Anisa mengemudikan motornya di tengah sisa-sisa gerimis malam Jakarta. Meskipun ia sudah mengganti pakaian kering di rumah Bunda, udara malam yang dingin dan angin yang menerpa tubuhnya di atas motor terasa menusuk hingga ke tulang. Perjalanan pulang Anisa di tengah dinginnya malam terasa jauh lebih berat daripada perjalanan berangkatnya. Kepalanya yang pusing terasa berdenyut-denyut mengikuti irama mesin motor. Kondisinya yang semakin memburuk tidak bisa lagi disembunyikan. Tubuhnya mulai gemetar, dan batuknya kembali. Anisa mencengkeram stang motor, memaksakan diri untuk fokus. Setiap gigilan yang menyerang adalah pengingat akan kebodohannya sendiri, tetapi juga pengingat akan janji yang ia buat: Aku tidak akan menunjukkan kelemahanku. Ia tahu, jika ia berhenti sekarang, ia akan ka

