Acara selamatan mendiang Kakak Anisa dimulai. Ruang tengah rumah itu dipenuhi sanak famili dan anak-anak yatim dari panti asuhan yang diundang.harum masakan, menciptakan suasana khidmat yang dingin. Aidan duduk di barisan depan bersama Ayah mertuanya dan para pria keluarga. Ia diposisikan sebagai 'mantu yang berduka', harus bersikap sebagai suami yang peduli dan menantu yang menghormati. Namun, setiap kata yang diucapkan oleh pemimpin doa seolah menusuknya, mengingatkannya pada pengkhianatan yang ia rasakan terhadap cinta masa lalunya. Di sisi lain ruangan, Anisa memilih duduk di belakang anak-anak yatim. Ia ingin menghindar dari tatapan menyelidik para bibi dan sepupu. Anisa kelihatan tegar atau pura-pura tegar; wajahnya datar, seolah ia hanya menjalankan kewajiban. Pembacaan Surat

