S E I

878 Words
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ "Turun. Udah sampai." Kata Raefal setelah ia mematikan mesin mobilnya. Zea mengangguk gembira lalu ia membuka pintu mobil dan keluar dari dalam sana. Saat ini Zea dan Raefal sudah berdiri saling bersebelahan. "Yuk, masuk!" Ajak Raefal dan Zea pun mengkuti langkah Raefal menuju sebuah pintu besar rumah itu. Kemudian, Raefal membuka pintu tersebut dan mengajak Zea masuk. "Assalamu'alakum!"  Ucap Raefal sesaat ia sudah melangkahkan satu kakinya melewati pintu masuk. "Wa'alaikumsalam! Sudah pulang, sayang?" Ucap Ratna yang baru saja muncul dari arah dapur. "Eh, Kamu bawa siapa?" Kedua mata indah milik Ratna langsung tertuju pada Zea yang sedang mencoba memberi senyum seramah mungkin. "Teman, Ma. Aku mau ganti baju dulu." Kata Raefal setelah ia mencium punggung tangan Ratna. "Ze, gue tinggal bentar, ya?" Ucap Raefal pada Zea dan gadis itu langsung mengangguk mengerti. Kemudian, Raefal menaiki anak tangga satu persatu untuk menuju kamarnya. Sedangkan Ratna, ia membawa Zea untuk duduk di sofa ruang tamu. "Teman sekolah Raefal?" Tanya Ratna pada Zea setelah mereka duduk dengan posisi yang nyaman. "Iya, tante." Zea kembali tersenyum ramah. "Hebat juga Raefal. Baru sehari sudah membawa anak gadis orang ke rumahnya. Kalau ada Papanya, pasti Raefal diledeki habis-habisan deh." Ratna tertawa disusul oleh Zea. "Kok bisa langsung dekat dengan Raefal, sayang? Atau kalian sebelumnya memang sudah saling mengenal?" Zea menggeleng, "Ngga, tante. Aku juga baru kenal sama Raefal kemarin, kebetulan Raefal sekelas sama aku, hehe ..." "Oh, sekelas. Raefal jarang lho, bawa temen ceweknya ke rumah selama dia sekolah di sekolah sebelumnya." Ucap Ratna heran sekaligus takjub melihat Raefal berani membawa teman perempuannya ke rumah. "Hm ... tante tahu! Jangan-jangan kamu cinta pandangan pertama Raefal, ya?" Ratna berucap setelah ia mengingat tentang percakapannya dengan Raefal pagi tadi. "Hah?!" Zea terkejut membuat Ratna tertawa. "Tadi pagi tuh pas lagi sarapan, Raefal senyam-senyum sendiri gitu. Tante jadi khawatir Raefal kenapa-kenapa, terus akhirnya dia tanya ke tante sama suami tante, dia tanya kalau cinta pandangan pertama itu ada atau tidak. Jadi ... kamu toh cinta pandangan pertama Raefal?" Ucap Ratna menggoda Zea. "Anak tante pintar ya, tahu saja mana gadis yang cantik." Ratna kembali tertawa, sedangkan pipi Zea kini sudah bersemu merah karena menahan malu. "Ma, udah dong. Zea malu tuh, kasihan." Ucap Raefal yang baru saja bergabung bersama mereka dan duduk di samping Zea. "Yasudah, Mama mau lanjut masak dulu. Raefal, kamu jangan macam-macam." Ucap Ratna pada Raefal sebelum ia kembali melangkahkan kakinya menuju dapur. Raefal hanya menjawab seadanya. Lagipula, memangnya Raefal mau macam-macam seperti apa coba? Mamanya memang kadang-kadang aneh, membuat Raefal pusing sendiri. "R-raefal?" Panggil Zea dengan ragu. "Apa?" "Aku malu banget ..." "Kenapa?" "Mama kamu bilang, kalau aku cinta pandangan pertama kamu, beneran?" Raefal tersenyum tipis kemudian mencubit kedua pipi Zea, "Jangan dengerin, Mama gue emang suka gitu." "Yah ... berarti Mama kamu bercanda dong?" Zea langsung menekuk bibirnya. "Ngga juga, sih." Zea segera menatap Raefal dengan lekat, "Terus?" "Ya gitu deh." Raefal tertawa padahal ucapannya sama sekali tidak ada yang lucu, namun entah mengapa Zea malah ikut tertawa. "Kapan?" Ucap Zea setelah tawa mereka berdua reda. "Kapan apanya?" Tanya Raefal keheranan. "Kamu nembak aku? Hehe ..." *** Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun Zea masih betah berada di rumah Raefal. Raefal sudah berkali-kali menyuruh Zea pulang, namun gadis itu enggan menuruti perkataan Raefal. "Pulang, udah malam." Terhitung sudah sembilan kali Raefal mengucapkan kalimat tersebut. "Nanti, baru juga jam tujuh. Aku masih mau sama kamu." Selalu saja begitu jawaban yang diberikan oleh Zea. "Mau gue antar pulang?" Tawar Raefal pada Zea, barangkali hal itu bisa membuat Zea mau pulang ke rumahnya. Pasalnya, Raefal tidak enak jika mengatar Zea pulang sampai semalam ini. Walaupun baru jam tujuh, tapi bagi Raefal itu sudah sangat malam dan tidak baik untuk Zea. "Ngga usah. Nanti Pak Jono jemput aku, kok." Raefal menghembuskan napasnya dan mengiyakan saja perkataan Zea. Mereka berdua kini tengah duduk di balkon kamar Raefal sembari menatap langit yang malam ini ditaburi oleh banyak bintang. "Raefal lihat deh," Zea menunjuk satu bintang yang paling terang di antara yang lainnya. "Bintang itu bagus banget. Dia paling bersinar di antara yang lainnya, iya kan?" Tanya Zea lalu ia menatap Raefal yang juga sedang memandang bintang tersebut sambil tersenyum. "Pasti itu ... Bunda." Ucapan Raefal mampu membuat kening Zea berlipat, Zea bingung. "Bunda?" Tanya Zea. Raefal menatap Zea kemudian tersenyum. "Bunda itu selalu menjadi bintang yang paling terang di sana," Raefal menunjuk langit malam itu, "dan gue yakin, Bunda pasti bahagia di sana. Ngga nangis lagi seperti dulu." Tak menyangka air mata Raefal akan lolos begitu saja. Ah, yang benar saja? Ia baru saja menangis di hadapan gadis yang ia sukai sejak pertama kali keduanya saling bertatap. Zea langsung menyandarkan kepala Raefal di bahunya. Kemudian, Zea mengusap kepala Raefal dengan lembut. "Iya, aku yakin Bunda kamu  bahagia di sana. Tapi ... Bunda kamu pasti lebih bahagia lagi, kalau melihat kamu ngga nangis kayak gini." Ucap Zea mencoba memberi ketenangan untuk Raefal. Raefal mengangkat kepalanya dari bahu Zea. Raefal menghapus air matanya sendiri. Setelah itu ia terkekeh pelan, "Gue cengeng, ya?" Zea menatap Raefal sendu, kemudian Zea menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Raefal barusan. "Ngga kok. Aku bakal lebih dari kamu, kalau seandainya Mama aku yang pergi ninggalin aku untuk ... selama-lamanya." Raefal menatap Zea dengan lekat. "Makasih, ya?" Zea mengangguk lalu tersenyum, "Sama-sama. Santai aja ... kan aku pacar kamu," Zea menyengir lebar. "Eh bukan deh, masih calon, hehe ..." Zea meralat ucapannya sendiri. Kemudian Raefal kembali mencubit kedua pipi Zea dengan gemas. "Pengin banget ya, jadi pacar gue?" Tanya Raefal meledek. "Ngga tahu." Zea menjawab kemudian ia tertawa. Tanpa mereka sadari, Ratna sedari tadi memerhatikan mereka berdua dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. "Maafin Mama, sayang...." ☆☆☆
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD