Setelah Tuan William dan stafnya meninggalkan ruang rapat, suasana kembali hening, namun kali ini dipenuhi aura gejolak batin Aidan. Hanya Aidan dan Kenny yang tersisa. Anisa dan Anita sudah kembali ke cubicle untuk mulai menyiapkan berkas perjalanan. Aidan menyandarkan punggungnya, memijit pelipisnya. Pengakuan Tuan William tadi terasa seperti bom waktu yang meledak tepat di wajahnya. Istrinya, yang selama ini ia cap sebagai guru TK sederhana dan istri pengganti tak berharga, ternyata adalah lulusan terbaik di salah satu universitas arsitektur ternama dan seorang Juara Desain Nasional. "Kenny," panggil Aidan pelan, suaranya sarat akan kekalahan. "Ya, Tuan," sahut Kenny, yang segera menyiapkan catatan. "Bagaimana menurutmu... mengenai Anisa?" tanya Aidan, sengaja menggunakan na

