Apa Yang Dia Temukan?

1214 Words
"Gimana? Disuruh apa lu, Rin? Lama banget." Susi menghampiri saat aku baru saja kembali dari pengumuman di aula. Arahan yang begitu banyak dan peraturan baru yang disampaikan lelaki tadi membuatku bingung. "Ya, gitu dah." Aku meraih botol mineral di dalam tas lalu meneguknya setelah duduk. "Gitu gimana, sih? Kenapa cuman karyawan baru yang di suruh ke sana? Tuh, makan dulu, mie rebus punyamu sudah lenyap di perutku. Habisnya kelamaan. Gua bikin lagi buat lu." "Iya, Makasih." Aku masih memikirkan ucapan lelaki tadi. Rina yang dimaksud sebagai komisaris itu apa sama dengan Rina kekasih Mas Ari? Suasana kantor mulai ramai. Aku kira hari ini jadi libur. Ternyata tetap masuk dan perubahan peraturan yang menurutku semakin mencekik saja. Pantas saja Mas Ari saat pulang kantor, wajahnya selalu cemberut. Dia pasti lelah dan banyak pikiran. Kenapa jadi teringat dia lagi? Aku tidak boleh mengingat pria itu lagi. Semoga dengan kepergianku, dia jauh lebih tenang. Aku sadar, pernikahan yang dipaksa memang tak baik untuk kebaikan kami. Aku mulai melangkah menuju toilet untuk membersihkan ruangan itu satu persatu. Tak ada orang hanya aku seorang. Baru membuka pintu tiba-tiba ... byuurrr. Semua pakaian dan seluruh tubuhku basah oleh guyuran air yang berasal dari atas pintu. Sebuah ember yang sengaja digantung dan diisi air langsung mengenaiku. Kurang kerjaan sekali orang yang melakukannya. Aku mengibaskan seragam yang sudah tak karuan ini. Dari aromanya saja, tercium bekas air pel. Aku berdecak dengan perasaan ingin marah. Jika keluar, mau ditaruh mana mukaku dengan penampilan seperti ini. "Memangnya enak?" Aku menoleh pada suara yang sepertinya memang tertuju untukku. Wanita itu memasang seringai puas melihatku. "Sebentar lagi, Mas Ari akan menceriakan kamu. Jadi, lebih baik kamu juga meninggalkan kantor ini. Aku tunggu surat pengunduran diri." Wanita bernama Rina itu membalik badan. "Kupikir kau adalah wanita beratitude tinggi, ternyata aku salah. Cara mainmu kotor sekali. Kamu kira aku bakal membiarkan itu terjadi? Tidak akan!" Kesabaranku sudah habis. Dia berhenti lagi dan membalik badannya mendekatiku. Wajahnya tampak memerah dan tangannya mencengkram sendiri. Dia meraih ember dan melemparnya ke arahku. Dia pikir aku takut. Aku segera menghindar dan untungnya tidak kena. Wanita itu semakin meradang dan hendak memukulku. "Rina!" Sebuah teriakan dari depan sana begitu kencang. Beberapa karyawan dan Mas Ari datang. Lelaki itu menengahi. Tangan wanita itu yang masih terlihat terangkat pun langsung dipaksa jatuh. "Apa-apaan kalian?" Mas Ari bertanya dengan nada marah. Ia menatapku dari atas sampai bawah. "Tanya saja sama kekasih Bapak." Aku segera menyerobot, lewat di antara mereka berdua dan beberapa karyawan yang berdiri di depan pintu pun lantas memberi jalan. Di saat sudah jauh dari mereka, aku berjalan menuju ruangan office girl. Di sana kutumpahkan semuanya. Untungnya tak ada yang melihat aku terisak dengan lirih. Setelah itu, Aku izin pulang pada Bu Risma untuk ganti baju. Wanita bertubuh besar itu memberi izin asal aku kembali lagi. Sampai di depan gerbang semua orang menatapku. Mungkin karena penampilan yang begitu memalukan ini. "Rin!" Aku tahu itu suara Mas Ari. Namun, aku tak mau menanggapi. Hentakan sepatunya terdengar seperti berlari. Aku pun mempercepat langkah agar lelaki itu tidak terus mengikuti. "Rin, tunggu! Aku panggil kenapa kamu jalan terus!" Mas Ari berhasil mencekal tanganku. "Oh, Bapak, memanggil? Maaf, saya enggak dengar," balasku dengan basa-basi. Berhubung masih di area kantor, aku memanfaatkan keadaan. "Ikut aku!" Mas Ari menggeret dan langsung memasukkanku ke dalam mobilnya. "Mau ke mana ini?" Aku panik. Ingin keluar lagi tetapi Mas Ari buru-buru menekan gas dan meluncur di jalanan. Saat kami melewati gerbang, kulihat wanita bernama Rinadi belakang sana tampak kesal. Mobil Mas Ari terus berjalan hingga ke sebuah jalanan sepi dengan pepohonan rindang, dia menghentikannya. Mas Ari masih menatap lurus lalu merenggangkan dasi pada lehernya. "Mau ngapain kita ke sini, Mas? Aku harus segera pulang untuk ganti baju dan kembali lagi ke kantor." "Sekarang katakan, kamu tinggal di mana? Kenapa pagi-pagi sekali tidak ada dan semua pakaian kamu hilang dari lemari?" Mas Ari menarik napasnya yang tersengal-sengal. Aku hanya menghela napas dengan tangan bersedekap di depan d**a. "Jawab, Rin! Jangan diam saja. Kamu pikir aku bicara sama angin?" Mas Ari mulai tak sabar. Dia mendekatkan wajahnya. "Hey, kamu mau ngapain, Mas!" Kedua mataku mendelik melihat tingkah Mas Ari. "Cepat katakan! Aku tidak mengulang pertanyaan dua kali." "Buat apa, Mas Ari, tanya? Bukannya dengan aku pergi, Mas akan bebas sama wanita itu? Silakan kalian lakukan apapun, asal aku tidak ada di rumah! Kalian pikir aku diam begitu tidak sakit melihatnya?" Mas Ari masih tergugu. "Sekarang, katakan di mana kamu tinggal! Kemasi barang-barang kamu, kita akan pindah. Aku sudah ambil rumah baru untuk kita tinggal. Kamu enggak perlu kerja-kerja lagi. Apalagi pakai acara kabur-kaburan segala." "Aku enggak mau. Mas Ari aja tinggal sama wanita itu. Aku siap kalau sekarang Maa Ari menceraikanku." Dia menoleh cepat. Kedua alisnya yang tebal itu hampir saja menyatu. Ada sorot tajam dari dua mata elang yang siap menyerang. "Aku enggak mungkin ceraikan kamu sekarang." "Kenapa? Mas Ari takut enggak dapat warisan? Atau ... takut penyakit asma Mama kambuh?" Aku tak tahan lagi. "Mas Ari enggak usah khawatir. Aku enggak akan bilang-bilang Mama sama Papa Mas Ari kalau kita sudah bercerai nanti." Aku tidak tahu, apakah aku mengatakan itu benar-benar dari dalam hati. Yang jelas, saat aku melihat Mas Ari dengan wanita itu, rasanya sakit sekali. Tiba-tiba perutku kembali mual. Memuntahkan kembali semua isi dalam perut. Kepala mendadak berat dan mata berkunang-kunang. Pintu mobil segera kubuka dan keluar dari sana untuk mengeluarkan semua isi perut. "Huuekk. Huuek." "Kamu kenapa, Rin? Makanya kalau enggak kuat kerja berat, jangan sok-sokan." Mas Ari memaki sambil memijat tengkukku. Dia membungkuk dan melihatku yang terkulai lemas. Kami duduk di pinggir jalan, tepatnya di atas rerumputan hijau dengan angin sejuk menghempas pada wajah. "Aku pengen kerja." Aku memejamkan mata sejenak dengan kepala tertumpu pada lutut. "Masuk mobil lagi! Aku antar kamu pulang. Nanti biar aku yang bilang sama Bu Risma kalau kamu sakit." Aku mengikuti apa kata Mas Ari. Dia membukakan pintu mobil dan menyuruhku duduk. Sampai di kontrakan lama, aku masuk dan membuka sepatu. Semua bajuku yang ada di lemari sudah tak tersisa satupun. Bagaimana mau ganti kalau begini? Aku berdecak dan kembali ke kursi depan saat Mas Ari masuk. Dia bertanya, "Kenapa enggak ganti?" "Enggak ada bajuku di dalam." Aku melengos. "Dah lah, aku balik ke kontrakanku aja, Mas." Dengan kesal, aku berdiri dan melewati Mas Ari. "Eh, mau ke mana lagi?" Dia mencegah. "Balik." "Enggak! Masuk sana, pakai bajuku aja. Yang ada aja dulu. Baru setelah itu kita pindahan. Bantuin aku berkemas barang di rumah ini." "Mana mungkin aku pakai baju Mas Ari? Enggak enak. Mas Ari juga enggak pakai ...." Aku langsung menghentikan ucapan. "Enggak pakai apa? Jangan bantah terus, udah buruan masuk ganti sana!" Dia mendorongku masuk ke kamar. Lalu, aku mulai mencari sesuatu yang pas di badanku. "Mas, celananya enggak ada yang pas. Melorot semua pas kupakai." Aku berdecak karena Mas Ari tak kunjung menjawab. Ke mana dia? Hanya ada kausnya yang berwarna putih dan segera kupakai. Celana panjang hitam yang bagian perut terpaksa kuberi peniti. Ya, meskipun resiko agak ngeri jika tiba-tiba peniti lepas dan bisa mengenai perut. Setidaknya, aku bisa mencuci dulu pakaian yang tadi basah. "Mas?" Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah berdiri dengan bersedekap menyandar dinding. Tatapannya lain, di tangannya memegang sesuatu. "Ini apa, Rin?" Dia memperlihatkan sebuah bungkusan plastik putih yang baru saja kudapatkan tadi pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD