Bab 2: Grounded Rules

1230 Words
Cranwell, 3 Bulan Kemudian Royal Air Force College Cranwell tidak main-main. Di sini, "pelanggaran" bisa berarti lima belas putaran lapangan dengan ransel penuh, dan "netral zone" adalah ruang pribadi yang tidak pernah ada. Kai Dawson dan Amelia Thorne telah menjadi legenda kecil—legenda si Kacau Balau. Minggu pertama, mereka mendapat hukuman serentak karena "melakukan kontak fisik yang tidak perlu selama apel pagi". (Kai menginjak kaki Amelia saat berbaris; Amelia membalas dengan menyenggolnya saat belokan). Minggu kedua, mereka menjadi satu-satunya pasangan dalam sejarah latihan navigasi darat yang sama-sama tersesat karena terlalu sibuk berdebat tentang metode peta-kompas mana yang superior, hingga harus diselamatkan oleh tim pencari. Minggu ketiga, dalam latihan pertahanan diri, mereka dipasangkan. Hasilnya? Gulat liar yang berakhir dengan kuncian yang membuat instruktur menghela napas dan berkata, "Ini bukan pertandingan gulat profesional, kalian berdua! Dawson, lepaskan kuncian kepala Thorne. Thorne, jangan tendang selangkangannya—ITU BUKAN TEKNIK YANG DIAJARKAN!" Namun, di tengah semua kekacauan itu, sesuatu yang tak terduga tumbuh. Persahabatan antara Amelia Thorne dan Scarlett Reed. Awalnya, itu adalah aliansi kepraktisan. Scarlett, dengan kecerdasan tajam dan pengetahuan mendalam tentang sistem militer berkat ayahnya, melihat potensi taktis pada Amelia. Amelia, yang menghargai kecerdasan di atas segalanya, melihat sekutu yang sangat kompeten pada Scarlett. Mereka menjadi duo yang tak terpisahkan di akademi: otak dan strategi. Mereka duduk bersama di kelas teori penerbangan, berbagi catatan yang membuat kadet lain iri. Mereka berlatih prosedur darurat bersama, komunikasi mereka singkat dan efisien. Scarlett bahkan membantu Amelia menata rambutnya dengan sanggul militer yang sempurna, sesuatu yang selalu gagal dilakukan Amelia. "Kau dan Dawson, seperti dua magnet yang kutubnya salah," kata Scarlett suatu sore di asrama, sambil mengamati Amelia yang kesal karena kaos kakinya lagi-lagi tidak sesuai regulasi. "Bukan magnet.Lebih seperti kucing dan anjing yang dikurung di kotak yang sama," gerutu Amelia. Scarlett tersenyum kecil,misterius. "Menurutku, lebih seperti dua pesawat jet yang mencoba terbang di koridor yang sama. Tabrakan atau formasi... hanya masalah sudut pandang." Kai, yang kini selalu mengawasi Amelia dari kejauhan (untuk alasan rivalitas, tentu saja), merasa tidak nyaman dengan persahabatan itu. Scarlett Reed terlalu tenang, terlalu terkendali. Dia seperti ular yang diam-diam mengamati mangsanya. Dan julukannya, "Viper", yang mulai beredar di antara kadet, semakin membenarkan kekhawatiran Kai. Konflik besar terjadi di Simulator Penerbangan Tahap Dasar. Mereka semua bergiliran menggunakan simulator pesawat latih Groob Tutor. Saat giliran Kai, dia menunjukkan kemampuan koordinasi mata-tangan yang luar biasa. Saat giliran Amelia, dia menunjukkan pemahaman sistem yang brilian dan ketenangan di bawah tekanan. Nilai mereka nyaris seimbang. Lalu giliran Scarlett. Dia tidak hanya terbang dengan sempurna, tapi juga melakukan manuver pemulihan dari stall (keadaan kritis) dengan gaya yang begitu halus dan efisien, membuat instruktur pun terdiam kagum. Itu bukan sekadar bakat. Itu warisan. "Bagus sekali, Reed. Seperti ayahmu," gumam instruktur. Dan di situlah Scarlett menoleh, pandangannya langsung menembus kaca simulator ke arah Kai dan Amelia yang sedang mengamati. Senyum tipisnya, kali ini, terasa seperti kemenangan. --- Pertemuan dengan Sang Mentor: Flight Lieutenant Rhys "Frost" Cavanaugh Setelah melewati pelatihan dasar, mereka masuk ke fase Advanced Flying Training. Di sinilah mereka diperkenalkan dengan pelatih penerbangan mereka: Flight Lieutenant Rhys Cavanaugh. Dia berjalan masuk ke ruang briefing dengan tenaga yang memenuhi ruangan. Tingginya sekitar 188 cm, rambut cokelat gelap dipotong rapi, mata biru keabuan yang tajam seperti es di pagi hari. Di lengannya, terdapat wing penerbang RAF. Julukannya, "Frost", konon didapat bukan karena sikapnya yang dingin, tapi karena kemampuannya yang luar biasa untuk tetap tenang dan jernih bahkan dalam kondisi paling panas dan bertekanan tinggi—seperti es yang tak mencair. "Selamat pagi," suaranya dalam, tegas, tanpa perlu berteriak. "Saya Flight Lieutenant Cavanaugh. Kalian akan memanggil saya 'Sir' atau 'Kapten'. Di darat, saya yang bertanggung jawab atas keselamatan dan pendidikan kalian. Di udara, saya adalah tuhan kalian. Paham?" "Ya, Sir!" sahut semua kadet serempak. Matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak pada Scarlett (dia pasti sudah mengenalinya sebagai anak Kolonel Reed), lalu pada Amelia, dan terakhir pada Kai. Ada seberkas minat yang sangat samar di matanya ketika melihat Amelia—bukan karena penampilannya, tapi karena laporan tentang nilai teorinya yang sempurna dan ketenangannya di simulator. Pertemuan pertama di udara adalah pengalaman yang membuka mata. Cavanaugh adalah instruktur yang tanpa kompromi, tetapi adil. Kritiknya tajam seperti silet, tetapi selalu konstruktif. Di kokpit, suaranya yang tenang menjadi penuntun yang meyakinkan. Kai, dengan bakat alaminya, cepat menangkap soal kontrol pesawat. Tapi Cavanaugh sering mendesiskan, "Dawson, kurangi ego. Pesawat bukan balap mobil. Kehalusan, bukan kekerasan." Amelia, di sisi lain, adalah murid yang tekun. Dia mendengarkan setiap instruksi, mencatat setiap koreksi. Cavanaugh memperhatikannya dengan saksama. "Bagus, Thorne. Pendekatanmu metodis. Tapi jangan terlalu kaku. Terbang itu seni, juga sains." Suatu sore, setelah sesi latihan yang melelahkan, Cavanaugh memanggil Amelia. "Thorne, nilai akademismu luar biasa. Tapi saya lihat kau agak lambat dalam pengambilan keputusan intuitif di udara. Ada saran?" Amelia,sedikit gugup di hadapan instruktur yang disegani, menjawab, "Saya sedang berusaha meningkatkan itu, Sir. Mungkin dengan lebih banyak jam terbang di simulator situasi darurat?" Cavanaugh menganggap,matanya berbinar. "Inisiatif bagus. Saya akan jadwalkan sesi ekstra. Jam 19.00 nanti di simulator lab. Jangan telat." Kai, yang kebetulan lewat, mendengar percakapan itu. Perutnya bergejolak dengan perasaan aneh—bukan iri pada nilai, tapi... pada perhatian khusus yang diberikan Cavanaugh pada Amelia. Dan tatapan sang Flight Lieutenant tadi... ada sesuatu di sana. --- Gesekan, Tawa, dan Triangulasi yang Mulai Rapat Konflik antara Kai dan Amelia terus berlanjut, tetapi bentuknya berubah. Sekarang, seringkali disaksikan oleh Scarlett yang cerdik dan Cavanaugh yang mengamati. Di ruang makan: "Kau masih makan kacang polong dengan garpu,Dawson? Apa takut sendoknya memberontak?" sindir Amelia. "Lebih baik daripada kau yang memisahkan semua makanannya seperti ada ranjau di piring,Thorne," balas Kai, sambil dengan sengaja mencampur semua makanan di piringnya. Scarlett,di sebelah Amelia, hanya tersenyum dan berkata, "Secara psikologis, kekacauan di piring Dawson menunjukkan kreativitas. Sedangkan keteraturan di piring Amelia menunjukkan ketakutan akan ketidakpastian. Kalian berdua... saling melengkapi dengan menyedihkan." Kai dan Amelia sama-sama membeku,lalu saling memandang dengan bingung. "Kami tidak saling melengkapi!" bantah mereka berdua serempak, membuat Scarlett tertawa terkekeh. Di lapangan latihan, saat Cavanaugh mengawasi latihan bertahan hidup: "Thorne,simpulmu salah. Itu akan lepas saat kau tergantung di tebing," kata Cavanaugh, lalu dengan tangan yang cekatan membetulkan simpul di tali Amelia. Sentuhannya singkat, profesional, tapi Kai yang sedang memanjat di sebelahnya hampir saja jatuh. "Konsentrasi,Dawson!" hardik Cavanaugh. "Kepalamya di sini, bukan di tali Thorne!" Amalie memerah.Kai menggerutu. Malam itu, di barak, Kai tidak bisa tidur. Gambarannya beralih antara Amelia yang tersenyum tipis mendengar penjelasan Cavanaugh, dan Scarlett yang tatapannya selalu memperhatikan mereka berdua, seolah-olah sedang menyusun puzzle. Scarlett, di asramanya sendiri, mencatat di jurnal digitalnya: Hari ke-94. Dinamika berubah. 'Frost' mulai mencair di sekitar Thorne. Dawson semakin tidak fokus. Ketegangan romantis meningkat 40%. Konflik eksternal belum dimanfaatkan. Tunggu. Amati. Intervensi akan lebih efektif saat emosi mencapai puncak. Sementara itu, di kantor instruktur, Rhys Cavanaugh melihat file Amelia Thorne. Foto ID-nya tersenyum kecil. Dia menutup file, melihat keluar jendela ke arah landasan pacu yang diterangi lampu. "Dawson dan Thorne,"gumannya. "Api dan es. Tapi siapa yang api, dan siapa yang es?" Pikirannya tertuju pada Amelia, pada ketenangan dan tekad di matanya yang hijau. Dia menggeleng, mencoba fokus pada laporan penerbangan. Tapi satu hal dia tahu: kelas pelatihan ini akan menjadi yang paling menarik dalam kariernya. Di bawah langit Cranwell yang luas, tiga kadet dan seorang instruktur terjebak dalam tarian rumit rivalitas, persahabatan, dan ketertarikan yang mulai menggelegak. Dan aturan utama di udara—jangan pernah kehilangan orientasi—ternyata jauh lebih sulit diterapkan di hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD