Aku Pamit

1111 Words
"Kamu gimana, sih, Ri? Pindah rumah, istri enggak diajak." Kupingku makin panas kalau setiap hari harus mendengar Mama mengomel. Mama yang datang tiba-tiba untung saja tidak melihat Rina saat dia masih di sini. Bisa dibuang aku dari daftar KK. "Sherina memang begitu, Ma. Dia sekarang suka semaunya. Pergi enggak tau ke mana. Aku sudah bilang agar dia di rumah saja. Tetap saja dia maunya cari kerjaan sendiri." "Apa? Dia kerja?" Kedua mata Mama melotot. Siap menamparku dengan ribuan kata. Aku sudah bisa menebaknya. "Pasti kamu jatah belanja dia sangat sedikit. Mama sudah bilang, jangan ngontrak. Rumah Papa di seberang sana itu nganggur. Semua fasilitas ada, pasti Sherina sangat tersiksa hidup denganmu." Mama mengembus napas berat sambil memegangi d**a. Ia mulai duduk di kursi depan dengan memijat kepalanya. Sementara Papa, hanya diam seribu basa sejak tadi. Aku terus mengemas barang sendiri. Semua hampir selesai, lelah juga ternyata hanya membereskan barang sendiri. Aku berniat tidur sejenak setelah tinggal berangkat saja, karena sebentar lagi juga azan Ashar. Baru saja merebahkan diri di atas tempat tidur, Mama kembali berteriak. Suaranya sangat mengganggu dan memekik telinga. Astaga, ini sebabnya kenapa aku tidak betah tinggal dengan mereka. Semua serba diatur dan dilarang. Menikah pun harus dengan pilihan mereka. "Ari, ini obat punya siapa?" Mama datang ke kamar dengan tergopoh-gopoh. Sampai-sampai roknya yang lebar itu diangkat sampai terlihat setengah kakinya. Karena tubuh Mama lumayan besar, ia agak susah jalan. Itu juga yang membuatku tak tega harus menolak dijodohkan dengan Sherina. Gadis yang datang dari London katanya. Akan tetapi, benar atau tidaknya, masa bodoh. "Apaan, sih, Ma? Ari mau tidur ini. Sebentar lagi pindahan, kita butuh tenaga." "Heh, kamu lihat ini!" Mama menyodorkan bungkusan plastik yang tadi kutemukan di dalam tas Sherina. "Kenapa memangnya, Ma? Itu punya menantu Mama. Udah, jangan tanya lagi. Ari ngantuk." Aku kembali tidur sambil menutup wajah dengan tangan. "Astaghfirullah, punya Sherina? Jadi, dia hamil, Ri? Jawab, Ri!" Mama mengguncang tubuhku dengan begitu kencang. Lalu, Papa datang menyerobot. "Apa? Dia hamil? Terus, sekarang ke mana dia? Kenapa Ari tidak bilang dari tadi?" Suasana kembali ribut dan aku terdiam sesaat untuk menyadarkan diri. "Ma, ini cuman obat meriang kata dia. Dia juga enggak bilang apa-apa." "Dasar suami enggak peka! Kamu ini gimana, sih, Ari! Istri kamu hamili, tapi kamu enggak peduli begitu sepertinya. Mama kecewa sama kamu. Lebih baik, kamu cari dia sampai ketemu. Kalau tidak, Mama tidak akan menganggap kamu sebagai anak!" "Astaghfirullah, sabar, Ma! Jangan ngomong sembarangan. Kita tunggu penjelasan Ari." Papa mencoba menenangkan Mama yang kini memegangi dadanya dengan napas naik turun. Jangan sampai makin rumit urusannya. Sepanjang hari ini, Mama terus saja menangisi menantunya itu. Setelah sampai di rumah baru dan memasukkan barang-barang yang dibawa dari kontrakan, aku mencoba menghubungi nomor Sherina dan ternyata tidak aktif. Ke mana dia sampai ponsel saja dimatikan. "Ari, kami tidak mau tau. Pokoknya, kamu harus cari Sherina sampai dapat. Jangan biarkan dia pergi dengan membawa luka. Apalagi kamu sudah membuatnya hamil. Kamu harus bertanggung jawab." Papa menghampiriku yang tengah merebahkan diri di sofa setelah memastikan Mama aman di kamar tamu sana. "Dari dulu Ari juga bertanggung jawab, Pa. Padahal Ari cuman melakukan itu padanya sekali aja." "Sekali gimana? Selama empat bulan kamu cuman kasih nafkah batin ke dia sekali aja? Astaghfirullah, Ari." Papa mulai menceramahiku. Padahal aku bukan lagi anak kecil yang baru saja baligh. Aku sudah 30 tahun hidup di dunia ini. "Iya-iya, nanti Ari cari dia. Besok juga ketemu, orang dia kerja di tempat Ari kerja, kok." Papa hanya menggeleng kepala saja. Lalu, masuk ke dalam kamar lagi. Malam ini, aku memesan makan untuk mereka. Mama benar-benar tidak bisa bangun karena kelakuanku, katanya. Siapa suruh memaksaku menikahi gadis itu. *** "Sorry, Rin. Aku tidak bisa sepertinya. Mamaku sakit dan aku tidak bisa menemani kamu malam ini keluar." Aku membalas pesan dari Rina yang terkesan memaksa. Sudah kubilang kalau Mama sakit, tetapi dia terus memintaku datang. Dia memang cantik dan memang cinta pertamaku, yang tak mungkin bisa aku lupakan meski terkadang ada sifat dia yang tidak aku suka. "Kamu enggak kasihan sama aku, Mas? Aku sendirian di apartemen dan Mas Raphael tadi memarahiku gara-gara istri kamu." "Kamu ketemu Sherina di mana?" "Kenapa kamu malah tanya pasal dia? Kamu enggak peduli sama aku juga?" Astaga, ini salah satu yang tidak aku sukai darinya. Dia terlalu egois. Namun, aku sayang. Harus gimana aku? Lepas kata maaf bertubi-tubi, akhirnya aku mengakhiri panggilan. Semoga besok dia tidak marah-marah lagi di kantor. Malam itu, aku sengaja keluar sendirian menyusuri jalanan yang tampak sepi. Sepanjang jalan tetap saja tak kutemukan di mana Sherina tinggal. Apa dia tidak lapar malam-malam begini? Masa iya dia hamil anakku? Aku memang khilaf malam itu. Khilaf atau hanya sebagai pelampiasan atas sakit hatiku pada mereka yang menjodohkanku dengan gadis yang sama sekali tidak pernah aku sukai.. Aku berdecak dalam hati. Lelah dengan semua ini. Tubuh masih terasa lengket sampai lupa belum ganti pakaian sejak pagi tadi. Jangankan ganti, mandi saja baru sekali. Biasanya Sherina yang akan memaksaku mandi dan menyiapkan pakaian selepas kerja. Kenapa aku jadi mikirin dia? Aku pulang lagi ke rumah baru. Di sana, tetap sepi mungkin Mama sama Papa sudah tidur. Mereka pasti juga lelah telah membantuku pindahan. Aku mulai merebahkan diri di atas tempat tidur yang aromanya masih baru, belum pernah tersentuh. Setelah merenggangkan otot-otot, aku terpejam sesaat. Lalu, membuka mata lagi karena seperti mendengar suara isak tangis seseorang. Aku membuka pintu kamar dan ternyata suara tadi berasal dari kamar Mama. Apakah aku sudah menjadi anak durhaka? Yang membuat mereka sedih? Bagaimana lagi, aku tidak bisa mencintai Sherina. Pagi itu, aku berpamitan dengan mereka. Sekali lagi, Mama berpesan dengan wajah yang sembab, aku harus membawa Sherina pulang ke sini dan aku mengiyakan. Hal yang menyebalkan tiba-tiba terlihat di depan mata, ketika Sherina terjatuh atau entah kenapa, Pak Raphael malah menolongnya. Pegang-pegang tangan dia juga. Menyebalkan sekali. Saat kubawa dia ke sebuah tempat sepi dan meminta penjelasan tentang obat kemarin, dia diam saja. "Cepat katakan, Rin! Apakah benar kamu hamil?" Dia menggeleng kepala. "Kamu enggak perlu tau, Mas. Buat apa kamu tanya kalau hanya untuk mengejekku atau menuduh yang bukan-bukan nantinya? Aku lelah, Mas." "Kamu tau ... Mama di rumah lagi sakit sekarang. Penyakit Asmanya kambuh dan semalaman hanya menangisi kamu. Tolong, katakan sekarang dengan tegas. Apa benar kamu hamil?" Aku sudah tak ingin lagi basa-basi, aku juga capek bukan hanya dia saja. "Iya. Aku hamil, Mas. Aku hamil anak kamu. Aku tidak pernah tersentuh oleh siapapun kecuali kamu." Tubuhku lemas seketika. Aku luruh di lantai seraya menyandar dinding dan meremas kepala. "Aku tau, kamu tidak akan senang mendengarnya dan kamu tidak akan menerima dia sebagai anakmu. Maka dari itu, aku sudah putuskan akan menjauhi kamu. Katakan pada orangtua Mas Ari, aku pamit."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD