda itu disebut seperti binatang liar yang masuk ke dalam ruangan penuh barang pecah belah. Setiap kata yang di ucapkan terasa menggema, tidak mau pergi begitu saja dari telinga yang mendengarnya. "Bola tidak akan kena kalau kau nggak nempelin tanaman aneh di semua tempat," kata Richard Dawson dari pinggir lapangan, tangannya ada di pundak Kai yang masih gemetar. Lawan tanding dari Cherrywood sudah bicara. Itu yang mereka maksudkan sebagai pernyataan permusuhan abadi mereka. Hidup Kai Dawson dengan Amelia Thorne tak lagi sama seperti dulu setelah kejadian itu. Hidup mereka menjadi semacam perlombaan kecil ala kampung, penuh ketegangan tersembunyi. Dua-duanya dipaksa masuk arena perseteruan keluarga, tanpa bisa menolak. Orang tua mereka yang saling sikut diam-diam, sementara itu anak-anaknyalah yang harus menjalani konsekuensinya. Ketika masih delapan tahun, mereka bersaing soal nilai matematika. Kemenangan, Kai membuat Amelia langsung unjuk gigi di ajang pidato bahasa Prancis. Dia meraih juara pertama waktu itu. Di rumah mereka masing masing, trofi keduanya diletakkan saling menghadap lewat jendela kamar mereka yang berhadapan. Bukan main persaingan mereka, di usia dua belas tahun mereka sudah tampil di kompetisi antarklub. Renang menjadi ajang kemenangan bagi Kai, dia menyabet gelar juara tingkat distrik. Di sisi lain, bidak catur membawa Amelia ke tangga juara se-kabupaten. Papan informasi desa memajang wajah mereka, masing-masing yang tampak puas dan tersenyum lebar. Tepat di tengah foto mereka, potret walikota menghiasi celah di antara keduanya. Ketika berusia lima belas, persaingan mulai masuk ke wilayah batin. Saat Amelia tampil di panggung teater sekolah, kabel speaker mendadak terputus -itu bukan sebuah kebetulan, tapi diciptakan oleh Kai bersama teman-temannya. Tak lama kemudian, layar laptop milik Kai berubah sendiri, menampilkan potret Amelia memegang trofi bertuliskan ‘Juara Umum Kelas’, untuk membalas Kai dan membuatnya marah. Masa pertumbuhan mereka ditemani dengan kalimat yang sering diucapkan orang tua mereka: “Jangan sekali-kali kau kalah oleh anak Thorne itu,Kai!” (Richard Dawson). “Jadilah yang terbaik,Amelia. Tunjukkan pada keluarga kasar di sebelah bahwa otak mengalahkan otot!” (Eleanor Thorne). Tapi di tengah amarah yang selalu ditunjukkan, terselip fakta ganjil yang tak pernah diucapkan - mereka saling mengawasi. Adanya lawan bersaing membuat dorongan motivasi bagi mereka untuk menjadi yang terbaik. Latihan bola basket Kai menjadi lebih serius, karena kai berfikir bahwa Amelia bakal nonton permainan bola basket itu , jika dia kalah Amelia pasti akan sangat senang. sarkasme siap dilontarkan jika dia gagal. Sedangkan Nilai Fisika Amelia harus bagus, begadang bukan pilihan tapi suatu kewajiban, karena rasa khawatir kalah dari Kai melekat kuat dalam dirinya. Pagi itu, saat udara hangat mulai menyebar, suara Richard Dawson melayang dari teras - sedang berdiskusi dengan istrinya. Kai diam mendengarkan sambil memegang cangkir kopinya yang belum tersentuh. “Dia butuh disiplin,Sayang! Angkatan Udara. Itu yang akan membentuknya jadi pria sejati, bukan sekadar akademisi yang hanya bisa ngomong!” Kata ‘akademisi’ diucapkan dengan nada yang sama seperti mengucapkan ‘kutu buku yang tidak berguna’. Kai mengintip dari balik pintu dapur, jantungnya berdetak kencang. RAF muncul dalam pikirannya - gagasan yang terdengar mustahil. Namun entah kenapa... ada tarikan kuat di sana. Bisa pergi jauh dari rumah, lepas dari beban harus menjadi Dawson yang ideal. Dunia lain menanti. Bisa jadi tembok di rumah Thornes memang tak terlalu tebal. Entah bagaimana, Amelia seolah punya naluri khusus soal apa yang direncanakan Kai. Dua hari setelah itu, saat berada di kamar, ia menyaksikan Amelia menerima boks besar. Pandangan tajamnya langsung tertuju pada tulisan kecil di sisi kotak - tertera nama: Panduan Persiapan Tes Kemabailan RAF. Ikut mendaftar juga dia batin kai. Sudah di pastikan peperangan ini akan dibawa ke tempat lain . --- Hari Pendaftaran: RAF Officer Training, Cranwell Udara pagi di luar gedung penerimaan Royal Air Force College Cranwell terasa dingin dan berisi harapan yang menggumpal. Keluarga Dawson berdiri di satu sisi jalan parkir. Kai, dengan rambut cokelatnya yang sudah dipotong rapi (atas paksaan ibunya), terlihat kaku di dalam seragam sipil sederhana. Wajahnya tegang, tapi matanya berapi-api. “Ingat, Nak. Disiplin. Kehormatan. Keunggulan. Jangan mempermalukan nama Dawson,” gumam Richard, menepuk bahu anaknya dengan kaku. Ibunya, Sandra, hanya bisa memeluknya cepat sambil mata berkaca-kaca. Di seberang mereka, sekitar sepuluh meter, keluarga Thorne sedang berpose. Amelia, dengan rambut pirangnya yang diikat sanggul rapi, terlihat seperti pejuang yang elegan. Jaket kulitnya cocok dengan celana panjangnya. Dr. Alistair Thorne membacakan puisi tentang ‘Icarus yang terbang mendekati matahari kebenaran’. Ibunya, Eleanor, merapikan kerah Amelia. “Gunakan kecerdasanmu,sayang. Bukan kekerasan. Tunjukkan pada mereka bahwa logika dan strategi adalah senjata terbaik,” bisiknya. Kai dan Amelia menoleh hampir bersamaan. Pandangan mereka bertemu. Listrik musuh-lawannya yang familiar menyambar di antara mereka. Keduanya mengangguk kecil, dingin, lalu memalingkan muka. Keributan Dimulai. Proses pendaftaran berjalan lancar sampai tiba di bagian pengambilan perlengkapan awal. Antrian panjang di depan gudang logistik. Kai sudah berdiri di sana. Amelia, dengan langkah cepat, tiba dari arah lain dan—menurut persepsi Kai—menyelinap di depannya. “Hei, Thorne. Antri yang bener,” Kai menyentuh lengan Amelia. Amelia menoleh, alisnya naik. “Saya sudah berdiri di sini sejak lima menit lalu, Dawson. Mata silinder sudah mulai menyerang di usia muda?” “Lucu! Kalau otakmu secepat mulutmu, mungkin kau bisa hitung antrian dengan benar.” “Kalau ototmu sesukses egomu,mungkin kau sudah bisa terbang tanpa pesawat.” Orang-orang di sekitar mulai menoleh. Seorang sersan pelatih yang cemberut memperhatikan dari kejauhan. “Kau pikir ini masih lomba sains di SMA, Amelia? Ini nyata. Kau bakal pulang minggu pertama,” Kai mendesah, mencoba terdengar merendahkan. Amelia mendekat, hanya berjarak beberapa inci. Mata hijauannya berkilat menantang. “Oh, aku tidak akan pulang, Kai. Aku akan berada di siran, menontonmu tersandung di sepatu botmu sendiri. Dan aku akan tertawa.” “Wishful thinking.” “Observasi berbasis data . Nilai kemampuan spasialmu di tes masuk 3 poin di bawahku.” Kai mendesis. Itu benar, dan itu menyakitkan. “Nilai kepemimpinanku lebih tinggi.” “Karena kau memimpin geng preman di sekolah?Sungguh prestasi.” Tanpa berpikir panjang, karena itu adalah respon otomatis selama 12 tahun terakhir, tangan Kai bergerak untuk merebut tas kit yang baru saja diberikan kepada Amelia. Amelia berputar cepat, menghindar, tapi kaki Kai tidak sengaja menginjak tali sepatu boot Amelia yang belum diikat. Apa yang terjadi selanjutnya adalah seperti adegan slapstick. Amelia kehilangan keseimbangan. Kai, secara reflek, mencoba menangkapnya. Alih-alih berhasil, mereka justru terpelanting berdua ke tumpukan matras latihan yang kebetulan ada di dekatnya, dengan suara “WHUMPF!” yang keras. Mereka tergeletak bersimpangan, tersangkut di antara matras, wajah merah padam karena malu dan marah. Tas kit mereka terbuka, isinya—kaos kaki, sikat sepatu, buku pedoman—berhamburan. Tertawa. Tertawa kecil, tercekik, tapi jelas terdengar. Kai dan Amelia menoleh ke arah sumber suara. Di seberang lapangan, berdiri di bawah naungan bendera RAF, adalah seorang gadis. Scarlett Reed. Dia tidak mengenakan seragam sipil biasa, tapi setelan kargo praktis yang mahal potongannya. Rambut merahnya seperti api di bawah sinar matahari pagi, dikepang rapi di satu sisi. Di sebelahnya, seorang pria berpostur tegap dengan rambut perak dan tatapan yang bisa menembus baja—Kolonel Alastair Reed—berseragam lengkap dengan lencana berkilauan. Dan di sisi lain, seorang wanita berpenampilan elegan luar biasa, dengan mantel garis putih dan kacamata hitam besar—Cassandra Reed, pemilik rumah mode ternama "Reed & Empire" yang berpusat di Mayfair, London. Scarlett tidak tertawa terbahak-bahak. Hanya senyum tipis, menghibur, dan sangat tertarik. Matanya yang tajam menyapu Kai dan Amelia yang masih terjebak di tumpukan matras, seolah-olah sedang menilai dua spesimen menarik di laboratorium. Kolonel Reed berbisik sesuatu pada istrinya, yang hanya mengangguk halus, tersenyum penuh arti. Kemudian, tatapan sang Kolonel beralih ke kedua pemula yang sedang berantakan itu. Tatapan itu bukan tatapan marah, tapi tatapan analitis. Tatapan seorang komandan yang melihat potensi bahan baku—yang masih sangat mentah dan kacau. Sersan pelatih akhirnya beraksi. “DAWSON! THORNE! Kalau sudah selesaikan tari baletnya, kumpulkan barang-barang kalian dan BERDIRI!” Kai dan Amelia bergegas membenahi diri, makin panas telinganya. Saat mereka berdiri, berdebu dan kesal, pandangan mereka sekali lagi bertemu. Namun kali ini, di balik kebencian, ada sesuatu yang lain: kesadaran memalukan bahwa mereka baru saja menjadi tontonan. Dan dari kejauhan, Scarlett Reed mengalihkan pandangannya, memungut tas kitnya yang sederhana (sengaja dipilih agar tidak mencolok). Bibirnya masih menyungging senyum. Ini akan jauh lebih menarik daripada yang kuduga, pikirnya. Dua rival bebal yang penuh energi, terikat sejarah, dan punya api. Sangat sempurna untuk… eksperimen. Sementara itu, suara Sersan menggema di lapangan: “Selamat datang di Cranwell, para calon penerbang! Lupakan masa lalu kalian! Di sini, kalian semua adalah NOL! Dan dari hari ini, hidup kalian milik Angkatan Udara!” Kai dan Amelia, tanpa sadar, berdiri lebih tegak. Perang mereka yang lama belum selesai. Tapi sekarang, mereka punya penonton baru. Dan medan perang yang sama sekali berbeda. Perang antara Dawson dan Thorne telah resmi mendapat izin tinggal landas. Dan di tengah-tengah mereka, seperti ular yang elegan dan berbahaya, Scarlett “Viper” Reed baru saja mulai melingkar.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Trapped in My Future Boss

read
3.3K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.7K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.6K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
15.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.3K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
16.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook