Flashback: Delapan Tahun yang Lalu – Pesta Natal di Pangkalan RAF Brize Norton
Salju tipis membasahi udara malam yang dingin. Scarlett Reed yang berusia dua belas tahun merasa bosan. Pesta Natal tahunan Angkatan Udara ini penuh dengan orang dewasa yang berbicara tentang hal-hal membosankan: politik, pesawat, dan kenaikan pangkat.
Dia menyelinap keluar dari ballroom yang ramai, berjalan menyusuri koridor yang sepi menuju area perpustakaan kecil pangkalan. Di sanalah dia melihatnya.
Seorang remaja lelaki, mungkin baru berusia delapan belas atau sembilan belas tahun, berdiri di depan lukisan besar pesawat Spitfire Perang Dunia II. Dia tidak mengenakan seragam pesta, tetapi seragam kadet yang masih sederhana. Rambut cokelat gelapnya masih belum dipotong rapi ala militer, dan sorot matanya—bahkan dari kejauhan—memancarkan intensitas yang berbeda. Dia sedang berbicara dengan seorang perwira senior dengan penuh semangat, tangannya bergerak menggambarkan manuver udara.
“...dan jika Anda melihat sudut serang di sini, Sir, pendekatan yang lebih halus sebenarnya akan menghemat bahan bakar sambil mempertahankan momentum...”
Suaranya, meski masih muda, terdengar percaya diri dan penuh pengetahuan. Bukan kesombongan, tapi keyakinan.
Scarlett terdiam di balik pintu. Dia mengenali perwira yang diajak bicara anak muda itu—itu adalah ayahnya, Kolonel Alastair Reed. Dan ayahnya sedang mendengarkan, dengan ekspresi langka: rasa hormat yang tulus.
“Pemikiran yang bagus, Rhys,” kata ayahnya, menepuk bahu remaja itu. “Pertahankan itu. Dunia membutuhkan penerbang dengan kepala seperti milikmu, bukan hanya tangan yang cepat.”
“Terima kasih, Kolonel,” kata remaja itu—Rhys—sambil sedikit membungkuk.
Saat itulah Rhys menoleh, dan matanya yang biru keabuan itu secara tidak sengaja bertemu dengan mata Scarlett yang hijau dan penuh rasa ingin tahu dari balik pintu. Hanya satu detik. Dia memberikan anggukan kecil, sopan, lalu kembali memperhatikan Kolonel Reed.
Tapi bagi Scarlett, satu detik itu sudah cukup. Dunia yang membosankan tiba-tiba menjadi tajam dan jelas. Dia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, seperti kupu-kupu, tapi lebih dalam. Dia melihat cara ayahnya—sang raksasa yang jarang memuji—memperlakukan Rhys dengan hormat. Dia melihat ketenangan dan kecerdasan di mata Rhys. Itu bukan seperti ketertarikan pada bintang pop atau aktor. Ini seperti menemukan bukti bahwa ada sesuatu di luar dunia artifisial ibunya (rumah mode) dan dunia keras ayahnya (militer) yang layak untuk dikejar. Sesuatu yang nyata, kuat, dan... elegan dalam kesederhanaannya.
Dia tidak pernah berbicara padanya. Malam itu berakhir. Tapi nama Rhys Cavanaugh terukir di memorinya.
Kembali ke Masa Kini – Cranwell
Scarlett menyimpan rahasia itu lebih dalam daripada rahasia negara manapun. Bahkan ayahnya tidak tahu bahwa pertemuan singkat bertahun-tahun lalu telah mengubah arah hidup putrinya. Ketika dia mendengar melalui jaringan ayahnya bahwa Flight Lieutenant Rhys "Frost" Cavanaugh—penerbang ulung dengan masa depan cerah—akan ditugaskan sebagai instruktur di Cranwell, keputusannya untuk masuk RAF bukan lagi hanya untuk membuktikan diri atau mengamati Dawson dan Thorne. Itu adalah langkah terakhir dalam rencananya yang telah bertahun-tahun: berada di orbit yang sama dengan Rhys Cavanaugh.
Dan sekarang, dia ada di sini. Di kelasnya. Di bawah komandonya.
Melihat Rhys dari dekat lebih menyakitkan dan lebih indah dari yang dia bayangkan. Dia lebih matang, lebih tegas, lebih… substantial. Setiap kali Rhys memasuki ruangan, udara seakan berubah. Dan setiap kali dia memanggilnya “Reed” dengan suara datar dan profesionalnya, jantung Scarlett berdegup kencang, padahal wajahnya tetap dingin seperti batu nisan.
Konflik Baru yang Mendidih
Pengetahuan Scarlett tentang Rhys memberinya keunggulan sekaligus siksaan. Dia tahu dia menyukai kopi hitam tanpa gula. Dia tahu dia menghargai presisi di atas kecepatan buta. Dia tahu tatapannya yang analitis itu bisa melelehkan kepercayaan diri siapa pun.
Itulah mengapa, ketika dia melihat perhatian Rhys mulai tertuju pada Amelia, rasanya seperti pisau tumpul yang dipelintir di dalam dadanya.
Di ruang simulator, sesi ekstra Amelia dengan Rhys.
“Bagus,Thorne. Sekarang, bayangkan mesin kanan mati. Apa yang kau lakukan?” suara Rhys terdengar dari interkom, lebih lembut daripada biasanya.
Amelia menjawab dengan suara tegas,tetapi Scarlett bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang di telinganya. Dia mengawasi dari konsol observasi, jari-jarinya mengetuk logam dingin dengan ritme gugup.
Rhys tertawa kecil—tertawa!—saat Amelia berhasil melakukan pemulihan dengan sempurna.“Luar biasa. Instingmu mulai berkembang.”
Scarlett mencatat dalam pikirannya:Senin, 14.30. Frost tertawa karena Thorne. Frekuensi: pertama kalinya. Tingkat ancaman terhadap misi pribadi: meningkat.
Komedi yang Pahit
Persahabatan Scarlett dengan Amelia kini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, itu memungkinkannya memantau Amelia (dan Rhys) dari dekat. Di sisi lain, mendengarkan Amelia mengeluh tentang “Cavanaugh yang terlalu teliti” atau “Sir yang menuntut” terasa seperti racun.
“Aku rasa dia sengaja membuat hidupku sengsara,” keluh Amelia suatu malam, mengutak-atik model pesawat kertas.
“Dia hanya berusaha membuatmu menjadi yang terbaik,”jawab Scarlett, berusaha keras agar suaranya tidak terdengar datar. “Dia tidak membuang waktunya untuk orang yang tidak punya potensi.” Seperti yang dia lakukan padaku, pikirnya dengan getir. Rhys tidak pernah memberinya perhatian khusus, meski nilainya selalu nyaris sempurna.
“Ya,mungkin. Tapi kadang aku merasa dia mengawasiku seperti elang,” tambah Amelia.
Jika saja kau tahu,pikir Scarlett.
Kai, dengan radar rivalnya yang tajam, mulai mencium sesuatu.
“Reed kelihatan aneh akhir-akhir ini,”bisiknya kepada Amelia saat latihan lapangan. “Dia seperti… lebih dingin. Apakah kalian bertengkar?”
“Tidak.Kenapa? Kau jadi perhatian padanya sekarang, Dawson?” sahut Amelia dengan sinis.
“Jangan konyol.Aku hanya berpikir, ular itu mungkin sedang menyimpan bisa untuk sesuatu. Atau untuk seseorang.”
Kai tidak tahu seberapa dekat tebakannya.
Puncak Ketegangan: Pesta Akhir Fase
Sebuah pesta informal diadakan di mess perwira untuk merayakan penyelesaian fase advanced training. Untuk pertama kalinya, kadet dan instruktur berkumpul dalam suasana semi-sosial.
Rhys hadir, mengenakan seragam dinas, terlihat santai namun tetap berwibawa. Banyak kadet wanita (dan beberapa pria) meliriknya, tetapi dia hanya terlibat percakapan ringan dengan sesama instruktur.
Amelia, didorong oleh Scarlett (yang berpura-pura mendukung), memutuskan untuk mendekati Rhys untuk bertanya tentang karir penerbang tempur. Scarlett mengamati dari balik gelasnya, jari-jemarinya mencengkram kaca hingga keputihan.
Dan kemudian, itu terjadi.
Rhys tersenyum pada Amelia—bukan senyum instruktur, tapi senyum yang tulus, tertarik. Dia membungkuk sedikit untuk mendengarkannya, menciptakan ruang intim di tengah keramaian. Mata biru keabuannya berbinar.
Bagi Scarlett, segalanya melambat. Suara memudar. Dia hanya melihat mereka berdua. Rasa sakit yang tumpul di dadanya meledak menjadi amarah yang dingin dan tajam. Bukan pada Rhys. Tapi pada Amelia Thorne.
Dalam sekejap, semua data yang dia kumpulkan, semua observasi tentang kelemahan Amelia, semua dinamika antara Amelia dan Kai, berputar di kepalanya. Bukan lagi sebagai bahan eksperimen yang menarik. Tapi sebagai senjata.
Dia melihat Kai di seberang ruangan, juga mengawasi Amelia dan Rhys, dengan cemberut dan tangan terkepal. Sebuah ide yang gelap dan sempurna mulai terbentuk di benak Scarlett.
Misi pribadi telah berubah, catatnya dalam pikiran, wajahnya masih seperti topeng yang tenang. Parameter: Eliminasi ancaman terhadap target hati (Rhys Cavanaugh). Metode: Memanfaatkan aset yang ada (Kai Dawson) dan kelemahan target sekunder (Amelia Thorne). Objektif: Memisahkan Thorne dari Cavanaugh, dan mengalihkan dinamika kembali ke Dawson-Thorne. Bonus: Jika Dawson terluka dalam proses, itu akan mengurangi faktor gangguan.
Scarlett meneguk minumannya, rasa pahitnya cocok dengan suasana hatinya. Senyum tipis kembali menghias bibirnya, tetapi kali ini, tidak ada lagi kehangatan palsu untuk Amelia. Hanya ada kalkulasi yang dingin.
Pertempuran di udara mungkin tentang fisika dan keterampilan. Tapi pertempuran di darat, pertempuran untuk hati, adalah tentang psikologi dan pengorbanan. Dan Scarlett "Viper" Reed baru saja memutuskan untuk mengeluarkan bisanya.
Persahabatannya dengan Amelia telah mencapai garis finis. Perang dingin antara Dawson dan Thorne akan menjadi perang proksi. Dan Rhys Cavanaugh, sang "Frost" yang tidak bersalah, akan menjadi hadiah yang bahkan tidak dia ketahui sedang diperebutkan.
Malam itu, saat Scarlett pulang ke asrama, dia membuka laci tersembunyinya. Di antara pita dan jepit rambut, ada foto usang yang diambil diam-diam delapan tahun lalu: seorang remaja bernama Rhys dengan seragam kadet, berdiri di depan lukisan Spitfire.
"Kau akan menjadi milikku, Rhys Cavanaugh," bisiknya pada foto itu, suaranya bergetar antara kerinduan dan tekad baja. "Semua ini... semua yang telah aku lakukan... adalah untuk mencapai ketinggian yang sama denganmu. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangiku."
Di luar, mesin pesawat latih menderu lepas landas, membawa muatan mimpi dan ambisi lainnya. Tapi di dalam hati Scarlett Reed, hanya ada satu misi yang tersisa: menaklukkan sang Frost, tidak peduli berapa banyak yang harus membeku atau hancur dalam prosesnya.