BAB 3 Ada Harapan

1103 Words
POV Ibu Nanda Namaku Rianti seorang ibu dari 2 (empat) orang anak perempuan. Aku bekerja sebagai seorang Manager di perusahaan yang cukup besar di Kota ku. Aku menikah dengan seorang pengusaha. Kami dikaruniai anak pada usia 5 tahun pernikahan kami, setelah penantian panjang dan berbagai usaha yang aku dan suami ku lakukan akhirnya aku bisa h4mil. "Sayanggg, bagaimana hasilnya ?" Tanya suamiku sambil mengetuk pintu kamar mandi dari luar. Aku deg-degan rasanya tidak sanggup melihat hasil tesp3k ku, aku takut kecewa, aku takut mengecewakan suamiku. "Sayaaangg kamu kenapa diam ? Kamu baik-baik saja kan di dalam ? Nggak apa-apa sayang kalau hasilnya negatif, kita berusaha lagi yah, tapi tolong buka pintunya dulu, mas khawatir," kata suami ku sambil terus mengetok pintu. Aku langsung membuka pintu kamar mandi tanpa melihat hasil tesp3k ku, karena aku yakin hasilnya pasti negatif lagi. Ketika pintu terbuka, aku langsung memberikan tesp3k ku kepada suamiku. "Sayang kamu hamil!!" Serunya sambil memelukku "Mas nggak usah bercanda, nggak lucu," jawabku kesal. "Mas serius sayang, nih liat hasilnya dua garis, kalau dua garis itu artinya kamu hamilkan sayang ?" Tanya nya sambil menunjukkan hasil tesp3k ku. Aku meraih dan melihat nya, aku tak kuasa menahan air mataku ketika melihat hasilnya memang benar dua garis. Setelah 5 tahun menunggu akhirnya Allah "Alhamdulillah ya Allah, terima kasih yah sayang," kata suamiku sambil memeluk ku. Kehamilan ini sangat menyiksa ku, tapi aku menikmati nya bagi ku ini adalah anugerah terindah dari tuhan. Setelah sembilan bulan mengandung, akhirnya aku melahirkan seorang bayi yang lucu, aku dan suamiku sangat bahagia dan sangat menyayangi anak kami, kami memberinya nama Nanda Amelia, tapi kami sering memanggil nya Nanda. Saat Nanda berusia 1 tahun, Tuhan kembali memberi ku kepercayaan, aku hamil lagi. Dan ketika anak kedua ku lahir parasnya jauh berbeda dengan puteri pertama ku, Nanda. Puteri kedua ku yang aku beri nama Ninda, parasnya sangatlah cantik, kulitnya putih bersih, berbanding terbalik dengan puteri pertama ku. Entah mengapa sejak kelahiran puteri kedua ku, aku tidak terlalu peduli lagi pada Nanda, aku akui aku memang kerap berlaku tidak adil padanya. Walaupun Nanda anak yang pintar, baik dan penurut, aku tidak terlalu peduli padanya, aku juga bingung kok bisa yah aku membenci anak aku sendiri, bukan benci sih, tapi males aja liat mukanya yang jelek dan hitam itu. Pernah suatu waktu aku reunian sama teman-teman kuliah ku, aku membawa Nanda dan Ninda. Teman-teman ku mengira kalau Nanda adalah anak dari pembantu ku, memalukan bukan ? Padahal baju yang dikenakan Nanda adalah baju yang bagus dan mahal, sama persis dengan baju yang dikenakan oleh Ninda, sedangkan Ninda selalu dipuji oleh teman-temanku, hal itu semakin membuat ku malas pada Nanda. Sejak kejadian itu, aku tidak mau lagi mengajak Nanda kalau aku ingin bertemu dengan teman-teman ku. Aku akui aku memang jahat tak menganggap anak ku sendiri, tapi mau bagaimana lagi, aku malu. *** POV Nanda Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa aku sudah duduk di bangku kelas 3, dan hari ini adalah hari terakhir aku melangsungkan ujian kelulusan. Saat pengumuman kelulusan tiba, aku sangat senang karena aku lulus dan mendapatkan nilai tertinggi, dan aku juga mendapatkan beasiswa di Universitas ternama di kota ku, aku tak sabar menyampaikan kabar bahagia ini kepada orang tua ku, tapi apakah mereka akan senang atau bangga ? Mengingat setiap aku mendapat juara di kelas, tapi tanggapan mereka biasa-biasa saja, jangankan memberi hadiah, memberi selamat saja tidak pernah, sedangkan kepada Ninda adikku, walaupun dia hanya masuk Lima besar tapi orang tuaku, terutama ibu ku, selalu membangga-banggakannya, betapa pilih kasihnya mereka, dan itu membuatku muak. "Bagaimana berkas-berkas kamu apakah sudah lengkap semua untuk mendaftar kuliah nak?" Tanya ayah ku ketika aku sedang sibuk memasukkan berkas-berkasku ke dalam map. "Iya sudah ayah, sekarang aku mau berangkat ke Universitas RR untuk mengumpulkan berkas ku," jawab ku "Oh syukurlah, yah sudah kamu hati-hati yah nak," kata ayah ku lagi. "Iya ayah, aku pergi dulu yah" jawab ku sambil mencium tangan ayahku. Yah ayah ku memang pilih kasih, tapi masih memberi ku sedikit perhatian, berbeda dengan ibuku, yang sedikitpun tidak pernah memberi ku perhatian. Ketika sampai di Universitas RR, aku langsung menuju ke bagian pendaftaran, mengambil formulir dan langsung mengisinya, aku berniat mengambil jurusan Farmasi, dari jauh-jauh hari aku memang sudah berniat mengambil jurusan farmasi, agar nanti nya aku bisa meracik obat dan skin care yang cocok buat kulit ku. Hari pertama masuk kuliah tidak seburuk perkiraanku, ternyata teman-teman kampus ku semuanya baik, berbeda dengan teman masa SMA ku dulu. "Hai nama kamu siapa ? Kalau nama ku Whika," katanya sambil mengulurkan tangannya mengajak ku berjabat tangan. "Hai nama ku, Nanda." Jawab ku sambil membalas uluran tangannya. "Sekarang kan jam istirahat, yuk kita ke kantin,"ajaknya. "Ayo," Jawabku. Tiba di kantin kami langsung mengambil temoat duduk lalu memesan makanan. "Whika apa kamu nggak malu jalan sama aku ? Kamu kan cantik sedangkan aku sangat jelek, aku jadi minder jalan sama kamu," kataku sambil menundukkan kepala merasa malu dan sedih dengan wajah jelek ku. "Loh kenapa mesti malu ? kita kan semua sama di mata tuhan, hanya iman kita yang membedakan, ayo ah nggak usah minder kayak gitu, kamu harus percaya diri, nggak usah dengerin apa kata orang, lagian kamu juga manis, tinggal di poles dikit aja," Jawabnya. "Ah masa sih aku manis ? Nggak usah ngehibur aku kayak gitu, aku sudah biasa kok di hina dulu saat SMA, bahkan orang tua ku sendiri nggak sayang sama aku karena aku jelek, mereka sering membeda-bedakan aku dengan adikku," kataku. "Sampe segitunya ? Kamu itu sebenarnya nggak jekek kok, kamu itu manis, cuma yah kulit kamu agak hitam dan kusam, dan jerawat kamu parah, makanya manisnya kamu nggak keliatan, Yah sudah nanti kalau kamu ada waktu, kamu main ke rumahku yah, aku akan merubah kamu menjadi cantik," Katanya lagi. "Yang benner ? Ok deh besok lusa aku ke rumah kamu yah, besok lusa kan hari sabtu, kita libur kuliah," kata ku bersemangat. "Oke deh, tapi apa sebelumnya kamu nggak pernah ke dokter kulit atau ke klinik kecantikan?" Tanya nya lagi. "Belum pernah, tapi aku pernah pake skin care merk RA, aku belinya di toko kosmetik di deket rumah aku, tapi yah gitu bukannya jadi cantik, malah muka aku makin hancur, kayaknya aku nggak cocok." Jelas ku. "Yah itu sih salah kamu sendiri, udah tau muka yang jerawatan itu sensitif, nggak boleh asal pake skin care, harus konsultasi dulu sama ahlinya, permasalahan kulit kamu apa, jenis kulit kamu apa, setelah itu baru deh nentuin jenis skin care yang cocok, jangan langsung asal pake aja." Jelasnya panjang lebar. "Oh gitu yah, aku nggak tau, aku pikir semua skin care itu manfaatnya semua sama untuk perawatan agar wajah terlihat cantik." Jawab ku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD