SELAMAT MEMBACA!
☆☆☆
Hari demi hari terlalui dengan begitu cepat. Tepat hari ini, hari ke empat belas Raefal menjadi bagian dari SMA Cakrawala.
Dua minggu lagi, turnamen basket akan segera di mulai. Raefal harus berlatih semaksimal mungkin agar ia tidak mengecewakan teman-temannya yang sudah menaruh harapan besar kepadanya nanti.
Maka dari itu, selama dua minggu berturut-turut ini, Raefal rutin berlatih setiap pulang sekolah dan yang pastinya selalu di temani oleh kehadiran Zea.
Bel dua kali tanda istirahat akhirnya berbunyi. Raefal bisa bernapas lega karena akhirnya pelajaran yang paling tidak ia sukai, pelajaran yang selalu membuat kepalanya pusing karena angka-angka dan segudang rumus yang terus menghantuinya selesai untuk hari ini.
Niat awal Raefal memasuki jurusan IPS salah satunya adalah itu, ia ingin sekali menghindari pelajaran keramat tersebut. Namun sayang, MATEMATIKA selalu muncul di mana-mana. Apakah matematika tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri? Mengapa ia harus merepotkan banyak orang untuk menyelesaikannya? Huh.
Dari pada pusing memikirkan pelajaran yang sudah berlalu, Raefal akhirnya beranjak dari duduknya untuk segera menuju kantin. Kebanyakan melihat rumus, membuat cacing-cacing di perutnya meminta jatah.
Seperti biasa, Raefal akan pergi ke kantin bersama dengan Adit, Rayta dan tentu saja Zea. Namun, sepertinya hari ini bertambah satu, karena Bara baru saja datang menghampiri kelas mereka.
"Bara, kamu kemana aja?" Tanya Zea ketika Bara sudah berada di hadapannya.
Bara tersenyum manis pada Zea seperti biasanya, "Emang kenapa? Kangen, ya?" Ucap Bara seraya menepuk puncak kepala Zea.
Namun, Bara tersadar ia tidak seharusnya melakukan hal tersebut kepada Zea. Bara akhirnya melangkah menjauh sedikit dari Zea dan berdiri di samping Rayta.
Zea menatap Bara bingung, biasanya Bara akan dengan senang hati selalu berada di sampingnya. Tapi ... mengapa sekarang Bara memilih untuk berada di samping Rayta?
Zea bukannya cemburu atau apa, tapi Zea merasa ada yang berbeda dari sikap Bara kepadanya. Bara seperti ... menjauhi dirinya, mungkin? Ah tapi Zea tidak mau berpikir yang macam-macam, Zea pun tersenyum menatap Bara dan Rayta.
"Tata sama Bara lagi deket, ya? Ayoo, ngaku!" Tuduh Zea pada Rayta dan Bara yang sontak menautkan kedua alisnya secara bersamaan, bingung atas ucapan Zea.
"Deket dari hongkong! Ngaco aja lo!" Rayta mendelik malas pada Zea.
Sedangkan Zea menyengir dengan lebar, "Hehe ... abisnya tumben banget Bara di samping kamu, biasanya kan selalu nempel sama aku."
"Jadi ... lo cemburu gitu?" Tanya Bara akhirnya.
Zea malah tertawa terbahak-bahak. Zea lalu menghampiri Raefal dan dengan tidak berdosanya menggandeng lengan Raefal dengan erat. "Cemburu sama kalian? Ya, ngga dong! Kan pacar aku Raefal." Ucap Zea dengan bangganya mengatakan Raefal sebagai kekasihnya. Padahal, Raefal belum menyatakan perasaannya secara resmi pada Zea. Gadis itu memang terlalu percaya diri.
"Oh iya, malahan bagus kalau Tata sama Bara beneran pacaran. Bara tau ngga? Tata suka lho sama Bara."
Rayta langsung membolakan matanya tak percaya, apa-apaan Zea? Mengapa gadis itu berkata demikian?
"ZEAA!" Suara Rayta menggema di dalam kelas dan Zea langsung berlari sambil menggandeng Raefal dengan tawa yang menghiasi wajahnya. Zea senang, ia berhasil mengerjai Rayta.
Zea berhenti berlari karena ia sudah ngos-ngosan. Berlari sambil tertawa capek juga ternyata.
"Jail banget ya jadi orang!" Raefal menarik hidung Zea sekilas.
"Biarin. Sekali-kali jailin Tata, kali aja mereka beneran jadian. Nanti kan aku bisa di traktir sepuasnya sama mereka." Zea kembali tertawa membuat Raefal hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Udah jangan ketawa mulu. Lo kayak orang gila, tahu!" Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Raefal melangkah menjauh meninggalkan Zea yang sedang memanyunkan bibirnya.
"Orang Zea cantik, enak aja di bilang gila!" Ucap Zea seraya mengibaskan rambut cokelatnya yang tergerai indah dengan kedua tangannya, lalu mulai berlari menyusul Raefal.
****
"Raefal, bangun."
"Ck, Raefal bangun, ih! Kamu kok lama banget sih tidurnya?" Zea mengguncangkan bahu Raefal untuk ke sekian kalinya, pasalnya Zea sudah membangunkan Raefal sejak dua puluh menit yang lalu, tepat saat bel pulang sekolah berbunyi.
Zea pantang menyerah, ia terus mengguncangkan bahu Raefal dengan cukup kencang. Namun, Raefal tak terusik sedikitpun dari tidurnya.
Raefal tertidur sejak satu jam yang lalu, saat pelajaran PPKN tengah berlangsung. Ia tertidur dengan menelungkupkan kepalanya di atas lipatan kedua tangannya yang ia taruh di atas meja.
"Raefal, bangun! Emangnya kamu mau nginep di sini?" Kali ini Zea mencubiti pelan tangan Raefal. Namun, setelah itu kedua alis Zea saling bertautan dan perasaan Zea menjadi tidak enak.
Zea memegang tangan Raefal dengan hati-hati dan Zea langsung panik saat ia merasakan tangan Raefal yang begitu panas.
Kelas sudah sepi, hanya menyisakan Zea dan Raefal di sana. Zea mencoba mengangkat kepala Raefal dan lagi-lagi Zea dibuat terkejut.
Napas Zea tercekat untuk beberapa saat, air mata Zea kini sudah membasahi pipinya.
Zea menangkupkan telapak tangannya di wajah Raefal yang sebagian wajahnya sudah di penuhi oleh bercak darah yang berasal dari hidungnya.
"R-raefal, kenapa? Bangun, Raefal, bangun ... hiks ..." Zea menepuk pipi Raefal, namun Raefal masih tak merespon apapun.
Akhirnya Zea berusaha untuk memapah Raefal menuju parkiran. Tubuh Raefal yang notabenenya lebih berat dibandingkan tubuh mungil Zea, membuat Zea memakan waktu yang cukup lama untuk membawa Raefal sampai ke parkiran, tepatnya membawa Raefal masuk ke dalam mobilnya.
Zea segera menyalakan mesin mobil Raefal. Untung saja kunci mobil Raefal ada di dalam tas cowok itu, jadi Zea tak terlalu sulit untuk menemukannya.
Zea mulai melajukan mobil milik Raefal, membawa cowok itu pulang. Zea merasa sangat bersyukur Raefal pernah membawa Zea ke rumahnya. Walaupun baru sekali, tapi Zea ingat jalan menuju rumah Raefal.
Di tengah perjalanan, Raefal membuka kedua matanya secara perlahan, Raefal menoleh ke arah kanan, ia sedikit terkejut kala mendapati Zea tengah mengemudikan mobilnya. Zea sangat fokus menyetir, sehingga ia tidak tahu bahwa Raefal sudah sadar.
"Zea ..." panggil Raefal dengan lemah.
Mendengar seseorang memanggil namanya, Zea langsung menoleh pada sumber suara. Zea terkejut melihat Raefal yang sudah membuka kedua matanya, namun tubuhnya terkulai begitu lemas.
"A-aku antar kamu ke rumah sakit, ya?" Ujar Zea dengan air mata yang sudah membendungi kedua matanya.
Raefal menghirup udara dalam-dalam, "Ngga usah, pulang aja ..." Tolak Raefal.
"Beneran?" Tanya Zea dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
"Iya, Ze." Raefal memgangguk dengan lemah.
☆☆☆