Kulihat mobil itu hingga benar-benar berhenti. Di sana muncul Mas Ari dengan buah tangan yang entah aku tak tahu.
"Kamu dari mana, Mas?" tanyaku saat lelaki itu berjalan mendekat untuk masuk.
"Ya, dari kerja lah. Memang dari mana lagi? Kamu pikir aku ngapain aja seharian tadi?"
Mas Ari langsung menyerobot masuk ke dalam. Aku segera menutup pintu dan meletakkan tas di meja belakang. Lalu, menyiapkan pakaian ganti Mas Ari dan milikku sendiri.
Saat hendak ke kamar mandi, lelaki itu memanggilku. "Rin, tuh ada makanan."
"Aku sudah makan, Mas. Dibelikan teman tadi." Aku kembali membalik badan dan menyalakan lampu dalam.
"Kamu ini memang tidak bersyukur. Sudah kubelikan, tetapi tak menghargai sama sekali." Mas Ari tampak kesal dan membanting bungkusan itu di atas meja. Ia langsung ke kamar dan menutup pintu.
Apakah nanti malam giliranku tidur di luar? Aku segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Keluar dari sana, pintu kamar masih tertutup rapat. Aku menuju ke meja tempat dia meletakkan makanan yang katanya dia beli.
Ada nasi goreng dan satu gelas jus jeruk. Aku tak tahu harus bahagia atau sedih. Di tengah gundah gulana, dia masih bisa perhatian. Aku mulai menyendok sedikit makanan itu.
"Kamu sudah makan, Mas?" Akhirnya, aku memberanikan diri. Sebenarnya, kalau dia marah begitu, aku sama sekali tak punya nyali.
Sejak akad saat itu, aku benar-benar menjadi tunduk di hadapannya. Kecuali saat dia sudah tidak malu lagi berduaan dengan wanita itu.
"Mas, kamu sudah makan?" Pintu kuketuk karena dia tidak menjawab.
Tak ada jawaban juga, aku membuka pintu perlahan. Dia terlihat memainkan ponselnya. Entah siapa yang sedang berkabar dengannya. Sampai-sampai, aku bertanya pun dia tak mau menyahut.
"Mas, kamu sudah makan?"
"Udah," balasnya singkat. Masih dengan tatapan pada benda selebar lima inci di tangannya.
"Sama siapa?" Aku sengaja memancing.
"Sama Rina."
Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Kututup pintu kembali dan merebahkan diri di atas kursi kayu yang panjang. Setelah berganti dengan piyama tidur, aku mencoba menutup mata. Berharap kesakitan hati ini lenyap esok hari.
Sudah beberapa kali, masih tampak sama. Kelakuan mereka terlintas lagi di dalam benak. Kutatap langit-langit dengan pencahayaan temaram. Sampai kapan ini akan berlanjut.
"Kamu tau, enggak? Sikap kamu itu adalah ciri-ciri istri durhaka. Tidur sengaja di luar, kan. Mana Sherina yang dulu selalu mendahulukan suaminya. Sekarang kamu banyak kemajuan. Kemajuan semakin membantah dan melawan suami." Mas Ari baru saja membuka pintu kamar di saat aku mencoba membuang perasaan kesal padanya.
"Harusnya aku Bagaimana, Mas? Menjadi budakmu dan wanita itu? Untuk apa? Biar kamu senang dan terlihat seperti raja?" Kuusap lagi wajah yang basah ini. Begitu kencang degup jantung di dalam sana. Sampai hati dia bilang begitu.
"Kau lupa kata Mama kamu apa? Kau itu anak yang rajin, penurut tidak banyak membantah dan sebagainya. Ternyata, semua itu hanyalah kebohongan. Mama kamu bilang begitu biar kamu cepat laku begitu, bukan? Sampai orangtuaku tak tega melihat Mama kamu sekarat dan akhirnya menjadikanku sebagai korban."
"CUKUP!" karena tak tahan lagi, aku membentak. "Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, Mas! Tetapi kamu yang tak mau menolaknya! Kamu kira aku tidak lelah dengan semua ini? Aku capek, Mas!"
Mas Ari malah membanting pintu. Semalam suntuk aku terisak. Jika benar dia memang tak menginginkan pernikahan ini, biarkan aku pergi saja.
Dini hari aku meninggalkan rumah kontrakan itu. Tujuan saat ini pun aku tak tahu. Masih gelap gulita tak ada seorangpun yang lewat. Aku terus berjalan sekitar tiga kilometer sampai pada suatu masjid dan salat di sana.
"Neng, mau ke mana?"
Aku menoleh pada sumber suara dan sentuhan pada pundak. Aku mendongak seraya mengusap wajah selesai salat. Pertama kali kulihat seorang wanita tua dengan wajahnya yang teduh tengah mengulas senyuman. Kedua matanya beralih pada tas sedang yang kubawa sejak tadi.
"Mau cari kontrakan, Bu." Aku membalas senyumnya.
"Pagi-pagi buta begini? Ada, saya punya kontrakan dekat sini. Mau, saya antar?"
Aku segera mengangguk. Aku yakin, pasti akan ada jalan ketika masalah menyapa dan kucari jalannya dalam setiap sujud.
Aku mengikuti wanita tua yang jalannya membungkuk itu. Dia menyerahkan kunci setelah keluar dari rumahnya. Aku berkali-kali mengucapkan terima kasih dan segera menuju tempat kost yang lumayan untuk satu orang.
Aku segera membersihkan tempat itu. Setelah selesai segera mandi dan bersiap untuk kerja lagi. Mungkin karena kurang tidur dan banyak pikiran, kepalaku mendadak sakit. Ini sudah biasa karena aku memang penderita anemia.
Suasana pagi itu di depan kost sudah ramai dengan penghuni kost yang lain. Tampaknya mereka juga sama sepertiku yang akan berangkat mencari sesuap nasi. Meskipun sendiri lagi, tak mengapa aku sudah biasa.
Hanya petunjuk foto Papa yang kupunya untuk mencarinya. Semoga saja, dia pindahnya tidak jauh-jauh dari alamat pertama aku mencarinya di Jakarta.
Aku segera berangkat dengan angkutan umum lagi. Dengan arah yang berbeda dari biasanya. Panas, bau keringat bercampur minyak wangi dan bensin. Semua campur membuat perutku semakin mual.
Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh. Aku turun beberapa meter dari kantor dan mengeluarkan semua isi perut pada kubangan got. Kuusap wajah dengan sapu tangan lalu berjalan sedikit untuk sampai di gedung menjulang tinggi itu.
"Eh, Rin!" teriak Pak Anton.
Lelaki itu kenapa pagi-pagi begini sudah datang? Pasti mau minta tolong lagi. Padahal, aku baru saja mau membeli mie seduh sebagai pengganjal perut.
"Ada apa, Pak?" tanyaku setelah sampai di dekatnya.
"Tolong aku lagi, ya? Bawakan kardus ini ke lantai tiga. Ke ruanganku." Lelaki berkemeja hitam itu terlihat masih kuat. Masih belum begitu tua dan badannya pun besar. Dia hanya menenteng tas kerja saja.
Aku hanya menggeleng kepala sambil membawa kardus berisi entah apa. Yang jelas sangat berat. Mungkin kertas berukuran F4. Aku mengekor di belakangnya hingga kami masuk ke dalam lift dan kardus itu segera kuletakkan di bawah.
"Kamu pucat sekali, Rin? Kamu sakit?" tanya pria itu saat dia baru sadar.
"Biasa, Pak. Belum sarapan." Aku menjawab dengan asal.
Sampai di ruangan lelaki itu, dia mengulurkan lagi lembaran merah satu biji. "Terima ini! Sebelum berangkat harusnya sarapan dulu. Nah, kalau begitu, besok aku minta tolong lagi." Lelaki itu tertawa lepas.
"Iya-iya, Pak. Makasih banyak, ya, Pak?"
Aku tersenyum setelah membalik badan. Meskipun dia suka menyuruh ini itu, dia termasuk lelaki yang tidak pelit.
Aku kembali menuruni lift karena ruangan Office girl ada di lantai dua. Baru saja pintu lift terbuka, Susi menarikku. Dia mengajak mengintip di balik dinding ketika seorang lelaki dengan ajudan mengawal tengah lewat di depan kami.
"Tuh, liat!" Kedua mata Susi mengikuti langkah mereka. Seorang lelaki dengan kacamata hitam berjalan dikelilingi oleh pria-pria kekar.
"Siapa memangnya?" Aku baru sekali ini melihatnya.
"Dia itu direktur utama kita. Masa elu kagak kenal, sih? Bukannya Bu Risma sudah bilang?" Susi kembali menatap ke arah lelaki-lelaki itu.
"Kagak." Aku segera pergi untuk mengambil air minum. Akan tetapi, Susi kembali mencekal tanganku agar menunggunya.
"Tungguin gua! Dia itu namanya Pak Raphael. Inget, dia itu orang paling disiplin di sini. Lu, liat karyawan di sini banyak yang belum datang. Nah, Pak Raphael udah dateng duluan, Gais!"
Aku tak peduli apa yang dikatakan Susi mengenai lelaki itu. Aku di sini hanya kerja dan yang penting dapat gaji buat hidup.
"Rin, Ririn!"
Bu Risma datang. Dia menghampiriku saat baru saja menyeduh mie instan.
"Iya, Bu?"
"Semua karyawan dan karyawati baru diminta berkumpul di aula oleh Pak Raphael. Buruan kamu ke sana, gabung sama yang lain."
Bu Risma mendadak sekali memberitahu, aku pun segera berlari agar tidak terkena teguran.