Habis sudah stok pikiran positif pada Arin, saat ia melihat jam yang menggantung di dinding. Pukul empat subuh, tapi Fachri tak kunjung pulang. Ia juga sudah menghubungi menggunakan telepon rumah, tapi tetap saja tidak bisa dihubungi. Semakin memperkuat firasat Arin yang mengatakan Fachri tahu yang mengantarkannya pulang adalah Zidan. Namun, saat mengingat Fachri tidak menggunakan kacamata, ada secercah harapan yang masih bisa menahan agar ia tidak menangis subuh-subuh buta seperti sekarang. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Fachri di sisinya. Zidan memang masih ia cintai, tapi Fachri adalah alasan baginya bisa tetap hidup hingga sekarang. Jika tanpa Fachri, tidak akan mungkin dirinya dan Via bisa hidup layak tanpa cibiran orang. Dan saat Arin mendengar suara mobil yang memasuk

