Sepanjang perjalanan, Adam masih merasakan degup jantungnya yang masih berdetak kencang. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan menghembuskan, tapi masih saja belum juga tenang. Akhirnya, dia menghentikan mobilnya di sebuah taman di pinggiran kota.
Adam mengambil sebungkus rokok yang masih disimpan di mobilnya, dia memang selalu menyimpan beberapa bungkus rokok di sana. Rencana akan menghentikan kebiasaan merokoknya belum bisa dia hilangkan, dia masih butuh barang itu untuk menenangkan perasaannya.
Adam benar-benar mengutuk gadis itu, karena dia kebiasaan merokoknya belum bisa dihentikan.
'Adam, kamu tidak menyukainya 'kan?' batinnya.
Adam berusaha menepis rasa yang tak biasa itu, meskipun bayangan senyum April terus saja terlintas dalam benaknya.
'Tidak, ini bukan cinta. Aku hanya tidak biasa berdekatan dengan wanita,' pungkasnya dalam hati.
Setelah merasa lebih tenang, Adam segera melajukan kembali mobilnya menuju tempat dimana dia bisa melupakan segala keresahan di hatinya.
Bisik-bisik para karyawan kantor membuat Adam jengah. Sejak dia memasuki kantor, para karyawan menatapnya sembari berbisik.
Olivia si tukang gosip tersenyum puas karena telah menjadi informan, dia kini jadi orang yang paling dicari rekan kerjanya.
Kejadian di Mall kemarin ….
Saat Olivia bertemu dengan Adam, dia tidak akan menyia-nyiakan kejadian langka itu. Diam-diam, Olivia mengikuti Adam dari belakang mengambil gambar sebagai bukti.
Olivia tertawa jahat saat mendapatkan beberapa photo mereka bertiga. Dia juga mengambil gambar saat Adam memeluk April.
Dengan lincah, jarinya langsung mengirim photo-photo itu di grup w******p khusus karyawan kantor. Grup yang dipakai untuk bergosip dan yang paling sering jadi bahan gosip adalah Adam.
.
Di sudut sana, seorang wanita yang bernama Fany begitu kecewa dengan Adam. Dia sudah ditolak mentah-mentah dengan alasan, Adam tidak mau menikah lagi.
'Lalu ini apa?' protes Fany dalam hati.
Obrolan di grup w******p itu, membuatnya semakin panas, apalagi saat photo terakhir yang dikirim Olivia. Melihat itu semua Fany sampai menangis histeris, dia tidak akan membiarkan wanita itu bahagia dengan Adam.
Fany pura-pura bertanya pada Olivia untuk mengorek informasi tentang wanita yang bersama Adam, menurutnya wanita itu tidak pantas menjadi saingannya, bahkan terlihat seperti adik Adam.
Tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang tidak terlalu cantik, membuat Fany tersinggung karena Adam sudah menolaknya.
***
Adam sudah berada di jalan menuju rumah setelah seharian menjalani aktivitas yang begitu padat dan melelahkan. Bahkan seharian tadi dia sudah dibuat kesal dengan para karyawan kantor yang tidak henti-hentinya meledek.
Ledekan itu justru membuat Adam selalu ingat April, padahal dia sudah berusaha menenangkan hatinya akibat insiden pasang dasi pagi tadi.
Tidak biasanya Adam begitu gelisah ingin segera pulang. Entah kenapa dia begitu merindukan rumah, bermain dengan Dara dan juga ….
Adam langsung menepis bayangan gadis yang terus saja menari di pelupuk matanya.
.
Dara dan April menyambutnya di depan pintu, Adam sudah mulai gugup saat melihat senyum April yang semakin dilihat semakin menawan.
Dara langsung berlari memeluk ayahnya saat Adam keluar dari mobilnya, sedangkan April, dia sudah seperti seorang istri yang siap menyambut suaminya.
Adam segera memalingkan wajahnya saat mata mereka beradu, dia juga berusaha bersikap tenang agar harga dirinya tidak jatuh karena kegugupannya.
April mengambil tas kerja Adam saat lelaki itu kerepotan karena Dara minta di gendong. Mau tidak mau akhirnya Adam membiarkan April membawakan tasnya dan mengikutinya dari belakang.
Adam menggendong putrinya naik ke lantai atas, dia tidak menyadari jika April ikut ke atas.
Mata April menyusuri setiap sudut ruangan. Dia begitu tertarik saat melihat sebuah sofa menghadap ke jendela kaca.
April langsung mendekati sofa itu, dia berdecak kagum saat melihat keindahan pemandangan komplek perumahan itu.
"April, siapa yang menyuruhmu ke atas!" Suara Adam terdengar begitu keras hingga membuat April langsung terlonjak.
"Sudah kubilang, jangan pernah kamu ke lantai atas. Beberapa hari ini kita memang dekat, tapi bukan berarti kamu seenaknya saja ke sini," dengkus Adam. Dia begitu marah saat melihat April begitu lancangnya duduk di sofa tempat Arumi. Dia tidak ingin ada yang menghapus bayangan istrinya di sana.
April tidak menyangka Adam begitu marah, dia langsung berlari turun ke bawah dengan air mata yang berderai.
Hatinya begitu sakit mendapat bentakan dari Adam. Dia melupakan tangisnya di dalam kamar.
"Kak Adam jahat!" gerutunya sembari terus menangis.
.
Adam merasa bersalah saat melihat April berlari turun dari lantai atas, mungkin dia terlalu berlebihan, tapi memang dia tidak suka jika April ikut di lantai atas.
"Ayah, jangan marahi Tante April," protes Dara sembari turun dari gendongan ayahnya.
Adam masih terdiam berpikir apakah dia terlalu keras membentak April tadi.
Dara menemui April, dia takut April sakit karena dibentak ayahnya.
Adam segera membersihkan dirinya agar sedikit tenang. Memang saat ini dia masih begitu marah dengan April karena begitu lancangnya ikut ke lantai atas, padahal sudah berkali-kali dia ingatkah bahwa tidak ada yang boleh ke lantai atas tanpa izinnya.
Adam adalah orang yang begitu tegas dalam peraturan, dia tidak suka jika ada yang melanggar aturannya.
"Maaf, Mas, aku janji tidak akan mengulangi lagi," pinta Arumi kala itu.
Adam yang begitu tegas dengan peraturan, dia juga marah saat Arumi melanggar aturannya.
"Sudah aku bilang, jangan keluar tanpa aku. Aku hanya tidak mau terjadi apa-apa padamu," ujar Adam masih dengan nada tegas.
"Maaf," pinta Arumi.
Peraturan Adam saat Arumi hamil muda, dia melarangnya untuk pergi ke Mall sendirian karena dia tidak mau istrinya kecapean berkeliling di Mall. Dan karena Arumi melanggar aturan, akibatnya mereka hampir kehilangan putrinya, beruntung saat itu kandungannya masih bisa diselamatkan.
Aturan dibuat untuk ditaati bukan untuk untuk dilanggar. Begitu yang selalu Adam tekankan di kantor maupun di rumah.
Memang, kesalahan April tidak fatal, dia hanya tidak mau gara-gara April dia akan kehilangan kenangan tentang istrinya.
Terlalu banyak kenangan manis yang tidak ingin dia hapus, bahkan Adam tidak pernah merubah semua perabot yang ada di ruangan itu.
Adam duduk di sofa menghadap ke jendela seperti yang biasa dirinya dan Arumi lakukan dulu saat Adam pulang dari kantor.
Arumi selalu memijat pundaknya saat dia menyandar di sofa itu sembari bercerita tentang kegiatannya seharian tadi. Adam mendengarkan ocehan istrinya yang kini begitu dia rindukan.
"Aku tidak akan melupakanmu, Rum," gumamnya. Matanya berkaca-kaca saat bayangan Arumi terlintas di benaknya tersenyum begitu manis.
Senyuman Arumi tiba-tiba berubah menjadi senyuman April. Adam langsung menggeleng, dia tidak mau ada yang menggantikan Arumi di hatinya, cintanya hanya untuk Arumi saja.
Saat makan malam, Adam tidak mendapati April berada di ruang makan, di sana hanya ada Dara dan Mbok Darsih.
"Dimana Tante?" tanya Adam pada putrinya.
"Tante sakit," jawab Dara sembari makan salad buatan April. Padahal April akan memakannya bersama dengannya saat makan malam.
"Sakit? Tadi baik-baik saja 'kan?" Adam mengernyit, saat mengingat April terlihat ceria tadi.
"Tante tadi nangis, terus badannya panas," jawab Dara polos.
Adam menatap Mbok Darsih meminta penjelasan dari wanita berusia lebih dari setengah abad itu.
"Tadi sepertinya April menangis, badannya juga sedikit panas. Aku tanya, dia bilang rindu ibunya," ujar Mbok Darsih.
Adam merasa ada yang aneh, mana mungkin April yang tadi ceria tiba-tiba menangis karena rindu ibunya, apalagi sejak kecil ibunya jadi Tkw di Malaysia. Sepertinya tidak mungkin April menangis gara-gara rindu ibunya, pikir Adam.
'Apa mungkin karena aku marah tadi?' batinnya.
Perasaan Adam menjadi tidak enak, apalagi tadi April terlihat menangis saat dia menegurnya.
"Apa dia sudah makan?" tanya Adam lagi.
"Belum, Den."
Adam meletakkan nasi yang belum dia tuang di piringnya, dia merasa bersalah jika gara-gara dirinya April sakit.
"Dara, ayo ikut Ayah lihat Tante April," pinta Adam pada putrinya.
Dara mengangguk dan langsung berjalan mendahului ayahnya.
Dara membuka pintu kamar pelan lalu mendorongnya agar terbuka sempurna. Terlihat April berbaring meringkuk dengan menutupi seluruh tubuhnya.
Dengan ragu Adam mendekati April yang terlihat bergetar tubuhnya, dia yakin kalau gadis itu sedang menangis.
"Pril, kamu kenapa? tanya Adam sedikit mendekati ranjang tempat April meringkuk.
April tidak menjawab, dia malah semakin menangis hingga terdengar isaknya.
"Apa kamu marah denganku?" tanya Adam lagi.
April tidak menjawab, dia masih menahan isakannya.
Adam duduk di ranjang sambil ditemani Dara yang ikut duduk di samping ayahnya.
"Maaf, seharusnya aku tidak membentakmu tadi," pinta Adam.
Masih tidak ada jawaban dari April, Adam semakin merasa bersalah.
"Tante, Ayah minta maaf. Kata Tante, kalau ada yang minta maaf harus dimaafkan, kenapa Tante diam saja." Dara ikut merayu April, dia juga merasa kesepian karena April tidak mengajaknya bermain sejak tadi.
"Pril, apa kamu tidak malu dengan Dara, kamu sendiri yang mengajarinya, masa kamu tidak memberi contoh," ujar Adam.
Adam seperti sedang merayu Arumi, sifat April hampir mirip dengan Arumi. Jika Arumi sedang marah, kalau Adam tidak minta maaf, Arumi tidak mau keluar kamar. Meskipun yang salah bukan dirinya.
Sungguh perempuan itu luar biasa, dia harus mengalah demi kelangsungan hidupnya. Salah tidak salah harus minta maaf, begitulah motto hidupnya.
April sudah terlanjur malu dengan Adam, akhirnya dia masih tetap bergeming meskipun sudah tidak menangis.
Dara menarik selimut yang menutupi April, terlihat wanita itu berbaring miring dengan mata sembab. Adam menatapnya lekat. Dia juga kesal sebenarnya, seharusnya April tidak perlu sampai seperti itu.
"Cepatlah makan, aku tidak mau kamu sakit," ujar Adam sembari meninggalkan April.
Adam tidak mau terlihat lemah di depan wanita itu, menurutnya, aturannya harus tetap ditaati.
Akhirnya Adam kembali meneruskan makan malamnya tanpa April. Wanita itu memang bukan siapa-siapa baginya, sudah cukup dia meminta maaf tanpa memohon lagi.
Setelah makan malam, Adam keluar untuk menikmati malam itu di taman. Perasaannya menjadi tidak karuan saat ini, dia ingin menenangkan diri.
Adam kembali lagi seperti kebiasaannya, dia mulai menghisap nikotin yang telah membuat candu baginya. Rasa kesal di hatinya akan sedikit tenang jika dia menghabiskan beberapa puntung rokok.
"Pak, Adam," panggil seorang wanita yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
Adam menoleh ke arah sumber suara, wanita berambut panjang dengan pakaian yang begitu minim berjalan ke arahnya.
"Fany?" Adam memastikan diantara remang cahaya lampu taman.
Fany mendekati Adam dan duduk dengan santai di samping Adam. Dia masih begitu penasaran dengan lelaki berjambang itu. Kali ini dia tidak akan menyerah begitu saja atas penolakan Adam waktu itu.