Pagi buta tiga hari setelah rapat, Anisa sudah siap. Ia mengenakan pakaian yang nyaman untuk terbang—blus longgar, celana palazzo, dan sebuah sweater tebal berwarna krem yang menutupi lehernya. Pakaian tebal itu dikenakan bukan karena udara Bali yang dingin, melainkan karena ia merasakan dingin yang menusuk dari dalam. Selama dua hari terakhir, Anisa hampir tidak tidur. Ia harus menyiapkan rendering dan diagram teknis yang diminta Aidan, sambil melawan mual, pusing, dan batuk yang tak kunjung hilang. Wajahnya, di balik sedikit polesan make up tipis, terlihat sangat pucat, dan lingkar gelap di bawah matanya adalah bukti nyata bahwa ia mengalami kelelahan fisik yang parah. (Batin Anisa): Dokter sudah melarangku kelelahan fisik. Tapi aku butuh pekerjaan ini. Aku harus bayar Mas Aidan. Aku

