D I E C I

1249 Words
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ Zea bingung harus memakai baju apa untuk makan malam bersama Raefal. Zea hampir mengeluarkan seluruh baju yang ia miliki dari dalam lemari cokelatnya. Zea berkacak pinggang dan menggaruk dahinya frustasi. Mamanya belum pulang dan Zea adalah anak satu-satunya. Jadi, tidak ada yang bisa memilihkan baju mana yang pas dipakai untuk makan malam bersama Raefal nanti. Zea sudah lelah, ia pun duduk di tepi kasur sambil menatap baju-baju yang berserakan di atas tempat tidurnya. Kemudian, kedua mata Zea melirik ke dalam lemari. Zea memicingkan matanya saat ia melihat masih terdapat sebuah baju yang menggantung di dalam sana. Zea pun menyeret langkah kakinya kembali menuju lemari tersebut. Senyumnya langsung merekah dengan kedua mata yang berbinar  sempurna. Ternyata ia menemukan sebuah gaun selutut berwarna pink pastel yang sangat indah. Zea mengambilnya dan langsung mencobanya. Dan betapa bahagianya Zea saat mengetahui gaun tersebut sangat pas di tubuhnya. Akhirnya, perjuangan Zea yang menghabiskan waktu selama satu jam untuk mencari baju tidak terbuang sia-sia. Dengan berlari-lari kecil dan senyum yang merekah lebar, Zea masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya. Ia harus datang secepat mungkin, agar ia dan Raefal mendapatkan tempat duduk di sana. Satu jam berlalu, akhirnya Zea selesai dengan segala urusannya. Gaun pink pastel  yang indah itu sudah melekat di tubuh Zea. Tak lupa, Zea juga memoleskan sedikit make-up di wajahnya. Rambut cokelat Zea sengaja ia gerai dan itu membuat dirinya menjadi terlihat sangat cantik malam ini. Taksi yang Zea pesan sudah sampai. Dan ia segera menyeret langkahnya untuk menghampiri taksi pesanannya dan segera pergi menuju cafe pelangi. *** Setelah taksi yang Zea tumpangi sampai di depan cafe yang Zea tuju, Zea langsung keluar dan melangkahkan kedua kakinya dengan cepat untuk memasuki cafe pelangi. Zea mendorong pintu kaca besar itu dengan perlahan. Namun, Zea malah menautkan kedua alisnya saat melihat cafe tersebut sangat sepi. Seperti tidak ada yang mau mengunjunginya. Zea memundurkan langkahnya perlahan, namun ponsel yang berada di dalam genggamannya bergetar. Ternyata itu panggilan masuk dari Raefal dan Zea segera mengangkatnya. "Ze, sudah sampai?" Tanya Raefal sedetik setelah Zea mengangkat telponnya. "U-udah. Tapi, se-" "Oke. Tunggu gue ya! Sepuluh menit lagi gue sampai. Jangan kemana-mana." "Tapi di sini se-" Tut ... tut ... Raefal memutuskan panggilannya. Zea berdecak kesal, "Katanya bakal ramai banget malam ini. Tapi, kok malah sepi banget kayak kuburan gini, sih?!" Zea mencak-mencak dan akhirnya dengan berat hati kembali meneruskan langkah kedua kakinya menuju sebuah meja yang berada di dekat sebuah jendela besar. Setelah Zea mendaratkan bokongnya dengan sempurna, ia memandangi sekelilingnya. Sungguh, Zea tidak berbohong. Cafe ini benar-benar sangat sepi. Segala macam pikiraan horror langsung terlintas di otaknya. Dan parahnya lagi, kini Zea merinding di sekujur tubuhnya. Ah! kenapa jadi seram begini tempatnya? Untuk mengenyahkan pikiran negatif tersebut, Zea akhirnya memilih untuk memainkan ponselnya. Zea sudah menunggu lima belas menit lamanya, tetapi belum juga ada tanda-tanda kehadiran Raefal di sana. Satu gelas juice mangga di hadapan Zea yang ia pesan sepuluh menit yang lalu kini sudah tersisa setengahnya. Zea menghembuskan napasnya dan kembali mencoba menghubungi Raefal. "Raefal kemana, sih? Kok ngga datang-datang? Aku ta- eh, aku bosan tahu." Zea hampir saja keceplosan mengaku bahwa dirinya takut berada di sini. Raefal pasti akan meledeknya nanti. Untung saja tidak sampai keceplosan. "Ze ... kayaknya gue bakal dateng sekitar dua puluh menit lagi deh. Ban mobil gue bocor so-" "Ih, serius? Kamu emang ngga bisa naik taksi a-" "Ngga bisa. Di sini daerah yang jarang banget ada taksi." "Yah ... terus gimana...?" "Yaudah, lo tunggu gue. Dah ya, see you!" Tut ... tut ... Lagi-lagi Raefal memutuskan panggilannya dengan sepihak. Zea semakin tidak nyaman berada di sini. Sampai sekarang tidak ada satu orangpun yang datang di cafe ini. Padahal cafe ini merupakan salah satu cafe yang sangat terkenal di Bandung. Zea mengigiti bibir bawahnya dan tiba-tiba saja lampu-lampu yang berada di sana padam. Zea menahan jeritannya. Zea mencari ponselnya, tetapi ia tidak menemukannya. Padahal, tadi ia taruh di atas meja. Zea semakin panik dan takut. "R-raefal kemana, sih ..." Zea menahan air matanya yang sudah mendesak ingin keluar. Tetapi percuma, tetap saja air mata itu keluar dengan sendirinya. Di tengah-tengah tangisnya, suara petikan gitar terdengar begitu merdu dan lampu-lampu kecil yang berada di sekeliling tembok ruangan tersebut menyala. Di susul dengan sorotan lampu di atas panggung kecil yang berada di sana. Zea mengangkat wajahnya, kedua matanya langsung mencari sumber suara dan tatapan matanya berhenti di atas panggung kecil itu. Laki-laki yang tengah duduk di atas panggung itu terus memetik gitar yang berada dipangkuannya. Zea menatap lelaki di atas panggung tersebut dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan, lelaki tersebut menatap Zea dengan lekat. Lalu, dengan perlahan ia mulai menyanyikan sebuah lagu. Since I've known you, babe You were a light for me But taste of your sincerity Build me a world to believe Semenjak aku mengenalmu, kasih Engkau tlah jadi cahaya bagiku Tapi rasa ketulusanmu Membangun dunia untuk diyakini Zea masih menatap tak percaya siapa yang sedang menyanyi untuknya saat ini. Degup jantung Zea kembali berdetak dengan tidak sewajarnya. Wajahnya terasa sangat panas saat ini. But still there's a doubt In you for loving me Though deep down inside You see what's in me Tapi tetap saja ada keraguan Dalam dirimu untuk mencintaiku Meskipun di lubuk hatimu Kau lihat apa yang ada dalam diriku Wajah Zea semakin terasa panas. Zea juga merasa tulang-tulangnya saat ini entah pergi kemana. Zea terus menatap cowok itu dengan kagum. Suaranya mampu menghipnotis siapapun yang mendengarkannya. Be my lady  Be the one And great things will come to our heart Jadilah perempuanku Jadilah kekasihku Dan hal-hal hebat kan datang ke hati kita Zap! Tubuh Zea seperti melayang saat ini. Kedua sudut bibirnya melengkung dengan malu-malu. Wajahnya terasa seperti terbakar, panas sekali. Tatapan Raefal yang lembut dan hangat, lirik lagu yang Raefal nyanyikan seperti sebuah permintaan darinya untuk Zea. You're my lady  You're my one Give me chance to show you love Engkau perempuanku Engkau kekasihku Beri aku kesempatan untuk tunjukkan cinta kepadamu Zea tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Zea sudah mirip seperti sebuah patung dengan bibir yang melungkung malu-malu. Entah sejak kapan datangnya, Raefal kini sudah berdiri tepat di hadapan Zea. Raefal meraih lengan Zea untuk ia genggam. "Be my lady, Zea Nayara...." Dikecupnya punggung tangan Zea. Kemudian, Raefal menatap Zea yang masih terpaku di hadapannya. Namun, di detik selanjutnya Zea langsung menghambur untuk memeluk Raefal. Raefal hampir saja terjatuh ke belakang karena Zea memeluknya begitu erat. "Dari pertama kali kita kenal, kan aku emang pacar kamu." Zea cekikikan di dalam pelukan Raefal. Kebahagiaan yang Zea rasakan saat ini tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Jika ada kata-kata yang melebihi kata bahagia, Zea-lah orang pertama yang akan mengucapkan kata tersebut. Zea melepaskan pelukannya dan menatap Raefal, "Jadi kamu udah ngerencanain ini semua?" Tanya Zea sambil melipat tangannya di depan d**a. "Katanya mobil kamu bannya bocor, kok bisa sampai di sini?" Zea menyindir, tetapi Raefal hanya menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya. "Kamu tau ngga si? Aku tadi takut banget di sini. Katanya bakalan rame, tapi apa? Pas aku datang sepi banget kayak kuburan. Udah gitu aku nunggu lama banget. Ih, nyebelin tahu, ngga?!" Zea mengeluarkan semua keresahan hatinya dan membuat Raefal tertawa puas. "IH KOK MALAH KETAWA, SIH?!!" Zea berkacak pinggang seperti ibu tiri yang sedang memarahi anaknya. "Ah, bawel lo, Ze! Gue kan siapin ini semua bukan buat lo jadi marah-marah, Ze. Laper nih gue, makan yuk!" Raefal menarik tangan Zea menuju meja yang berada di tengah-tengah cafe. Pipi Zea kembali merona saat ia melihat meja tersebut sudah dihiasi dengan banyak lilin-lilin yang cantik. Raefal menarik kursi untuk Zea. "Make up kamu luntur tuh. Tapi ... malam ini kamu cantik, Ze." Raefal berucap sebelum Zea mendaratkan bokongnya di atas kursi dan hal tersebut sukses membuat kedua sudut bibir Zea melengkung dengan sempurna. Dan Zea juga baru menyadari bahwa lampu-lampu kecil berwarna-warni itu kini sudah membentuk sebuah kalimat yang bertuliskan, I LOVE YOU, ZEA NAYARA. Zea semakin merona dan melebarkan senyumnya. Zea menatap Raefal, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Raefal. "I love you, too ..." Bisik Zea dengan lembut. ☆☆☆
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD