SELAMAT MEMBACA!
☆☆☆
Cuaca pagi ini tak secerah seperti pagi biasanya. Awan mendung pertanda hujan akan turun. Namun, mendungnya semesta tak membuat keceriaan di wajah Zea berkurang sedikitpun.
Gadis itu justru terus menebarkan senyum kepada apa dan siapa saja yang ia lihat. Membuat sang pacar alias Raefal hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Bagaimana tidak? Setiap manusia ataupun benda yang berada di hadapan gadis itu, selalu ia berikan senyum keceriaan dan menyapanya dengan riang gembira.
"Selamat pagi pohon!" Sapa Zea pada pohon-pohon yang berjajar di sepanjang jalan koridor.
Raefal menggaruk rambutnya yang tidak gatal, "Ze ... kamu sehat?" Tanya Raefal akhirnya.
Zea langsung beralih menatap Raefal dan tersenyum dengan lebar. "Alhamdulillah masih sehat, kok!" Dan kali ini Zea tersenyum sangat manis.
Mereka berdua kembali berjalan beriringan menuju kelas. Setelah sampai di depan pintu kelas, Zea langsung berlari dan berteriak heboh memeluk Rayta.
"TATAAA!!" Panggil Zea dan langsung memeluk Rayta dengan erat. Saking eratnya, Rayta sampai tak bisa menghirup udara.
"Ze ... le-lepas, gu-gue nggak bi-bisa na-napas!" Ucap Rayta terbata-bata.
Zeapun dengan berat hati melepaskan pelukannya. Dan tanpa rasa bersalah, Zea malah tertawa. Hal tersebut membuat Rayta mengerutkan wajahnya.
"Ze ... sehat kan lo?" Tanya Rayta. Hebat! Dua orang menanyakan hal yang sama pagi ini.
Zea cemberut, "Aku sehat, kok. Kenapa sih nanya gitu terus?" Bibir Zea semakin maju dan hal itu justru membuat dirinya terlihat sangat menggemaskan.
"Ya ... abisnya lo senang banget kayaknya da-"
"IYA DONG!" Zea menyambar ucapan Rayta begitu saja, "Rayta mau tau ngga kenapa aku senang banget?" Tanya Zea.
Dengan ragu akhirnya Rayta mengangguk. Zea pun mendekatkan wajahnya ke telinga Rayta.
"Aku jadian sama Raefal." Ucap Zea sangat pelan. Mulut Rayta langsung terbuka dengan lebar.
"Ha?! Serius?" Tanya Rayta tak percaya.
Zea mengangguk antusias. "Serius, Tataa."
"Kok bisa?!" Tanya Rayta lagi.
Zea kembali cemberut, "Ya bisa lah. Tata ngga percaya sa-"
"NGGA!" Ucap Rayta dengan cepat.
"Ih kok gitu ... "
"Lagian ini masih pagi, Ze. Lo kalau ngayal yang beneran dikit."
"Jahatnya ..." Zea menggelengkan kepalanya berkali-kali, "kalau Tata ngga percaya, tanya aja sama Raefal." Zea mengarahkan pandangan pada Raefal yang tengah duduk santai di tempatnya.
Rayta langsung mengalihkan pandangan kepada Raefal dan ia pun bertanya. "Beneran, Fal?"
Raefal hanya mengangguk lalu tertawa kecil.
"Pagi, sayang!" Tiba-tiba seseorang datang dan langsung merangkul bahu Rayta.
Dan kali ini mulut Zea yang terbuka dengan lebar. "Kalian ..." Zea menggantungkan kalimatnya karena ia seperti tak bisa melanjutkan kata-kata lagi.
"Kalian apa?" Ucap Rayta dan Bara bersamaan. Dan hal tersebut membuat keduanya tertawa.
"Kalian pacaran juga?!"
Rayta dan Bara mengangguk lalu kembali menjawab dengan kompak. "Iya."
"Kok bisa?!" Pertanyaan yang sama seperti yang dilontarkan Rayta kepadanya tadi.
"Ya bisa." Jawab Rayta lalu ia menyengir dengan lebar.
Dan tiba-tiba lagi, seseorang datang dan langsung menggebrak meja Zea dengan kencang.
BRAK!
"TEGA, TEGA, TEGA! KALIAN TEGA SAMA GUE!" Orang itu berteriak histeris sehingga membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Zea sama Raefal. Rayta sama Bara. Terus ... gue sama siapa?!!" Adit berucap dengan wajah yang memelas. Dan hal itu sontak saja mengundang gelak tawa dari setiap orang yang berada di dalam kelas saat ini.
Kasihan ... Adit yang malang.
***
"Jadi kan?" Tanya Zea saat ia dan Raefal sudah berada di parkiran.
"Jadi. Kan tugasnya di kumpulin hari senin." Ucap Raefal sembari menggunakan helmnya.
"Ngerjain di rumah aku?"
Raefal mengangguk dan ia mulai memasangkan satu helmnya lagi pada Zea.
"Aku ngga mau pakai helm!"
"Ze ..."
"Ngga mau, Raefal!" Raefal pun hanya bisa pasrah dan kembali melepaskan helm yang baru saja ia pakaikan pada Zea.
"Raefal sok romantis!" Zea menjulurkan lidahnya.
"Berisik." Wajah Raefal memerah dan ia menjadi sangat gugup. Saking gugupnya, ia sampai kesusahan memasukan kunci motornya.
"Santai aja dong pacar. Sini aku yang ma-"
"Ngga usah, buruan naik!" Seru Raefal ketika akhirnya ia berhasil menyalakan mesin motornya.
Zea hanya cekikikan dan ia segera naik. Raefalpun mulai melajukan motornya membelah jalan kota Bandung yang cukup ramai sore ini.
Semilir angin yang sangat sejuk membuat Zea yang duduk di belakang Raefal menguap hingga beberapa kali.
Zea mendekatkan wajahnya ke pundak Raefal, "Raefal ... Zea ngantuk." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, kepala Zea langsung nemplok di pundak Raefal. Gadis itu benar-benar tertidur.
Raefal memelankan laju motornya, ia membawa kedua tangan Zea untukmelingkari pinggangnya agar Zea tidak terjatuh.
Setelah sepuluh menit berlalu, Raefal akhirnya sampai di rumah Zea. Namun, gadis itu masih tertidur dengan pulas. Raefal jadi tidak tega untuk membangunkannya.
"Bi, boleh bantu Raefal? Zea tidur pulas banget. Raefal ngga tega banguninnya. Tolong pegangin Zea sebentar ya, Bi. Raefal mau turun, takut Zea jatuh." Bi Inah yang baru saja membukakan gerbang untuk Raefal lantas menangguk.
"Boleh atuh, Den. Sini, Bibi pegangin Neng Zea."
Setelah berhasil turun dari motornya, Raefal langsung menggendong Zea di punggungnya.
Tenaga Raefal yang ia butuhkan untuk membawa Zea sampai di kamarnya ternyata harus terkuras lumayan banyak. Raefal harus menaiki tangga sambil menggendong Zea yang lumayan berat untuk membawa gadis itu ke dalam kamarnya.
Setelah sampai di kamar Zea dengan diikuti Bi Inah, Raefal langsung membaringkan tubuh Zea dengan hati-hati.
Raefal tersenyum sebelum ia keluar dan menutup pintu kamar Zea. Raefal kembali menuruni anak tangga untuk menuju ruang tamu.
"Den Raefal mau Bibi buatin minum apa?" Tanya Bi Inah yang berjalan di belakang Raefal.
"Air putih dingin aja, Bi." Raefal tersenyum ramah.
"Oke, Den. Segera Bibi ambilkan ya."
"Terima kasih, Bi. Oh iya, kalau boleh tahu orang tua Zea kemana? Kayaknya dari kemarin Raefal ke sini, Raefal belum pernah ketemu mereka."
"Oh itu ... mereka orang sibuk, Den. Mereka jarang ada di rumah. Jadi, Neng Zea sering banget di tinggal sendirian."
"Oh ..." Pantas saja Raefal tak pernah bertemu dengan orang tua Zea. Ternyata mereka orang-orang sibuk.
"Yasudah, Bibi duluan ya, Den. Akan segera Bibi antar minumannya."
Raefal mengangguk dan ia melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.
Raefal menatap sekeliling rumah Zea dan kedua mata Raefal terhenti pada sebuah figura besar yang terpajang di ruang keluarga.
Di dalam figura tersebut terdapat foto Zea bersama dengan kedua orang tuanya. Mereka terlihat sangat bahagia di dalam foto tersebut.
Tanpa sadar, Raefal mendekati figura tersebut. Lalu ia mengusapnya. "Ayah ..." Ucapnya saat tangan Raefal berhenti tepat di wajah ayah Zea.
Dan tanpa sadar air matanya sudah menetes. Tiba-tiba saja, ia merindukan sang ayah yang sekarang entah berada di mana.
Tak berapa lama kemudian, seseorang datang dan meletakkan tangannya di atas tangan Raefal yang masih menyentuh figura tersebut. Lalu ia mengusapnya dan membawa tangan Raefal ke dalam genggamannya.
"Raefal kenapa nangis?" Tanya Zea dengan wajah yang khas seperti orang bangun tidur.
"Kangen ayah ..." Raefal menatap Zea dengan tatapan sendu.
Zea langsung memeluk Raefal dengan erat dan mengusap punggungnya dengan lembut. "Nanti kita cari ayah kamu bareng-bareng, ya?"
☆☆☆