T R E

886 Words
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ Setelah berkumpul dengan anak-anak basket SMA Cakrawala, Raefal memilih untuk segera pulang karena ia sudah sangat lelah. Raefal mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia terus memikirkan ucapan Bara di kantin waktu istirahat siang tadi. Benarkah dirinya jatuh cinta pada Zea? Gadis polos yang dengan lucunya mengajak Raefal untuk berteman? Benarkah Raefal jatuh cinta pada pandangan pertama? Ini sangat lucu, belum ada dua puluh empat jam, tetapi Raefal sudah bisa merasakan hal aneh dalam dirinya ketika berhadapan dengan Zea. Tiba-tiba Raefal menginjak pedal remnya secara mendadak, ia merasa telah menabrak sesuatu. Karena banyak melamun Raefal jadi tidak fokus untuk menyetir. Raefal mendengus pelan. Benar-benar luar biasa, gadis bernama Zea itu mampu memenuhi pikiran Raefal hingga dirinya tidak bisa fokus seperti ini. Raefal membuka pintu mobilnya, ia langsung keluar dari dalam mobil dan bergegas berjalan ke arah depan mobilnya untuk melihat apa yang baru saja tertabrak oleh mobilnya. Setelah ia melihat sesuatu yang ia tabrak, Raefal sontak saja membolakan matanya tidak percaya. Sesuatu yang ia tabrak itu ternyata ... Zea. Gadis itu kini tengah meringis kesakitan karena sikunya berdarah. Raefal langsung menghampiri Zea dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Raefal menatap Zea yang sedang menangis dengan tatapan yang mungkin bisa disebut semacam khawatir? "Ck, lo jalan ngga lihat-lihat sih. Punya mata di pake, jangan buat pajangan doang!" Ucapan Raefal barusan membuat tangisan Zea semakin kencang. Hal itu tentu saja langsung membuat Raefal jadi kelabakan sendiri. Bahaya sekali jika orang-orang mendengar tangisan Zea, bisa dikira Raefal ngapa-ngapain Zea kan? "Udah jangan nangis dong ..." Raefal berusaha membujuk, namun Zea tidak kunjung berhenti menangis. "Hiks ... hiks ... k-kamu y-yang nabrak, t-tapi kamu yang marah-marah, hiks ..." Ucap Zea dengan isaknya. Raefal menggaruk belakang kepalanya, "Yaudah deh gue minta maaf, kita ke klinik sekarang. Tapi ... lo jangan nangis lagi." Ucap Raefal akhirnya. Zea mengangguk patuh, "T-tapi beliin aku cokelat yang banyak, ya?" Pinta Zea. Raefal memutar kedua bola matanya, "Ck, jadi ceritanya lo meres gue, hah?!" Zea memanyunkan bibirnya dan kembali menangis dengan kencang. Raefal menghembuskan napasnya, "Yaudah, oke-oke. Nanti gue beliin lo cokelat sama toko-tokonya, puas?!" Ajaib, tangis Zea berhenti. Kemudian ia menatap Raefal dengan mata yang berbinar, "BENERAN?!" Tanya Zea dengan semangat dan sangat antusias. "Bohong." Ucap Raefal santai, lalu ia tertawa. Zea ingin menangis lagi, namun Raefal segera mendekatkan wajahnya, "Gue cium lo kalau sampai nangis lagi." Setelah mengucapkan kaliamat itu, Raefal kembali menjauhkan wajahnya dan mulai melajukan mobilnya. Sedangkan Zea, ia masih membeku di tempatnya akbiat mendengar ucapan Raefal barusan. Dengan ragu-ragu, Zea menatap Raefal yang berada di sampingnya. "Raefal?" Panggil Zea dengan pelan. "Hm," "Kamu beneran mau cium aku kalau aku nangis?" Raefal tak menjawab, ia hanya diam. "Ihh, Raefal kok ngga jawab sih?!" Zea kesal karena merasa tak ditanggapi oleh Raefal. "Berisik banget, bocah." Ucap Raefal sambil mencubit sekilas pipi kanan Zea. Zea kembali membeku, namun setelah itu ia tersenyum dengan lebar. "Raefal?" "Apa?" "Aku suka kamu." Raefal kembali menginjak pedal remnya dengan mendadak, membuat kendaraan yang berada di belakangnya memberikan klakson begitu nyaring. Namun, Raefal tidak peduli, ia kini menatap Zea tak percaya. Kalau Raefal boleh jujur, degup jantung Raefal sekarang sudah sangat menggila, rasanya seperti ingin keluar dari tempatnya. "Apa, apa? Gimana?" Tanya Raefal dengan berusaha untuk setenang mungkin. "Aku suka kamu, Raefal Julian." Ucap Zea dengan mantap. Raefal terkekeh, lalu satu tangannya kembali mecubit pipi Zea dengan gemas, "Kayaknya abis ketabrak, otak lo makin geser!" Raefal tertawa renyah. "IH RAEFAL, AKU SERIUS!" Zea berteriak kesal. Raefal hanya menganggukan-anggukan kepalanya sambil tertawa kecil. **** Raefal menjatuhkan dirinya di atas kasur. Hari ini sangat melelahkan bagi Raefal. Ia baru saja pulang dari klinik. Ia tidak mengantarkan Zea pulang ke rumah gadis itu, karena katanya Zea akan di jemput oleh orang tuanya. Alhasil, Zea menyuruh Raefal untuk pulang. Zea juga tidak ingin jika nanti Raefal dimarahi oleh papanya karena sudah membuat Zea terluka. Tentu dengan senang hati Raefal menerimanya. Lagipula, jika Raefal berlama-lama berada di samping Zea, sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Raefal beranjak dari tempat tidurnya dan ia kini melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi. Ia ingin membersihkan dirinya dari keringat yang menempel di tubuhnya. Dua puluh menit berlalu, akhirnya Raefal kembali segar. Ia mencari ponselnya dan setelah menemukannya ia kembali duduk di atas kasur. Raefal mengernyit dahinya, ia sangat bingung karena ada banyak pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenali. 081264810277 Hallo, Raefal! Kamu udah sampe rumah? Kalau aku sih, udah. Hehe :) Raefal bales donggggg Raefal Raefal ada yang baru lho! Raefal :( Ih Raefal bales! Zea kangen tau. Hehe... OIYA! JANGAN LUPA BELIIN ZEA COKELAT YANG BANYAK, YA! JANJI ADALAH HUTANG LHO! Raefal?? Sayang? :( Raefal tidak mengerti lagi dengan gadis bernama Zea tersebut. Pesan terakhir yang Zea kirimkan benar-benar membuat Raefal tercengang. Berani sekali gadis itu memanggil dirinya seperti itu? Degup jantung Raefal saat ini kembali menggila. Tetapi tidak bisa dipungkiri, bibir Raefal malah melengkung dengan sempurna. Dpt no gue dr mn, bocah? Tak sampai tiga puluh detik, Zea sudah membalasnya. Nemu di jalan. Kl g jls, g ush chat. Bercanda, ih baperan :( Aku minta ke Adit, hehe :) O . Gitu doang balesnya? :( Raefal sengaja hanya membaca pesan dari Zea, Raefal ingin mengerjai gadis itu. Sebenarnya ... Raefal juga tidak ingin jika harus membalas pesan Zea dengan sesingkat itu. Tetapi ... ya mau bagaimana lagi? Raefal harus meyakinkan perasaannya terlebih dahulu, ia tidak ingin membuat Zea sakit hati nantinya. Ngga di bales? Zea ganggu ya? Maaf deh ... Good night, Raefal. Mimpiin aku ya! Soalnya kalau kamu mimpiin aku, mimpi kamu pasti indah, hehe :) Raefal benar-benar tidak bisa menahan senyumnya. Sudahlah, ia tidak ingin bersikap seperti itu lagi kepada Zea. Night too :) Setelah mengirimkan balasan tersebut, Raefal meletakkan ponselnya di atas nakas. Kemudian ia segera tidur dengan harapan mimpi indahnya kali ini benar-benar bersama dengan Zea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD