BAB 6 Ide Gila

1033 Words
POV Nanda Aku tak berani untuk berbalik, aku tunggu saja dia menghampiri kami. "Ehm permisi." Suara laki-laki yang ku duga bernama Reza Aku pun menoleh, dan betapa terkejutnya aku, ternyata kak Reza yang di maksud oleh Whika adalah orang yang sangat aku kenal, pantas saja suaranya begitu familiar ku dengar. "Om Reza ?" Tanyaku kaget ? "Eh Nanda ?" Jawabnya tak kalah kaget. "Tunggu sebentar yah 0m, Nanda mau bicara sama Whika dulu." Kataku sambil memberi kode kepada Whika agar dia ikut denganku, banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. "Om Reza itu teman kamu ? Yang ingin kamu kenalin sama aku ?" Tanyaku pada Whika ketika kami sudah berada di Restroom Wanita "Iya, kamu suka kan ? Dia gantengkan ? Eh tapi kayaknya kalian udah saling kenal yah ?" Tanya nya tanpa merasa bersalah, padahal aku udah ingin meledak, bisa-bisanya dia berniat jodohin aku sama lelaki tua yang seumuran dengan ayahku, sudah beristri pula. "Kamu gila yah Whik ? kamu tau kan kalau dia sudah beristri ? Terus kenapa kamu kenalin ke aku ? Apa segitu tidak lakunya aku dimata kamu ? Sampai kamu nyariin aku cowok yang umur nya semuran dengan ayahku dan sudah punya istri ? Segitu jeleknya kah aku dimata kamu Whik ?" Tanyaku dengan nada suara naik beberapa oktaf. "Eh tenang dulu, jangan langsung emosi kayak gitu dong, dengerin aku du..." belum selesai Whika bicara aku langsung memotongnya. "Nggak usah jelasin apa-apa lagi, orang aku kenal kok sama 0m Reza, aku kecewa sama kamu Whik." Kata ku sambil berjalan keluar dari restroom. Tiba" Whika menarik tanganku. "Tunggu dulu Nan, dengar aku dulu, aku mau jelasin hal penting sama kamu, tapi nggak disini, sekarang kita keluar dulu lalu kita pamit sama om Reza, terus nanti aku jelasin sama kamu dirumah aku yah, plisss." Katanya memohon. Kalau nggak mengingat semua kebaikan Whika selama ini, aku pasti langsung pulang sendiri dan tidak mau peduli soal Whika dan 0m Reza, tapi biar bagaimanapun Whika sangat berjasa dalam hidupku, jadi terpaksa aku mengikuti kemauannya. "Yah sudah ayo." Jawabku lagi. Sesampainya kami di meja, Whika langsung pamit sama 0m Reza, dia beralasan kalau ada urusan tiba-tiba". "Kak maaf yah kami harus pamit dulu, tiba-tiba ada urusan, nanti kita ketemuan lagi yah, biar bisa ngobrol lebih banyak." Kata Whika dengan raut wajah merasa tidak enak kepada 0m Reza. "Oh iya udah nggak apa-apa, nanti kabari lagi aja yah." Kata 0m Reza sedikit salah tingkah, mungkin dia sedikit kaget karena ternyata perempuan yang dikenalkan padanya adalah aku, anak dari rekan kerja nya. 15 menit perjalanan akhirnya kami sampai di rumah Whika. "Sekarang jelaskan, apa alasan kamu nyomblangin aku sama pria tua yang sudah beristri?" Tanyaku dengan raut wajah kesal. "Gini yah aku jelasin, kak Reza itu bukan pria tua, tapi pria dewasa, bedain dong tua dan dewasa." Protesnya "Yah sudahlah terserah kamu mau nganggap dia dewasa atau tua, tapi kamu tahu kan dia punya istri ? terus kenapa kamu malah ngenalin ke aku ? Emang kamu mau aku ngerusak Rumah Tangga orang lain ? Kamu ingin aku jadi pelakor ?" Tanyaku lagi, aku tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat ku ini. "Rumah Tangga 0m Reza sudah hancur, jauh sebelum aku berniat mempertemukan kalian, nggak mungkin juga aku jadiin kamu pelakor, aku kan sahabat kamu, aku cuma ingin kamu bahagia, kamu kan pernah cerita nggak pernah ngerasain kasih sayang dari orang tua kamu sejak kamu kecil." Jawabnya. "Iya terus apa hubungannya ?" Tanyaku bingung. "Gini, ini berdasarkan pengalaman aku yah, jujur saja, sebenarnya kak Reza itu temennya pacar aku, pacar aku itu yah seumuran lah dengan kak Reza, sudah beristri juga, tapi rumah tangganya tidak harmonis, makanya aku dan dia menjalin hubungan. Dia orang nya baik, dewasa dan caranya memperlakukan aku itu beda dari cowok-cowok yang seumuran kita-kita ini. Aku seperti mendapat kasih sayang dari seorang pacar dan juga seorang ayah. Tapi yang lebih penting bukan hanya sekedar kasih sayang, tapi dari segi materi pun kita tercukupi, berlebihan malah. Selama ini kamu liatkan ? Aku sering belanja ini itu, semua itu uang dari pacar aku. Makanya aku ingin jodohin kamu sama kak Reza, niat aku hanya supaya kamu bisa bahagia juga." Jelasnya panjang lebar. Aku hanya diam tak menanggapi penjelasan Whika, tapi kalau dipikir-pikir semua yang dikatakan Whika ada benarnya juga, tapi masa iya aku harus pacaran sama 0m Reza. "Emang 0m Reza mau sama aku ?" Tanpa sadar kalimat itu lolos dari bibir ku. "Kalau soal itu mah gampang, serahkan sama Whika" Jawabnya cepat "Yah sudah terserah kamu aja." Jawabku lagi. Matahari hampir terbenam, itu artinya sebentar lagi langit mulai gelap, aku pun pamit pada Whika. "Whik aku pulang dulu yah, udah mau magrib nih, aku naik taksi online aja." Kataku. "Yakin ? Nggak mau aku anter." Tanya nya. "Nggak usah, aku udah order taksi online, tuh mobilnya udah dateng, aku jalan dulu yah, byeee." Kata ku sambil berjalan menuju pintu. "Yah udah deh, bye. Hati-hati yah." Katanya sambil melambaikan tangan. Sudah 20 menit lebih aku didalam mobil, tapi belum juga sampai dirumah, yah jam segini memang jalanan lagi padat-padatnya, karena kepadatan penduduk di kota besar yang tinggi akibat urbanisasi, sehingga dengan penduduk yang padat maka kendaraan semakin banyak dan lalu lintas di jalan raya meningkat menjadi macet. Bertepatan dengan adzan Isya berkumandang akupun sampai dirumah, yah tadi sempat mampir makan dulu di jalan, berhubung sopir taksinya mau singgah melaksanakan Sholat Magrib, dan kebetulan disamping mesjid ada rumah makan, jadi sekalian aja aku makan, perut ku juga sudah sangat lapar. Setelah dibukakan pintu oleh adikku yang bernama Kiki aku langsung masuk menuju kekamar, ketika hendak kekamar aku melewati ruang tengah ternyata keluarga ku lagi berkumpul, mereka sedang bercanda bersama sambil menikmati kudapan, keluarga yang bahagia dan harmonis, batinku. Jujur, melihat keakraban mereka seperti itu tak bisa dipungkiri hati ini masih merasa sakit. "Nanda sini nak." Panggil ibu ketika melihatku hendak ke kamar. "Aku capek, mau langsung tidur aja." Jawab ku cuek. "Terlambat!! Mengapa bukan dari dulu ? Sekarang hatiku sudah mati rasa terhadap keluarga ku sendiri." Batinku. Setelah bersih-bersih dan memakai serangkaian skin care ku, aku memilih merebahkan diri, lelah rasanya hari ini. Aku kembali teringat dengan kata-kata Whika, apa sebaiknya aku coba saja dulu yah, kalau emang aku enggak nyaman, yah tinggal putusin aja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD