Bab 7 - Qeenan Laurens

1511 Words
  “Kyaaa!” teriak Zihan saat membuka mata dan melihat Zidane tertidur di sampingnya tanpa mengenakan baju. Zidane kaget dan membuka matanya, ia kemudian melihat Zihan yang menutup selimut hingga menyisakan puncak kepalanya saja. “Kenapa lo bisa tidur di sini?!” Teriak Zihan sementara Zidane menarik selimut Zihan karena gemas dengan tingkahnya. Meksipun ia sendiri juga kaget, ia bisa tertidur dengan lelap, tidak seperti biasanya. Ia selalu waspada dan terjaga saat tengah malam atau menjelang pagi. “Apa sih. Berisik amat, kan lo yang maksa gue tidur di sini.” “Hah? Kapan gue maksa? Dan kenapa lo gak pakai baju?” “Gue juga nggak tahu.” “Nggak tahu apanya? Zidane!” Zidane berbalik, ia kembali berbaring dan bersiap untuk tidur lagi. Ia masih sangat mengantuk. “Zidane! Kata siapa lo bisa tidur di sini!” “Biarin gue tidur di sini bentar. Gue udah lama gak pernah tidur senyaman ini.” Ujar Zidane tanpa berbalik, membuat Zihan menatap punggung bertatto milik Zidane. “Oh iya. Gue lupa. Kan lo gay. Kenapa gue panik lo tidur di sini?” Zihan kemudian mendekati Zidane dan berbisik di dekat telinganya. Zidane dapat merasakan d**a Zihan pada punggungnya. “Ya udah, lo boleh tidur di sini.” Reflek, Zidane bangun dan secepatnya pergi dari kamar Zihan. “Zidane! Nggak jadi tidur di sini?” “Nggak!” “Haha! Kenapa? Katanya nyaman!” “Gue takut diperkosa sama lu!” Sahut Zidane dari luar, ia tersandar di depan pintu sambil menyentuh dadanya yang berdegup kencang. “s**t! Zidane, control your self!” “Who the f**k are you?!” Bentak seorang pria tua namun masih memiliki badan yang gagah serta tampan. Hanya beberapa rambut yang memutih dan kumisnya yang membuat pria itu tampak tua. Reflek, Zidane yang melihat orang asing masuk ke dalam apartemen Zihan segera mendekat dan mendorong pria itu hingga menabrak dinding. Tangan kiri Zidane menahan leher pria tua itu sedangkan tangan kanan Zidane mencengkeram tangan pria itu. “Zidane! He is my father!” teriak Zihan, gadis itu masih mengenakan lingerie di lapisi kimono tipis berwarna senada dengan lingerienya. “Father?” Zidane kemudian menatap wajah pria tua itu dan berpaling melihat Zihan lagi. “Lepasin dong Zidane!” “Eh iya, Sorry.” Pria tua itu memperbaiki kerah kemeja mahalnya sambil menatap Zidane jengkel. Pria tua itu kemudian berjalan dan duduk di sofa mahal milik Zihan. Zihan mengekori sambil mengkode Zidane agar segera mengenakan seragam rapinya sebagai bodyguard. “Ada apa anda ke sini?” tanya Zihan, pria itu kemudian melemparkan map bersampul emas kepada Zihan. Tertulis L dengan sangat besar dan elegant di sampul map itu. “Apa ini?” Zihan bahkan enggan menyentuh map itu. “Perusahaan baru ayah, di Miami. Persiapkan diri kamu dalam satu bulan. Kamu akan memimpin cabang perusahaan di sana.” “Apa? Berapa kali Zihan bilang, Zihan gak akan meneruskan salah satu perusahaan ayah! Apa Darrel kurang? Apa ayah butuh satu robot lagi untuk aset ayah?!” “Terus? Kamu mau menjadi model seperti ini terus? Berapa gaji yang kau dapat dari model? Ayah bisa memberimu berkali lipat!” “Ini bukan soal uang ayah!” Zihan menahan tangisnya. Ini sebabnya ia tidak pernah dekat dengan ayahnya. Ayahnya yang terlalu ambisius dan terlalu gila bekerja. Dan itu sebabnya ia kehilangan ibunya. Dan, Zihan sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menjadi orang gila seperti ayahnya. “Kamu bahkan tidak berkembang di dunia yang kamu pilih sendiri. Bisa apa kamu selain memamerkan tubuh kamu, hmm? Apa kamu pikir ayah tidak tahu? Kamu hampir diperkosa, skandal-skandal kamu dengan berbagai pria. Itu sangat membuat ayah muak!” Pria itu nyaris menampar Zihan, namun ia tahan. “Darrel tidak ada di sini. Karena itu ayah berani ke sini kan? Aku tahu Darrel membuat perjanjian dengan ayah! Darrel menuruti semua permintaan ayah asal ayah tidak menggangguku! Aku akan menghubungi Darrel dan memberi tahu semuanya!” “Oke. Baiklah. Ayah beri kamu satu kesempatan lagi. Menangkan penghargaan sebagai best internasional model di Fashion Awards tahun ini! Kalau kamu berhasil mendapatkan penghargaan itu, ayah akan membiarkan kamu menggeluti bidang ini. Kamu Laurens, tapi kenapa tidak ada satu bakat istimewa pada dirimu? Benar-benar menyedihkan.” Pria tua itu kemudian berdiri, saat sudah di depan pintu, ia berhenti dan berbalik, menatap Zihan yang masih terpaku di sofa. “Pria tadi. Siapa dia? Pacar barumu? Dari perusahaan mana?” “Apa peduli ayah? Itu bukan urusan ayah.” “Baiklah. Ayah akan mencari tahu sendiri. Kamu tahukan, apa yang akan terjadi kalau ayah sudah tahu siapa dia?” “Alright! He is my bodyguard! Oke!” “Dari perusahaan mana? Ayah tahu perusahaan penghasil bodyguard yang sangat bagus. Pecat dia jika dia bukan dari perusahaan ternama di New York.”               Pria itu kemudian pergi. Zihan mengambil map itu dan melemparkan pada vas bunga di dekat televisi. Membuat vas bunga mahal itu hancur seketika. Tak puas sampai di situ, Zihan membuang pajangan yang ada di atas meja tamu ke sembarang tempat. Bantal-bantal di sofa juga ia buang dengan membabi buta. “Zihan, Zihan stop!” Zidane menghentikan kegilaan Zihan, pria itu memeluk Zihan dari belakang dengan erat. Zihan terdiam sejenak, kemudian tangisnya pecah. Ia berbalik, memeluk Zidane dan menangis dalam diam dengan bahu yang terguncang hebat. Sesakit itu. Zidane hanya diam sambil mengelus punggung Zihan.               Ia sungguh tidak tahu, Zihan begitu banyak mengalami tekanan, baik dari keluarganya, atau dari wartawan dan fansnya. Melihat Zihan terpuruk seperti ini, Zidane semakin tidak tega. Bagaimana nanti jika Zihan tahu bahwa ia bukan seorang gay? Bagaimana nanti jika Zihan tahu kehadirannya malam itu memang untuk membunuh pria itu? Bagaimana nanti jika Zihan tahu, sudah berapa banyak nyawa yang melayang di tangannya?               Tanpa sadar, Zidane memeluk Zihan semakin erat. Sungguh, ia sudah lama tidak mengalami perasaan seperti ini. Selama ini, ia hanya menjalani berbagai misi, tanpa peduli pada perasaan orang lain bahkan dirinya sendiri. Zidane hanya mengumpulkan uang sebanyak mungkin agar ia bisa pergi kemanapun dan melakukan apapun yang ia suka. Ia tidak butuh keluarga. Lihat, apa yang terjadi ketika memiliki keluarga? Mereka akan mengatur apapun yang ingin kau lakukan. Dan Zidane sangat membenci itu.               Tapi, bersama Zihan, Zidane kembali merasakan hangatnya memiliki seorang keluarga. Meski tentunya dimata Zidane, Zihan tidak akan dijadikannya keluarga, justru Zidane sangat ingin memangsa Zihan karena tubuh indahnya. Sungguh, melihat Zihan seperti ini membuat Zidane tertampar begitu keras. Ia sungguh pria b******k. Untuk gadis sebaik dan setulus Zihan. Ia sangat b******k, mempermainkan Zihan seperti ini. Ia memang pria b******k. “Maafin gue, Zihan.” Ujar Zidane dalam hati. “Z… Zidane..” ringis Zihan dibalik pelukan Zidane. “Ya?” “Lo meluknya terlalu kencang, gue gak bisa nhafasss…” Reflek, Zidane langsung melepas pelukannya, ia kemudian membelakangi Zihan karena salah tingkah. Zihan yang sempat lupa kejadian kemaren kembali mengingat kelakuan menyebalkan Zidane yang meninggalkan Zihan sendirian demi dua temannya itu. Entah kenapa, Zihan sedikit jengkel dengan perbuatan Zidane itu. Zihan kemudian ke mini bar, mengambil segelas air dan meminumnya. Merasa gerah, ia kemudian mengikat rambutnya, memamerkan leher indahnya. Dan Zidane hanya bisa melirik semua itu dengan sembunyi karena masih menghindari kontak mata dengan Zihan. “Kemaren lo ke mana?” ujar Zihan akhirnya, ia menghampiri Zidane yang masih berdiri kaku di ruang tamu. “Kenapa emangnya?” “Kenapa? Lo gak bisa dong pergi seenaknya di jam kerja. Lo ninggalin gue sendirian!” “Sorry, kemaren ada urusan urgent. Makanya mereka sampai samperin gue ke sini.” “Urgent? Urusan apa?” Ayo Zidane pikir! Alasan apa yang tepat agar Zihan tidak curiga? “Um, gue malu bilangnya…” “Apa? Bilang atau gue marah?” Zidane masih menimbang-nimbang apa alasan ini sudah tepat? Zihan memelototinya. Ah Zihan terlalu dekat, leher putihnya, baju tidur yang sedang dikenakannya saat ini, ya ampun fokus Zidane! “Um, lo nggak lupakan kalau gue gay?” “Ya? Terus?” “Lo maksa gue jadi bodyguard lo, gue perlu mengurus beberapa hal karena itu…” “Ahhh… Lo kehilangan pelanggan ya? Tenang aja, gue bisa bayar lo lebih mahal dari pada mereka. Zidane, lo tuh ganteng, badan lo  bagus, jago berantem pula. Tapi kenapa lo gay sih? Apa lo pernah disakitin cewek? Atau lo gak suka badan cewek? Mau gue bantu lo normal lagi gak? Gue bisa liatin…” “Zihan stop!” Zidane menahan kening Zihan yang hendak maju mendekatinya sambil menutup kedua matanya. Membuat Zihan terkekeh karena Zidane sangat takut padanya. Kelakuan Zidane yang seperti itu membuat Zihan yakin bahwa Zidane memang gay karena takut padanya. Padahal Zidane seperti itu agar ia bisa menahan diri dan tidak menyerang Zihan. Sungguh, malang sekali nasibmu Zidane. Puas menertawakan Zidane yang sudah kabur itu, Zihan mengambil ponsel dan menatap layar ponselnya. 10 panggilan tidak terjawab dari Jean, managernya. Ia pun menghubungi kembali Jean, mungkinkah ia ada job yang terlewat hari ini? Ah, ini akibatnya jika ia jauh dari managernya. Zihan terlalu malas untuk mengingat semua jadwal yang harus ia lakukan. Semua ia serahkan kepada Jean managernya. “Lo kapan ba…” “Lo kemana aja sih?” omel Jean, Zihan bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. “Sorry, tadi Qeenan dateng. Bikin rusak pagi hari gue yang cerah aja.” “Qeenan-Qeenan bapak lu itu! Buruan siap-siap, gue di telfon sama Get Glam mendadak, lo terpilih jadi model untuk cover majalah edisi bulan depan Han!” Jean sangat antusias di sebrang sana. Berbeda dengan Zihan yang justru menguap karena mendengar nama Get Glam. “Get Glam? Ogah. Lo aja sana!” “Hei ntar dulu jangan dimatiin! Ini bagus buat karir lo Zihan! Foto untuk cover majalah! Get Glam lagi! Itu bukan majalah kecil Zihan!” “Ah.. Gue males Jean… Lo kapan baliknya sih? Hidup gue udah kacau berat sejak lo ninggalin gue.” “Udah deh nggak usah drama. Siap-siap sekarang oke?” “Yah, baiklah nyonya…” Ledek Zihan, ia kemudian tertunduk lesu. “Baiklah, semangat Zihan! Rachel sialan itu nggak akan bisa bikin lo jadi lemah!” ujar Zihan menyemangati dirinya sendiri. “Zidane! Siap-siap buruan! Kita ke majalah terkutuk itu lagi!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD