Sesampai di Mansion mewah dengan nuansa berwarna emas dan putih ini, Zihan turun dengan membanting pintu mobil dengan kuat.
“Vallet! Ayo Zidane!” Zidane yang belum terbiasa dengan kekayaan keluarga Laurens bingung. Bahkan mereka menyediakan vallet mobil? Di mansion ini? Jelas, mansion sebesar dan seluas ini pastinya membutuhkan vallet mobil agar keluarga atau tamu tidak kerepotan memarkirkan mobil. Zidane melemparkan kunci mobil kepada seseorang yang berjas sama dengannya. Ia kemudian masuk dengan santai, tidak menunjukkan sikap hormat seperti bodyguard lainnya.
Zihan segera ke lantai atas, tempat di mana Darrel berada.
Brak!
“Darrel!” benar saja kecurigaan Zihan, Darrel sedang bertelanjang d**a sambil memeluk seorang gadis cantik, Darrel sedang sibuk menjelahi d**a gadis itu saat Zihan masuk.
“s**t Zihan! Lo hobby banget ngerusak birahi gue!”
Gadis yang dipelukan Zihan serba salah, pasalnya ia mengenali Zihan dan Zihan juga mengenalinya. Gadis itu seorang model yang baru saja akan memulai karirnya.
“Lo?!” teriak Zihan, ia pun masuk dan menyeret gadis itu ke luar.
“Pergi dari sini kalau lo masih pengen hidup!” Zihan kemudian masuk dan menutup pintu ruang kerja Darrel, detik berikutnya ia membuka pintu kembali.
“Zidane sedang apa lo! Gue colok mata lo ya sama aja lo kayak Darrel!” Zidane segera menoleh, ia sempat terbius dengan gadis yang sedang mengenakan bajunya di depan Zidane dengan santai. Zidane terkekeh kemudian mengikuti perintah Zihan.
Zihan berkacak pinggang, memelototi Darrel yang mengenakan lagi kemeja putihnya tapi tidak ia kancing, memamerkan d**a yang bidang dan berotot miliknya. Zidane berdiri tak jauh dari pintu. Biar bagaimana pun ia hanya seorang bodyguard. Bukannya ia harusnya menunggu di luar? Tapi kenapa Zihan memanggilnya masuk?
“Sampai kapan sih lo kayak anjing liar gini hah Darrel?!”
Darrel terkekeh, ia berdiri tersandar di depan meja kerjanya, sementara Zihan berdiri di depannya.
“I can’t control it Baby. Lo gak pernah ngerasa sih, jadi gak bakalan paham.”
“Jadi gue juga boleh kayak lo?”
“Coba aja kalau gak mau tuh cowok yang sentuh lo gue bakar hidup-hidup. Gue boleh b******k. Tapi lo engga. Jaga diri lo sampe lo benar-benar dapat cowok yang sayang sama lo tulus. Bukan karna tubuh lo, dan juga bukan karna lo seorang Laurens.” Darrel mengelus puncak kepala Zihan, tapi di tepis oleh Zihan.
“Tangan lo habis megang apa tadi hah!” ujar Zihan membuat Darrel terkekeh.
Zidane hanya bisa menatap keduanya dengan kagum. Darrel lebih tinggi dan kekar darinya. Rambutnya yang tebal dan juga hidung mancungnya, serta bibir yang pastinya sangat disukai oleh kaum hawa, tak heran Darrel dapat menaklukan berbagai jenis wanita dengan mudah. Wajah tampan, kaya raya adalah perpaduan sempurna untuk menjadi playboy kelas kakap seperti Darrel.
“So, that’s Zidane?” Darrel menunjuk Zidane, Zihan menggangguk. Kemudian Darrel melambaikan tangannya pada Zidane, agar Zidane mendekat kepadanya.
Zidane mendekat dan betapa terkejutnya Zihan saat Darrel menendang tulang kering Zidane, tapi Zidane tidak terjatuh, Darrel kemudian memelintir tangan Zidane tapi Zidane berhasil membalikkan keadaan.
“Oke, oke. Lo lumayan juga.” Darrel menyerah. Ia hanya mengetes kemampuan bodyguard baru adik satu-satunya ini.
“Apa-apaan sih lo!” Zihan kemudian menarik Zidane, merapikan rambutnya seolah anaknya telah diganggu oleh orang lain.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Zihan, Zidane mengangguk. Ini sama sekali bukan apa-apa baginya.
“Oke juga. Nemu di mana?” tanya Darrel membuat Zihan kembali memelototinya.
“Enak aja nemu di mana. Emang Zidane p***n-p***n lo itu yang di pinggir jalan juga lo bisa dapet!” Darrel terkekeh sambil mengancing kemejanya kemudian melirik arloji di tangannya. Sebentar lagi ia harus berangkat ke Milan.
“Sorry yah Zihan sayang, selera kakak lo ini kelas berat. Lo tanya deh, artis atau model terkenal sekarang, rata-rata gue udah pernah nyicip mereka.” Pamer Darrel bangga.
“Sinting! Gue gak mau punya saudara kayak lo!”
“Yakin? Gue mau ke Milan loh ini sebulan.”
“Hah? Lama banget!” Zihan berbalik, ia tidak bisa jauh terlalu lama dari Darrel meskipun Zihan sangat membenci sifat Darrel yang satu itu. Ia selalu merasa aman jika Darrel ada di sekitarnya. Tidak akan ada yang berani mengganggunya.
“Katanya gak mau punya saudara kayak gue.”
“Nggak jadi…” Rengek Zihan, ia kemudian memeluk Darrel erat.
“Kan sekarang ada Zidane, gue percaya sama dia. Dan lo Zidane, gue selalu ngawasi lo. Jadi, hati-hati. Dan gue harap lo beneran gay. Kalau gue tahu lo sentuh Zihan sedikit sekalipun, gue hancurin masa depan lo.” Ujar Darrel sambil mengelus punggung Zihan.
“Siap!” Zidane memberi hormat pada Darrel, setidaknya ini yang bisa ia lakukan agar ia tak lupa bahwa saat ini ia adalah seorang bodyguard.
Darrel kemudian menarik tangan Zihan menuju sofa empuk di dalam ruang kerjanya, ia memberikan Zihan segelas wine. Darrel melihat banyak berita negatif mengenai Zihan dan ingin menanyakan beberapa hal padanya. Itulah alasan utama ia menyuruh Zihan menemuinya.
“Arron?”
“Udah putus.”
“Kenapa?”
“Brengsek.”
“Hmm. Fans yang mau perkosa? Itu beneran?”
“Ya beneranlah! Masa itu berita settingan? Gue gak sedrama itu Darrel!”
“Um. Diaz?”
Zihan terdiam. Harusnya ia tahu alasan utama Darrel memanggilnya adalah mengintrogasinya. Zidane hanyalah kedok agar ia mau menemui Darrel. Jika tahu akan diintrogasi seperti ini, Zihan tidak akan sudi menemui Darrel. Darrel, hidupnya sendiri sangat berantakan tapi ia sangat protektif pada Zihan. Dan itu tentu saja membuat Zihan sangat jengkel.
“Jauhi Diaz oke? Dia bukan pria baik.” Darrel menatap Zihan yang duduk di hadapannya dengan intens. Dari sorot mata Darrel, Zidane dapat tahu dengan jelas bahwa Darrel sangat menyayangi Zihan.
“Dia gak gila perempuan kayak lo, Darrel.”
“Dia mata duitan Zihan. Gue sangat kenal dengan dia. Dan perusahaannya sedang berusaha bekerja sama dengan Laurens Corp. Lo tahu maksud gue kan? Dia dekati lo, karna lo Laurens.”
Zihan terdiam. Sialan. Ia tak pernah bernasib baik dalam percintaan. Ia selalu bertemu dengan pria b******k yang menginginkan tubuh dan hartanya. Tapi, entah kenapa Zihan masih ingin bersama Diaz. Ia sangat menyukai melihat Rachel cemas akan kehadirannya. Setidaknya, itu bisa membuktikan bahwa dirinya sangat spesial hingga Rachel merasa tersaingi.
“Lo tahu gue selalu ngawasin lo kan? Dan ayah juga.”
“Ayah? Bukannya dia Cuma peduli sama lo?” sinis Zihan.
“Enggaklah. Dia cuma gengsi nunjukin sayangnya ke lo. Lo sangat mirip dengan mama. Jadi, dia gak bisa lama-lama ngeliat lo.”
“Alasan klasik. Kalian berdua sama-sama payah! Sama-sama gak bisa move on dari satu cewek. Ingat Darrel, dia sudah menikah.”
“Yash I know. Kenapa jadi bahas dia?!” ujar Darrel kesal.
“Iyalah. Dia yang bikin lo jadi bringas b******k bastard begini.”
“No. Berkat dia, gue nemuin jati diri gue sebenarnya. Buat apa setia sama satu wanita kalau di luar sana terdapat ribuan?” Darrel tersenyum sambil memainkan gelas wine di tangannya. Ia seperti ini jelas bukan karena wanita yang meninggalkannya bersama pria lain itu. Justru kejadian itu membuka matanya bahwa cinta itu memang tidak ada. Yang ada hanya uang dan kenikmatan. Hanya itu.
“By the way, kenapa lo tetap di sini?” Darrel menoleh pada Zidane yang tengah asyik mendengar percakapan ke duanya.
“Eh, emang harusnya?” Zidane menepuk dahinya, kemudian menunduk pada Darrel kemudian ke luar ruangan.
“Lo harus terbiasa jadi bodyguard, Dan. Lo bukan agent Zifero untuk sementara waktu!” omel Zidane pada dirinya sendiri saat menutup pintu dengan rapat. Sungguh, aktivitas yang berbeda dari sebelumnya membuatnya sedikit kesusahan. Ia lebih suka menyelinap dan melakukan hal berbahaya lainnya dari pada cuma menunggu di depan pintu. Membosankan.
Zidane kemudian menatap sekeliling ruangan. Rumah mewah ini hanya di huni oleh Darrel dan para pelayannya. Kenapa Zihan tidak tinggal di sini juga? Apa karena kelakuan brengseknya Darrel? Baru satu hari ia menjadi bodyguard Zihan, ia sudah tahu banyak mengenai keluarga ini. Biasanya, adik kakak dalam keluarga kaya tidak akan akur. Mereka pasti akan merebutkan kekuasaan. Tapi, Darrel dan Zihan berbeda. Keduanya memang terlihat saling membenci sekaligus saling menyayangi satu sama lain. Dan itu membuat Zidane sedikit iri. Ia tidak memiliki siapapun di dunia ini. Ia hanya seorang diri. Dan beruntung, ia bertemu dengan Zifero dan para agent lain yang sudah seperti keluarga baginya. Ah, tiba-tiba saja Zidane merindukan markas Zifero.
***
“Jangan lama-lama di sana.” Rengek Zihan lagi saat mengantarkan Darrel ke depan, mobil yang akan membawa Darrel ke bandara telah siap.
“Iya. Gue titip Zihan, Dan!” Darrel melambai kemudian masuk ke dalam mobil. Zidane menoleh dan melirik Zihan yang menyeka ujung matanya. Zihan nangis?
“Gue baru tahu lo manja banget ternyata.” Celetuk Zidane, Zihan tersadar Zidane ternyata ada di sampingnya. Tanpa banyak bicara, Zihan berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.
“Apa gue salah ngomong?”
Sepanjang perjalanan pulang, Zihan diam dan itu membuat Zidane merasa bersalah. Apa Zihan tidak suka dibilang manja? Atau dia sedih karena Darrel pergi?
“Lo kenapa?” tanya Zidane akhirnya. Zihan selalu cerewet di hadapannya, dan melihat Zihan yang mendadak diam seperti ini jelas mengganggunya.
“Lo pernah nggak, pengen lahir di keluarga yang berbeda dari keluarga lo sekarang ini?”
Zidane menggeleng.
“Kenapa? Karena mereka pasti baik ya sama lo?”
“Karena gue nggak punya keluarga. Gue nggak punya siapa-siapa dan gue baik-baik aja. Jadi, buat apa gue terlahir di keluarga lain? Gue suka jalan hidup gue sekarang.”
Deg. Zihan terdiam. Zidane sebatang kara. Harusnya ia bersyukur dilahirkan dikeluarga Laurens. Tapi, kenapa ia tak bahagia dengan nama belakangnya itu?
“Termasuk hidup lo yang jadi gay itu?”
Tcitt! Zidane mengerem mendadak mendengar pertanyaan Zihan.
“Apaan sih! Hati-hati dong!”
“Emang enak ya? Jadi gay?” lanjut Zihan lagi.
“Lo mau gue turunin di sini?” ancam Zidane, jengkel dengan pertanyaan Zihan. Zihan terkekeh, astaga, apa memang Zihan secantik ini?
“Zidane lihat depan!” Teriak Zihan saat mobil sedikit ke luar dari jalur.