SELAMAT MEMBACA!
☆☆☆
"Kamu percaya ngga kalau sekarang aku amnesia?"
Zea mengerutkan keningnya, "Amnesia? Oh ... yang hilang ingatan kayak di film-film gitu, ya?" Zea malah balik bertanya.
Raefal tersenyum, walaupun senyum itu ia paksakan. "Iya, Ze. Kamu percaya?"
"Hm ... menurut Raefal, Zea harus percaya atau ngga?"
Ah! Rasanya Raefal ingin menggigit Zea sekarang juga.
Raefal tersenyum paksa lagi, "Ya mana aku tahu, Ze. Kan aku nanya kamu, kenapa kamu malah nanya balik ke aku, sih?" Raefal mengacak-acak rambut Zea dengan sangat gemas.
Zea menyengir lebar, "Hehe ... memangnya kamu amnesia beneran? Tapi ... kayaknya kamu sehat-sehat aja tuh."
"Aku harus cerita nih?"
"IYA HARUS!" Kedua bola mata Zea berbinar penuh harap.
"Tapi tugasnya kan belum selesai. Kapan-kapan aja, ya?"
"Ih! Jangan buat aku penasaran deh. Kan tugasnya bisa di kerjain sambil kamu cerita."
"Kasihan ya tugasnya,"
"Kasihan kenapa?"
"Ngga punya salah apa-apa, tapi di kerjain terus."
"Ngga lucu ih! Cepetan cerita!!"
"Kamu tahu? Aku tuh sama sekali ngga ingat sama masa kecil aku sendiri." Raefal mulai bercerita dan mereka kembali mengerjakan tugasnya.
Zea kembali menoleh pada Raefal, "Kok bisa?"
"Namanya juga amnesia, Ze. Pasti bakalan kehilangan sebagian ingatannya." Jawab Raefal setengah jengkel.
"Iya tahu!"
"Ze, boleh ngga sih kamu aku ceburin ke got?"
"NGGA BOLEH LAH! PACAR MACAM APA KAMU YANG MAU NYEBURIN PACARNYA SENDIRI KE GOT?!" Zea berteriak histeris dan membuat kedua telinga Raefal serasa ingin lepas dari tempatnya.
"Berisik, Ze!"
"BIA-" sebelum Zea kembali berteriak, Raefal buru-buru menyumpal mulut Zea dengan keripik kentang.
Zea terus mengoceh tidak jelas saat ia mengunyah keripik tersebut. Setelah menelan habis keripik kentang tersebut, mulut Zea sudah siap untuk mengomel lagi, namun Raefal segera menyodorkan minum untuk Zea.
"Jangan ngomel. Minum!"
Zea menurut, ia pun tidak jadi memarahi Raefal. Padahal tadi Zea sudah kesal sampai ke ubun-ubun.
"Raefal ternyata nyebelin!" Zea cemberut sembari menekuk kedua tangannya di depan d**a.
Sedangkan Raefal hanya bisa tertawa dan hal itu tentu saja membuat Zea semakin jengkel.
"Udah ih jangan ketawa terus! Cepetan cerita lagi!!" Zea mulai mengoceh lagi.
"Iya-iya. Jadi ... dulu aku sempat kecelakaan parah dan kecelakaan itu juga yang udah buat Bunda pergi ninggalin aku. Yang aku ingat cuma perkataan Bunda yang bilang kalau aku ngga boleh cari tahu tentang Ayah lagi."
"Kenapa Bunda kamu bisa bilang kayak gitu?"
"Aku ngga tahu, Ze. Bunda cuma bilang kalau Ayah aku itu udah pergi dan aku ngga boleh cari tahu tentang Ayah lagi. Tapi ... entah kenapa sampai sekarang aku yakin kalau Ayah masih ada, ngga pergi seperti yang Bunda bilang. Sayangnya aku ngga ingat sedikitpun wajah Ayah seperti apa."
Zea mengusap tangan Raefal, berusaha menyalurkan semua kekuatannya untuk Raefal. "Yaudah, kamu berdoa yang terbaik untuk Ayah kamu, siapa tahu beliau memang masih ada dan suatu saat nanti kalian akan di pertemukan kembali. Lagian ... sekarang kamu ngga sendiri kan? Kamu punya Mama Ratna, Papa Dimas dan aku."
"Sebenarnya masih ada Oma, tapi Oma tinggalnya jauh. Terakhir kali aku datang ke rumah Oma itu pas aku SMP kelas tiga."
"Sejauh apa memangnya?"
"Sejauh aku jatuh cinta sama kamu, Ze. Hahaha." Raefal tertawa mendengar ucapannya sendiri. Sedangkan Zea sedang menahan malu akibat ucapannya Raefal barusan.
"Raefal jangan ngomong kayak gitu ih!" Zea mendorong tubuh Raefal agar menjauh dari dirinya.
"Salting, ya? Hahaha." Raefal kembali menggoda Zea.
"Pulang sana!" Usir Zea dengan jengkel.
Bukannya menjauh, Raefal malah mendekati Zea dan membaringkan tubuhnya di pangkuan gadis itu. Dan hal tersebut semakin membuat pipi Zea merah merona. Zeapun berusaha untuk tidak menatap Raefal.
Namun yang terjadi, Raefal malah mencolek-colek dagu Zea. Membuat Zea mau tak mau akhirnya menatap Raefal yang sedang berbaring di atas pangkuannya.
"Nyebelin!" Zea menupuk dahi Raefal dengan cukup kencang.
"Tapi sayang?" Goda Raefal lagi.
"RAEFAL IH!"
Raefal hanya tersenyum dan ia mulai memejamkan kedua matanya, "Aku tidur, ya?"
Zea tersenyum dan iapun mengelus rambut Raefal dengan lembut yang membuat Raefal semakin terbang jauh ke alam mimpinya.
"Kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu semudah ini? Padahal ... banyak orang di luar sana yang coba untuk mengambil hati aku. Tapi, ngga ada satu orangpun yang bisa luluhin hati aku. Dan kamu? Suatu hari kamu datang dan di detik pertama aku lihat kamu, kamu langsung berhasil membuat aku memiliki rasa yang berbeda."
"Dulu ... aku ngga pernah percaya sama yang namanya cinta. Apalagi cinta pandangan pertama. Tapi, sekarang aku tarik lagi ucapan aku karena kamu, Fal. Aku belum pernah kehilangan seseorang yang aku sayang. Dan semoga saja, kamu bukan orang pertama yang pergi ninggalin aku."
"Aku percaya sama kamu. Aku sayang kamu, titik." Zea berkata panjang lebar. Tangannya masih setia mengelus rambut Raefal dengan lembut.
Tanpa diduga, tangan Raefal menggenggam tangan Zea yang sedang mengelus rambutnya, "Aku pernah kehilangan orang yang benar-benar aku sayang. Dan aku tahu rasanya seperti apa. Aku ngga mau kamu ngerasain apa yang pernah aku rasain dulu." Ucap Raefal dengan kedua matanya yang masih terpejam.
"Kok kamu ngga tidur, sih? Berarti tadi kamu dengerin apa yang aku omongin?!" Zea panik dan merasa sangat malu.
"Makasih, Ze." Raefal tersenyum dengan kedua matanya menatap Zea lekat.
"Makasih buat?"
"Makasih udah buat aku sayang banget sama kamu."
Kemudian, Raefal bangkit dan ia langsung merapikan buku-bukunya ke dalam tas.
"K-kamu mau ke-kemana?" Tanya Zea gugup. Ia masih merasa bahwa dirinya terbang di atas awan karena ucapan Raefal tadi.
"Mau pulang. Soalnya Mama lagi sendiri di rumah."
"Oh, o-oke."
Raefal mengerutkan wajahnya, "Kenapa jadi gugup gitu, Ze?" Raefal cekikikan.
"Hah? Ngga, ngga. Biasa aja, kok." Sanggah Zea.
Raefal berdiri diikuti dengan Zea.
"Yaudah aku pulang, ya?" Ucap Raefal setelah mereka berdua sampai di depan pintu.
"Iya, hati-hati." Zea tersenyum dan Raefal mengangguk sembari memakai helm.
Raefal mulai menyalakan mesin motornya, sebelum benar-benar pergi ia membunyikan klakson terlebih dahulu. Setelah itu, motor yang di kendarai Raefal perlahan mulai hilang dari pandangan Zea dan digantikan oleh kedatangan mobil sang Papa.
"Ze, kenapa malam-malam di luar?"
"Mama!" Zea langsung memeluk seseorang yang baru saja tiba di hadapannya dan mengabaikan pertanyaannya barusan.
"Mama kangen, Ze."
"Ze, juga kangen. Papa mana?" Tanya Zea.
Mereka berdua langsung mengalihkan pandangan mereka pada sosok yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Papaaa!" Kali ini Zea menghampiri sang Papa dan langsung memeluknya.
"Hello, my queen! How are you?" Ucapnya sambil mengelus rambut sang putri.
"Aku ngga baik. Mama sama Papa kan tinggalin aku seminggu." Zea merengek manja pada sang Papa.
"Iya maaf, sayang. Mama sama Papa kan kemarin banyak tugas." Ucap Zemira dengan lembut dan iapun berjalan menghampiri dua orang yang sangat berarti di dalam hidupnya itu.
"Sudah malam, jangan di luar. Masuk, yuk?" Ajak Ray pada sang istri dan anaknya.
Mereka bertiga pun jalan beriringan memasuki rumah. Zea berada di tengah sembari menggandeng kedua orang tuanya dengan manja.
"Ze, Papa tadi lihat teman kamu yang barusan pulang pas kita datang." Ucap Ray.
"Cowok ya, Ze? Teman atau teman nih, Ze?" Zemira menggoda sang putri.
"Ih Mama apaan sih, jangan kayak gitu." Kedua pipi Zea bersemu merah.
"Cieee!" Ucap Ray dan Zemira bersamaan.
"Ngga di kenalin nih sama Papa? Anak Papa sudah besar ternyata!" Ray mencubiti pipi Zea dengan gemas.
"Namanya Raefal, Ma, Pa. Besok aku ajak dia main lagi deh." Zea menyengir lebar kepada kedua orang tuanya.
Tak ada yang bersuara lagi, mereka melanjutkan langkahnya menuju ruang keluarga. Tak perlu menunggu waktu yang lama, Bi Inah datang sembari membawa tiga gelas air teh hangat.
"Zea?" Panggil Ray pada Zea yang tengah asyik memainkan ponselnya.
"Iya, Pa?" Zea berhenti memainkan ponselnya dan beralih menatap sang Papa.
"Jauhi teman kamu yang bernama Raefal."
☆☆☆