SELAMAT MEMBACA!
☆☆☆
"Bagaimana kemarin sekolah kamu, sayang?" Tanya Ratna pada Raefal.
Pagi ini Ratna, Dimas dan Raefal sedang menyantap sarapan bersama di meja makan.
Raefal tersenyum mendengar pertanyaan dari Ratna tersebut, "Baik kok, Ma. Malahan bulan depan Raefal ikut tanding basket buat wakilin sekolah di tingkat provinsi."
Dimas dan Ratna langsung tersenyum senang. "Wah, hebat kamu! Latihan yang benar. Kamu beruntung sudah di percaya untuk bergabung bersama tim basket di sekolah kamu. Jangan kecewakan mereka yang sudah menaruh harapan besar sama kamu."
Raefal kembali tersenyum, "Siap, Pa! Tenang aja ... ada Raefal pasti menang, kok!" Ucap Raefal dengan sangat percaya diri.
Dimas dan Ratna tertawa. Keluarga kecil itu terlihat sangat bahagia, tawa menghiasi di manapun mereka berada.
"Mama perhatiin dari tadi kamu senyam-senyum sendiri terus. Kenapa? Kamu lagi jatuh cinta?" Tanya Ratna, pasalnya sejak Raefal turun dari kamarnya dan bergabung di meja makan, Raefal terus saja tersenyum sendiri. Ratna jadi khawatir jika Raefal memiliki gangguan.
Raefal menjawab pertanyaan Ratna hanya dengan tawanya, membuat Ratna semakin curiga.
"Kamu di tanya malah ketawa, gimana sih?" Kini Dimas yang bersuara.
"Hehe ... menurut Mama sama Papa, cinta pandangan pertama itu benar-benar ada atau ngga?" Dan kini malah Raefal yang balik bertanya.
Dimas dan Ratna kembali tersenyum, "Ada. Kami buktinya." Dimas yang menjawab pertanyaan Raefal, kemudian ia merangkul pinggang Ratna dengan mesra, membuat pipi Ratna menjadi semerah tomat.
"Aduh, si Papa masih pagi juga. Itu Mama kasian, mukanya jadi merah!" Raefal tertawa disusul oleh Dimas dan Ratna.
"Cinta pandangan pertama itu menurut Mama ada, sayang. Lagipula, kita tidak tahu kapan perasaan cinta itu datang. Kita tidak tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta. Semuanya mengalir begitu saja seperti air. Ada orang yang sudah lama saling mengenal, tapi mereka tidak merasakan jatuh cinta. Ada juga yang hanya dengan satu kali tatapan, mereka langsung jatuh cinta. Jatuh cinta itu prosesnya berbeda-beda. Tapi ... rasanya sama." Ratna tersenyum kepada Raefal.
"Jika kamu memang jatuh cinta, mau pandangan pertama atau tidak, perjuangkanlah. Karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan mengambil orang yang kita sayangi. Jaga orang yang kamu sayangi selama dia masih berada di dekat kamu. Jangan karena gengsi atau hal apapun, kamu enggan mengakui perasaan kamu yang sejujurnya. Ingat, penyesalan selalu datang di akhir." Dimas berbicara cukup panjang.
Raefal tersenyum mendengar jawaban dari keduanya, kemudian ia beranjak dari kursinya dan menghampiri Dimas dan Ratna yang duduk bersebrangan dengan dirinya. Raefal merangkul kedua orangtuanya lalu mengecup pipi Dimas dan Ratna bergantian.
"Makasih, Ma, Pa. Raefal sayang kalian." Raefal memeluk kedua orangtuanya dengan hangat.
Pagi yang cerah ini diawali dengan pelukan hangat mereka. Pagi yang sempurna. Semoga pagi-pagi berikutnya akan terus seperti ini.
****
"RAEFAL!!"
Raefal menoleh dan mencari sumber suara. Kemudian, ia tersenyum ketika melihat siapa yang memanggil dirinya.
Zea menghampiri Raefal dengan sedikit berlari dan akhirnya ia berhasil menyamai langkah kakinya dengan Raefal.
"Kok masuk?" Tanya Raefal sambil melirik siku Zea yang dibalut dengan perban.
Zea memegang sikunya sebentar, kemudian ia tersenyum lebar. "Masuk dong! Kan aku mau ketemu sama kamu."
Raefal dan Zea tertawa lepas sehingga membuat beberapa siswa dan siswi yang berpapasan dengan mereka berdua memberi tatapan yang berbeda-beda.
Para siswi menatap Raefal dengan kagum, ketampanannya mampu membuat wajah para siswi merah merona dengan sendirinya.
Sedangkan para siswa menatap Zea dengan pandangan serupa. Zea itu sangat cantik, tak seorang pun bisa mengelak kecantikan yang Zea miliki.
Namun sayang ... Zea itu sangat sulit untuk dimiliki. Jangankan dimiliki, dikenal oleh Zea saja sudah merupakan suatu hal yang sangat disyukuri oleh para siswa.
Raefal dan Zea terus melangkah dan tak acuh dengan tatapan yang tertuju kepada mereka.
"Raefal cokelat buat aku mana?" Tanya Zea sambil menyodorkan telapak tangannya pada Raefal.
"Cokelat apaan?"
"Ih, yang kemarin! Kan kamu udah janji mau beliin aku cokelat sama toko-tokonya." Ucap Zea lalu ia menggembungkan pipinya, membuat dirinya terlihat sangat lucu.
Raefal tertawa, kemudian ia membuka tasnya dan mengeluarkan tiga batang cokelat dari dalam sana.
"Nih," Raefal memberikan cokelat-cokelat itu pada Zea, sontak saja kedua mata gadis itu langsung berbinar-binar.
"Makasih, Raefal!" Zea langsung membuka salah satu bungkus cokelat itu dan mulai melahapnya.
"Masih pagi, Ze. Lo udah sarapan?"
Zea menatap Raefal kemudian mengangguk, ia tidak menjawab karena mulutnya dipenuhi oleh cokelat.
Tak perlu waktu yang lama, Zea sudah berhasil menghabisi satu batang cokelatnya. Kemudian, ia membuang bungkusnya ke tempat sampah. Setelah membuangnya, Zea kembali menyamai langkahnya dengan Raefal.
Zea berjalan di samping Raefal sambil sesekali ia berjinjit-jinjit, membuat Raefal menatap Zea penuh tanya.
"Ngapain sih, Ze?" Tanya Raefal akhirnya.
Zea berhenti melangkah. Karena Zea berhenti, Raefal juga ikut menghentikan langkahnya.
"Kamu makan apa, sih?" Tanya Zea dengan raut wajah penasaran.
Raefal mengerutkan keningnya, "Makan nasi la-"
"NGGA PERCAYA!" Sanggah Zea dengan cepat.
"Kamu tinggi banget. Kayaknya kamu makan bambu deh. Iya kan?!" Tanya Zea lagi, kali ini sambil memberikan tatapan menyelidik.
"Mana ada gue makan bambu! Lo-nya aja yang pendek, bocah!" Raefal mencubit sebelah pipi Zea gemas.
Zea mendengus, "Ih aku udah gede tahu! Jangan panggil aku bocah!"
"Udah gede dari mananya? Tinggi lo aja cuma sebahu gue. Dasar pendek!" Raefal menjulurkan lidahnya pada Zea.
"RAEFAL, NGGA BOLEH HINA FISIK TAHU!" Zea berteriak kesal dan hal tersebut kembali membuat tatapan para siswa dan siswi tertuju pada mereka.
"Berisik banget, bocah!" Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Raefal berlari menuju kelasnya dan meninggalkan Zea yang hampir melepas sebelah sepatunya.
Niat Zea ingin menimpuk Raefal pakai sepatunya, tapi Raefal keburu pergi.
Akhirnya, Zea kembali memakai sepatunya yang hampir terlepas itu, kemudian ia pun berlari menyusul Raefal.
☆☆☆