BAB 2 Jelek adalah Takdir ku

1035 Words
POV Nanda Aku lalu mencari-cari rekomendasi skin care yang bagus. RA skin care, yah aku tertarik dengan produk itu, testimoni nya juga banyak dan harganya juga tidak terlalu mahal. Tak sabar rasanya menunggu Ayah dan Ibu ku pulang, aku ingin meminta izin dan minta uang tentunya buat beli Skin Care. Jam menunjukkan pukul 20.30, Ayah, Ibu dan Ninda adik ku sedang berkumpul di ruang keluarga, aku segera bergabung menghampiri mereka. "Ibu, boleh nggak aku beli skin care?" tanyaku sambil memasang wajah penuh permohonan. "Emang kalau kamu beli skin care wajah kamu bisa berubah menjadi cantik ?" Ibu balik bertanya pada ku. "Iya bu aku yakin, nanti Wajah ku bakalan Cantik dan Glowing," Jawab ku meyakinkan Ibu. "Iya bu, beliin aja kakak skin care, semoga dengan memakai skin care kak Nanda bisa berubah menjadi cantik, kasian kak Nanda selalu di ejek sama teman-temannya bu." Tiba-tiba Ninda adik ku ikut menimpali. "Ya udah, besok ibu kasih uang nya nanti kamu yang beli sendiri," Kata ibuku. "Makasih bu," kataku sambil tersenyum bahagia. "Iya," Jawab ibu datar. Aku tidak sabar menunggu besok pagi, jam rasanya berjalan lambat sekali, aku tak hentinya bercermin dan membayangkan Wajah ku yang cantik dan Glowing. Pagi pun tiba, terdengar kicauan burung yang merdu menambah kebahagiaan hati ini dan berhubung hari ini hari minggu itu artinya hari ini aku libur sekolah dan jadwal ku hari ini adalah ke toko kosmetik untuk membeli skin care. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap meluncur untuk membeli kecantikan ku, eh membeli skin care maksudnya hehe. "Permisi Mbak aku mau beli skin care merk RA, ada nggak mbak ?" Tanyaku pada salah satu penjaga kosmetik yang wajah nya sangat cantik menurut ku. "Oh iya ada dek, sepaket itu terdiri dari 1 night cream, 1 sun screen, 1 facial Wash dan 1 toner harganya itu 300.000, kalau mau dengan serumnya harganya itu 420.000." Jawabnya ramah sambil memperlihatkan produk itu satu persatu. "Oh iya mbak aku mau yang sepaket dengan serumnya yah," Jawab ku bersemangat. Setelah melakukan transaksi dikasir aku pun bergegas pulang ke rumah. Saat malam sebelum tidur tak lupa aku memakai rangkaian skin care ku, untuk pemakaian pertama belum ada reaksi apa-apa tapi aku akan sabar dan rutin melakukan perawatan agar aku bisa berubah dari itik yang buruk rupa menjadi angsa yang putih dan cantik. "Wah Nanda kamu cantik sekali, pangling aku," kata salah satu temanku ketika aku berjalan masuk ke kelas. "Wah iya yah Nanda cantik sekali, kayak artis korea sahut teman ku yang lain. "Iya dong, sekarang nggak ada lagi Nanda si itik buruk rupa,"kataku sedikit menyombongkan diri. Kriinggg kriiinggg kriinggg, bunyi jam alarm membangunkan ku. "Ahhh ternyata cuma mimpi, dan sebentar lagi mimpi itu pasti bakal jadi kenyataan," gumam ku. 3 hari telah berlalu, 3 hari pula aku telah melakukan perawatan rutin dengan skin care yang aku beli 3 hari yang lalu, tapi reaksinya tidak sesuai yang aku harapkan. Wajah ku rasanya gatal dan perih, jerawat ku pun makin subur tumbuh disegala tempat, rasanya ingin teriak ketika aku melihat wajahku di cermin yang semakin buruk saja, tak sanggup rasanya kesekolah, aku tak sanggup membayangkan ejekan dari teman-temanku, apalagi sejak kemarin aku udah berani melawan teman-teman yang mengejek ku buruk rupa, aku mengatakan bahwa liat saja nanti aku bakalan berubah menjadi cantik dan kalian pasti bakalan terheran-heran. Tapi kenyataannya sekarang malah berbanding terbalik, rasanya aku ingin berhenti sekolah saja, tak sanggup rasanya menghadapi teman-teman sekolah ku, tapi mau tidak mau aku harus tetap berangkat kesekolah. Aku pun bergegas mandi dan menuju keruang makan untuk sarapan. "Nanda muka kamu kok kayak gitu ? Bukannya makin cantik malah makin jelek gitu ?" Tanya ibuku sambil memperhatikan wajahku. "Iya bu Nanda juga nggak tau mungkin aku nggak cocok dengan cream yang kemarin aku beli," jawab ku. "Padahal sebentar malam dikantor ayah ada acara, kita semua mau kesana, kamu nggak usah ikut aja deh, kamu jaga rumah aja sendiri, biar ayah, ibu dan adik mu saja yang pergi" kata ibu. Aku hanya diam, tak tahu harus berkata apa, sedih rasanya dibeda-bedakan oleh ibu kandung sendiri hanya karena aku jelek. "Jangan gitu dong bu, kasian Nandaa kalau ditinggal sendiri, biarin aja dia ikut, dia kan anak kita juga," timpal ayah membela ku. "Yah udah deh terserah," jawab ibu ku cuek. Setibanya di sekolah, seperti biasa aku disambut dengan ejekan-ejekan dari teman-teman ku. "Wahh selamat datang Nanda yang cantik," kata Sofyan sambil menutup mulutnya menahan tawa. "Iya yah sekarang Nanda sudah cantik, jerawat nya sudah berkurang, berkurang tempat buat tumbuh maksud nya hahahaha,"kata temanku yang lain diikuti dengan gelak tawa semua teman kelas ku, kecuali Uni. Aku hanya diam dan berjalan menuju ke bangku ku, aku nggak boleh nangis, aku harus kuat, aku harus bisa berubah menjadi cantik bagaimana pun caranya, akan ku balas mereka yang selalu mengejekku. -------------- "Baju buat Nanda mana bu?" Tanyaku pada ibuku ketika ibu pulang hanya membawa satu gaun yang sangat cantik untuk Ninda adikku. "Kamu pake gaun yang kamu punya aja, percuma juga pakai gaun bagus kalau muka kamu kayak gitu, mau pakai gaun bagus atau enggak, enggak bakal ada efeknya, tetap aja kamu jelek," jawab ibuku santai tanpa memikirkan perasaanku. "Ibu jangan ngomong gitu, kasian kak Nanda bu," kata Ninda, mungkin dia kasian padaku. Aku hanya diam menahan rasa sakit hati atas perkataan dan kelakuan ibuku sendiri. Salahkah kalau aku jelek ? Seandainya bisa memilih, aku pun ingin punya Wajah yang cantik seperti adikku. Ibu kandung yang harusnya memberi ku dukungan ketika aku di ejek oleh teman-teman ku, tapi malah ibuku juga ikut menghina ku, pilih kasih, membeda-bedakan aku dengan adikku. Dari kecil aku berusaha bersabar walaupun ibuku kerap berlaku tidak adil padaku. Pernah suatu hari ibu kedatangan tamu dirumah, dia hanya memperkenalkan Ninda adikku sebagai anaknya kepada teman-temannya, dan aku dikurung dikamar, tidak boleh menampakkan wajahku pada teman-temannya, yah wajah ku yang buruk rupa memang harus disembunyikan. Sedih rasanya kalau mengingat masa kecilku yang buruk, seburuk dengan wajahku. Rasa sabar atas perlakuan ibuku yang pilih kasih sekarang berganti dengan rasa dendam. Yah aku dendam, aku marah dengan ibuku sendiri, ibu yang tega terhadap anak kandungnya sendiri, cukup sudah aku bersabar selama ini. Aku juga benci sama Ninda adikku, lebih tepatnya aku iri padanya yang terlahir dengan wajah yang cantik dan sangat di sayang oleh ibuku dan ayahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD