Sesampai di parkiran apartemen, Zihan ke luar dengan lesu. Namun langkah kakinya terhenti saat melihat dua orang di hadapannya. Seorang cewek berrambut pendek, sorot matanya menatap Zihan dengan penuh kebencian. Cewek itu mengenakan sepatu boots tinggi hingga ke lututnya, sedangkan atasannya ia hanya mengenakan crop top berwarna hitam yang memamerkan sebagian dadanya, tak lupa dengan jaket kulit hitam yang mirip seperti milik Zidane.
Zihan mundur selangkah, kemudian ia menatap pria di samping wanita itu, pria tinggi, berotot dan terdapat tato kecil di atas pelipisnya. Pria itu tersenyum manis pada Zihan.
“Zidane…” panggil Zihan karena Zidane tak kunjung menghampirinya. Zidane sedang memarkirkan mobil karena Zihan memintanya untuk turun di dekat lift di bassment apartemennya.
“Letty? What are you doing here?!” Zidane terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Wanita bernama Letty itu berlari dan memeluk Zidane dengan erat. Zihan hanya menatap adegan itu dengan mulut terbuka. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Siapa wanita itu? Kenapa ia sangat dekat dengan Zidane? Bukannya Zidane gay?
Zidane melepas pelukan Letty dengan paksa, ia kemudian mendekati Zihan dan menyuruh Zihan untuk masuk duluan.
“Kenapa gue harus masuk duluan? Gue masih mau di sini!” Keukeh Zihan, membuat Letty semakin memelototi Zihan.
“Karena kita ada urusan yang sangat intim. Ya kan sayang?” ujar wanita itu membuat pria yang datang bersamanya menyenggol Letty dengan sengaja.
“Apa sih!” Omel Letty pada pria itu.
“Mereka teman gue. Lo bisa ke atas sendirikan? Nanti gue nyusul.”
“Nggak!”
“Oke fine, gue antar lo ke atas. Kalian tunggu di sini!” Zidane merangkul Zihan menuju ke lift.
Letty menendang kaki pria yang ada di sampingnya karena jengkel.
“Aduh! Sakit bego!” Ringis pria bernama Peter itu.
“Lo kan yang punya ide ini? Gara-gara lo gue gak akan bisa ketemu Zidane lagi!”
“Yah gimana lagi? Dia ke ekspose! Lo mau Zidane di tangkap polisi atau dia nyamar jadi bodyguard Zihan hah?!”
“Nggak mau dua-duanya!” Letty berbalik, ia menunggu di depan mobilnya sambil tersandar dengan kedua tangan terlipat di d**a. Peter menghela nafas panjang. Harusnya ia tidak membawa Letty menemui Zidane. Peter terpaksa karena Letty selalu memaksanya.
***
Sementara di lift, Zihan membelakangi Zidane karena kesal dengan kedua teman Zidane yang muncul mendadak itu. Lagi pula, tahu dari mana mereka alamatnya? Apa mereka salah satu fansnya?
“Siapa mereka?” tanya Zihan saat masih di dalam lift dan masih membelakangi Zidane.
“Em, penting buat lo tahu?”
“Penting! Mereka tahu alamat gue! Jangan bilang lo yang ngundang mereka ke sini? Mereka fans gue? Ngaku!”
Zidane terkekeh. Zihan benar-benar terlalu percaya diri. Apa kata Letty dan Peter nanti kalau mereka tahu Zihan mengira keduanya sebagai fans?
“Um iya, yang cowok itu emang fans lo deh kayaknya. Kenapa? Mau gue kenalin?” ujar Zidane berusaha mengalihkan Zihan. Sejauh ini, Zihan tidak curiga pada kedua temannya itu.
“Gue nggak suka ya privasi gue keganggu! Lo tahu gak sih gue harus pindah berapa kali dalam satu tahun karena terganggu dengan fans atau wartawan?!” Zihan menoleh, terlihat jelas di wajahnya ia benar-benar sedang marah.
Zidane salah tingkah, sungguh ia tidak bisa menebak bagaimana karakter Zihan yang sebenarnya.
“Sorry, gue cuma bercanda. Mereka bukan fans lo, mereka emang teman gue. Dan gue juga nggak tahu mereka dapat alamat ini dari mana.” Zidane menekan tombol lantai yang berbeda dengan Zihan. Lift berhenti di lantai 30, Zidane pun keluar tanpa menoleh lagi pada Zihan.
“Apa-apaan? Kenapa jadi dia yang marah?!”
***
“Lama banget!” celetuk Letty saat Zidane berada di hadapannya. Zidane kemudian menepuk kening Peter dengan keras, kemudian kening Letty sedikit pelan, tidak sekeras pukulannya pada Peter, membuat Peter menatap Zidane dengan jengkel.
“Aduh! Sakit! Kenapa sih?!” Letty mengelus kening mulusnya.
“Siapa yang suruh lo berdua ke sini? Lo mau Zihan curiga hah?”
“Noh. Letty yang maksa gue ke sini. Lo tahu dia, sehari aja nggak lihat lo bisa mati kali dia. Kenapa agent Zifero nggak ada yang becus dah!” Letty lagi-lagi menendang Peter.
“Kenapa harus jadi bodyguardnya Zihan sih? Kenapa gak cari aktor laki-laki aja?”
“Gue juga nggak tahu. Ini kebetulan.”
Mendengar itu, Letty kemudian mengamit lengan Zidane dan menyandarkan kepalanya di bahu Zidane.
“Hueek!” olok Peter membuat Letty memelototinya hingga kedua matanya nyaris ke luar.
“I don’t like that b***h! Nggak usah jadi bodyguardnya aja ya?” rengek Letty. Zidane melepas rangkulan Letty, ia kemudian memegang kedua lengan Letty dan memberikan tatapan penuh arti pada gadis itu. Letty menelan ludah. Sudah berapa lama ia menjadi partnernya Zidane tapi ia selalu terpesona dengan tatapan Zidane yang seperti ini.
“Lo nggak mau gue di penjarakan?” Letty menggeleng.
“Good girl. Kalau gitu, tugas lo berdua sekarang, cari siapa pembunuh tua bangka itu. Dia pasti ingin menjebak Zifero. Pasti pelakunya sendiri yang menghubungi polisi karena kita sudah mengalihkan perhatian bodyguardnya lewat Letty. Lo yakinkan, bodyguardnya tua bangka itu ada di dekat lo malam itu?”
“Iya! Gue bahkan pura-pura mabuk agar mereka nganterin ke kamar hotel gue. Bodyguardnya Cuma dua orang. Benar juga ya! Pasti ada yang ingin jebak kita! Kenapa gue nggak kepikiran?”
“Kita harus ke markas Dan. Lo harus kasi tahu ini ke Zian.”
Zidane mengangguk, ketiganya kemudian menaiki mobil dan meninggalkan apartemen.
Sesampai di kawasan yang di penuhi pohon dan jauh dari keramaian kota New York, mobil yang dikendarai oleh Peter di sambut dengan gerbang mewah dan tinggi, terdapat inisial Z di tengah gerbang itu, huruf Z itu diapit oleh dua malaikat di sampingnya.
Dari luar, bangunan ini tampak seperti kastil tua berhantu. Nyatanya, itu adalah kediaman Althaf Zian Vaderro, pemimpin Zifero. Kediamannya juga dijadikan sebagai markas tersembunyi bagi Zifero. Zifero sendiri diambil dari kata Lucifer yang dibalik dan diganti menjadi Zifero karena Zian yang membentuk tim rahasia ini.
Ketiganya masuk ke dalam kastil tua itu, tampak beberapa bodygurad berjaga di luar. Kastil tua ini dikelilingi oleh Bodyguard. Setelah masuk ke dalam, ketiganya menuju basment. Zidane menempelkan matanya ke alat pendeteksi mata di depan pintu, kemudian pintu besi itu terbuka.
Ketiganya terpaku saat melihat Zian tidak berbaju, pria itu tengah meninju samsak tinju keras miliknya tanpa henti, tanpa jeda. Zian bahkan tidak sadar dengan kehadiran ketiganya. Zian sama sekali tidak menggunakan sarung tinju, pria itu bahkan tidak peduli tangannya sudah meneteskan darah.
“Ehm!” deham Zidane, membuat Zian menghentikan aktivitasnya dan kaget melihat ketiganya ada di dalam ruangannya.
Zian kemudian mengambil handuk dan berjalan mendekati ketiganya. Letty menelan ludah saat melihat otot-otot di tubuh Zian, tapi meringis saat melihat bekas luka di punggung Zian.
“Ada apa?”
Pertanyaan itu tertuju pada Zidane. Zidane sudah terbiasa dengan sikap dingin Zian, ketiganya mengikuti Zian yang hendak duduk di kursi kerjanya. Atau lebih tepatnya, di tahta besar Zifero.
Ketiganya baris berjejer dengan tegap. Ya, mereka memang sangat menghormati Zian.
“Pria tua bangka itu, ah, maksudnya Mr. Waller itu, pembunuhnya berniat menjebak kita. Untung saja saya cepat ke luar dan bisa lolos dari jebakannya. Dia pasti tahu keberadaan kita.” Jelas Zidane.
Zian menggeleng. Rambut basah tak beraturan dan sorot matanya yang tajam membuat Letty dan Peter sedikit gemetaran. Zian sangat menyeramkan. Kenapa Zian menggelengkan kepalanya? Apa ia sudah tahu siapa pembunuh Mr. Waller itu?
“Kalian tidak perlu mencari tahu lebih lanjut mengenai pembunuh Waller. Sekarang, fokus saja pada penyamaranmu. Aku tahu kau bersenang-senang di sana bukan? Tapi hati-hati, jangan sampai kau terlena pada gadis seperti dia.”
“Kenapa? Bukannya akan berbahaya bagi Zifero jika pembunuhnya tahu keberadaan kita?”
Zian tersenyum sinis kemudian raut wajahnya berubah menyeramkan lagi. Secepat itu perubahan pada wajahnya, membuat Letty tertunduk takut. Ia jarang menemui Zian secara langsung. Biasanya, ia selalu berkomunikasi dengan Peter jika ada misi.
“Zifero tidak akan jatuh semudah itu. Belum saatnya membahas masalah ini. Kalian bisa berlibur selama satu bulan. Setelah ini, akan ada misi besar yang menunggu. Setelah saya memastikan keberadaan b******n itu. Saya akan menghubungimu.” Ujar Zian kemudian melangkah ke luar.
Zidane berbalik, hendak pergi juga tapi di tahan oleh Letty.
“Mau ke mana?” tanya Letty.
“Zihan.” Sahut Zidane kemudian menepis tangan Letty.
“Apa?” Letty hendak menyusul tapi di tarik oleh Peter.
“Apa sih? Lepas gak!” amuk Letty.
“Lo sama gue aja. Zidane lagi jalani misinya. Dia nyamar sebagai bodyguard karena misi terakhirnya. Artinya Zidane masih dalam misi sekarang. Lo mau diamuk Zian karena hampir bikin Zidane ketahuan? Untung tadi Zihan gak curiga!”
“Gue gak masalah kalau cewek lain. Tapi ini Zihan! Kalau Zidane jatuh cinta beneran sama tuh cewek gimana?”
“Ya udah, sama gue aja. Gampangkan?” Peter merangkul Letty sambil mengedipkan matanya.
“Najis!” Letty menginjak kaki kanan Peter kemudian pergi.
***
Zidane melangkah dengan tergesa, entah kenapa perasaannya tidak enak. Yang ada di kepalanya saat ini hanya Zihan yang sedang sendirian. Bagaimana jika Aaron datang lagi dan hendak mencelakainya? Atau pria-pria lain yang hendak mencelakainya?
Zidane menggelengkan kepalanya, bingung kenapa ia mencemaskan Zihan seperti ini? Padahal baru satu minggu ia menjadi bodyguardnya. Zidane masuk ke dalam lift dan menekan angka 50, lantai di mana apartemen mewah milik Zihan berada.
Sesampai di depan pintu apartemen Zihan, Zidane yang sudah diberikan akses masuk ke dalam apartemen dapat masuk dengan mudah.
Ruangan sangat gelap. Zidane melirik arloji di tangannya. Sudah tengah malam. Apa Zihan sudah tidur? Zidane berjalan ke kamar Zihan, ruangan itu juga gelap. Tanpa pikir panjang ia menyalakan lampu di kamar itu. Tapi, Zihan tidak ada di kamarnya.
“Zihan? Apa dia pergi ya?”
Zidane kemudian mengecek kamar mandi, situasi ini seperti dejavu baginya. Kali terakhir, ia melihat mayat tergeletak di kamar mandi. Dengan cepat ia menyalakan lampu di kamar mandi itu, dan menarik nafas lega saat Zihan tidak ada di dalamnya. Zidane kemudian keluar, ia mencoba menghubungi Zihan.
Terdengar dering ponsel milik Zihan di dekatnya. Di arah ruang tamu. Zidane menyalakan lampu di ruang tamu tersebut dan mendapati Zihan tertidur dengan kemeja putih kedodoran miliknya. Zidane kemudian mendekat, menatap wajah terlelap milik Zihan. Tanpa sadar ia menyentuh kening hingga pipi Zihan.
“Cantik.” Bisik Zidane. Ia kemudian menggendong Zihan dan memindahkannya ke dalam kamarnya dengan perlahan. Setelah memastikan Zihan tidur dengan posisi ternyaman dan menyelimutinya, Zidane mematikan lampu dan hendak ke luar.
Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar lenguhan dari Zihan. Zidane segera menyalakan lampu lagi. Zihan terlihat ketakutan di dalam tidurnya. Zidane kemudian mendekat dan menggenggam tangan Zihan.
“Hah! Lepas! Lepasin Aaron!” Zihan bangun dan duduk kemudian menepis tangan Zidane, ia kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, menyisakan kepalanya saja.
“Sst Zihan, ini gue Zidane. Lo aman di sini. Lo aman.” Zidane menarik Zihan ke dalam pelukannya. Zihan menangis sejadi-jadinya. Ia tak bisa lagi menutupi kegelisahannya akibat ulah Aaron minggu lalu. Bayangan wajah aktor b***t itu selalu muncul menghantuinya.
“Gue takut Zidane… Gue udah berusaha untuk lupain saat b******n itu nyentuh gue tapi dia selalu muncul… selalu muncul…” Zidane mengelus punggung Zihan, memberikan ketenangan pada gadis itu.
“It’s okay. Gue bakalan jagain lo semalaman. Sekarang, tidur lagi ya.” Zidane melepas pelukannya, dan membaringkan Zihan dengan pelan. Zihan menatap wajah Zidane tanpa kedip. Zidane sangat tampan. Mungkinkah pria setampan dia adalah seorang gay?
“Zidane.”
“Ya?”
“Tidur di sini ya? Sama gue.”
“Apa? Kenapa gue harus tidur di sini?”
“Gue takut.”
“Gue jagain lo di luar.”
“Ayolah. Kan lo gay. Gak masalah dong kalau tidur sama gue?” pancing Zihan.
“Oke fine. Lo mau gue tidur di mana? Di samping lo?” tantang Zidane.
“Emang lo berani?”
“Kenapa enggak?”