Dengan langkah ragu, aku memberanikan diri mengetuk pintu keramat itu. Entah kenapa, jika seseorang menghormati orang yang berkedudukan di bawahnya, aku malah sungkan dan merasa semakin kagum.
Pria yang begitu bersahaja dengan semua bawahannya itu kabarnya sudah ada di dalam sana. Seperti kata dia tadi, aku diminta ke ruangannya saat jam istirahat. Justru waktu begini malah membuatku tak tenang. Pasti akan ada banyak orang yang melihat.
"Assalamualaikum?" Aku mulai mengetuk pintu berwarna coklat tua itu.
Tak perlu diulang lagi, suara perintah dari dalam membuatku semakin merinding. Aku mulai membuka pintu dan yang pertama muncul adalah bagian kepala. Kulihat dia tengah menulis sesuatu di atas kertas. Tatapannya terus pada setiap larik yang ia ciptakan.
"Siang, Pak?" Aku menunduk. Dia pun hanya manggut-manggut, masih terus menulis entah apa.
"Pak, ada apa, ya? Tadi saya diminta ke sini."
Dia menutup berkas di mejanya sebelum menjawab. Setelah mendongak, dia mengulas senyum ramah lagi. Pria yang kutebak seusia Mas Ari ini tampak sangat sibuk. Dia tak kunjung mengatakan apapun.
Beberapa saat berlalu, dia bangkit dari kursinya dan mencari sesuatu di bagian rak buku. Aku mulai lelah berdiri tanpa kejelasan.
"Tunggu bentar, ya? Saya lagi nyari berkas untuk kamu." Tangan pria itu masih memilah-milah bagian rak.
Untukku? Apa yang akan dia lakukan? Aku tetap diam dan menunggu. Baru setelah dia mendapatkan sesuatu, kembali duduk dan mengatakan, "Duduk dulu, Rin!"
Seperti perintah yang sebelumnya, aku segera duduk dan menunggu ucapannya darinya lagi.
"Aku sudah dengar kabar tentang kamu."
Hah, kabar apa? Jangan-jangan mereka sudah tahu kalau aku adalah istrinya Mas Ari. Manajer di perusahaan ini. Pasti Mas Ari malu sekali nanti.
"Kabar apa, ya, Pak?"
"Ya, kabar mengenai kinerja kamu. Yang rajin datang paling pagi, paling terakhir pulangnya dan suka mengejar lembur. Kamu juga suka bantuin Pak Anton, bukan? Nah, sebagai apresiasi dari saya pribadi kamu saya naikkan menjadi stafnya Pak Anton. Kamu bisa bantu dia mengerjakan tugasnya karena kebetulan si Burhan udah resign karena pindah ke luar kota."
Demi apa, aku sekarang bukan office girl lagi? Aku jadi staf? Apa ini bukan mimpi? Alhamdulillah. Rasa bahagia ini ingin segera kuungkapkan pada Susi. Dia pasti senang mendengarnya.
"Benar, Pak? Saya, kan, baru beberapa hari kerja di sini. Saya enggak enak sama yang kerjanya lebih lama dari saya. Kalau mereka ada yang iri bagaimana?"
Pak Raphael yang mengangguk itu hanya mengulas senyuman. Di memberikanku sebuah berkas dan menyuruh keluar. Tak ada kata-kata apapun lagi selain selamat. Berjalan menyusuri lorong masih dengan pikiran yang mengganjal, aku menghampiri Susi di sana yang tengah meneguk air mineral.
"Gimana? Disuruh apa sama Pak Raphael?"
"Aku ... tapi, jangan ada perasaan gimana-gimana, ya? Kita tetap teman, kan?" Aku bingung mau memulai dari mana. Jujur, dia adalah satu-satunya teman yang dekat selama aku di sini.
"Maksud lu gimana, sih, Rin? Jangan berbelit-belit, ah, ngomongnya."
"Ya, aku disuruh ke sana tadi."
"Astaga, gua, kan, udah tau. Terus disuruh ngapain?"
Sampai di sini, aku mulai tak enak dengan nada pertanyaannya. Apakah dia akan marah nanti?
"Aku naik jadi staf Pak Anton, Sus. Eh, tapi, kamu jangan pikiran yang enggak-enggak, ya! Kita tetap barengan, kan?"
"Hahaha."
Lah dia malah tertawa. Aneh banget, enggak, sih?
"Lu kira gua bakalan iri? Ya, kagak, lah. Nih, gua kasih liat."
Dia membuka laci tempat menyimpan barang-barangnya. Sebuah kertas dengan berlapis map biru tua disodorkan padaku.
"Apa ini?" Aku bertanya karena memang tak tahu.
"Ini berkas bukti kalau gua juga naik jabatan." Susi tertawa lebih kencang lagi. Lalu, aku semakin terbelalak dan tak percaya akan berbarengan lagi dengan dia.
"Serius? Yee."
Sudah seperti bocah, kami berdua melonjak sambil berpelukan. Sampai ada karyawan lain yang melihat kami dengan menggeleng kepalanya. Saking bahagianya, luka yang sejak itu menganga, kini tertutup oleh sebuah kabar bahagia.
"Mulai besok, kita tinggalkan alat-alat tempur di belakang sana. Kita akan kerja di depan monitor." Susi semakin membuatku bahagia. Kami berpelukan lagi.
***
Hari ini aku lebih banyak mengulas senyum sendiri. Tentang Mas Ari, aku tak peduli. Meski malam itu, dia telah membuatku benar-benar menjadi seorang istri.
Aku berjalan membawa sebuah tumpukan berkas atas perintah Pak Anton untuk dibawa ke ruangan direktur utama. Namun, saat pintu lift terbuka aku melangkah dengan tergesa-gesa. Jadinya malah menabrak seseorang, lalu berkas tercecer dan berhamburan.
"Maaf," ucapku langsung memunguti satu persatu berkas tadi.
"Lain kali jalan pakai mata."
Mendengar suara itu, aku langsung menghentikan gerakan tangan. Mulai dari bawah, sepasang high heels setinggi lima senti berdiri dengan angkuhnya tanpa membantu.
"Rin, kamu enggak apa-apa?"
Pak Raphael yang baru saja keluar dari ruangannya tampak menghampiri dan segera membantuku.
"Enggak, Pak. Saya yang salah, kok. Jalannya kurang hati-hati," balasku hendak berdiri tetapi tangan pria itu memegang lenganku membantu untuk berdiri.
Di saat seperti ini, Mas Ari datang. Wajahnya tampak terkejut dan tatapan matanya terus pada tangan Pak Raphael yang belum melepaskanku.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Mas Ari. Bergantian menatap kami semua yang ada di sana.
"Enggak ada apa-apa." Pak Raphael tersenyum.
"Office girl, tuh, yang jalan enggak pakai mata. Dia memang menaruh dendam padaku," celetuk wanita itu. Dia terus menatap benci padaku.
"Rina, kamu enggak boleh bicara seperti itu. Apalagi ini di kantor. Jangan buat gaduh lagi." Pak Raphael membela.
"Ya, emang gitu, Mas. Dia ini ...." Wanita itu sepertinya sangat gemas padaku. Sorot matanya yang bulat itu tampak ingin keluar dari tempatnya.
"Sudah-sudah, Rin. Kita turun saja," ajak Mas Ari pada wanita itu. Aku kembali menyaksikan mereka berdua beriringan. Punggung kokoh itu pernah menjadi sandaran kepalaku pada malam pernikahan. Kini, dia menjauh dengan wanita lain.
"Ririn, kamu enggak apa-apa?" tanya Pak Raphael dengan wajah teduhnya.
"Tidak, Pak. Saya tidak apa-apa."
Aku dan pria ini lantas masuk ke ruangan direktur. Dia banyak memberitahu masalah kerjaan. Hingga waktu istirahat habis, aku kembali ke ruangan office girl. Di sana aku terduduk dengan tatapan kosong.
"Rin, kamu dipanggil sama Pak Ari di ruangannya." Susi datang tiba-tiba dengan membawa alat pembersih kaca. Rupanya dia baru saja selesai membersihkan ruangan lain.
"Untuk apa?" tanyaku dengan perasaan aneh. Sungguh ini sangat mengejutkan. Lama-lama bisa botak kalau kerja satu kantor dengan Mas Ari.
"Enggak tau, gue. Aku lihat tadi, di sana enggak ada siapa-siapa."
"Aku enggak enak sama Bu Rina. Takut dituduh ngapa-ngapain sama Pak Ari nanti," bohongku. Padahal sebenarnya malas.
"Bu Rina enggak ada. Eh, lu tau enggak? Bu Rina itu adiknya Pak Raphael. Mereka yang memegang kendali perusahaan ini."
"Oya?"
Susi mengangguk. Pantas saja Pak Raphael dengan wanita itu tampak dekat. Beberapa kali aku melihat mereka seperti bukan antara atasan dan bawahan.
Belum sempat berdiri, aku melihat Mas Ari menghampiri. Dia menatapku datar dan tanpa basa-basi lagi menggeret tanganku. Susi pun terlihat kaget dengan sikap lelaki itu.
"Pak, saya mau dibawa ke mana?"
"Diam!"
Mas Ari mendorong tubuhku hingga membentur dinding. Tatapan setajam belati itu mampu membuatku tak berkutik lagi.
"Aku hanya ingin tanya satu hal sama kamu." Embusan napas Mas Ari terasa menamparku. "Katakan dengan jujur, obat apa yang saat itu kamu bawa. Kenapa sama dengan punya Adel? Istri dari keponakan Mama yang sedang hamil?"