Senyuman

1690 Words
Sejak melihat postingan April di sosial media, pikirannya tiba-tiba saja tertuju pada gadis itu. Dia semakin penasaran dengan April. Adam tersenyum melihat postingan April satu jam yang lalu. Berarti saat mereka bercengkrama di ruang keluarga. "Dasar gadis nakal,'' gumam Adam sembari merebahkan tubuhnya. Adam melihat photo unggahan April, beberapa photo April begitu cantik. Dia tidak menyangka gadis ingusan itu menjelma menjadi gadis yang cantik. Adam langsung menepis pikirannya, dia tidak mau membuka hatinya dan merasa tidak yakin jika April menyukainya, meskipun berkali-kali adiknya mengatakan kalau April menyukainya. Postingan April itu membuatnya tersenyum, dia merasa bahwa tulisan itu ditujukan pada dirinya, apalagi membaca komentar adiknya, dia ingin sekali mencubit pipi chubi adiknya. Setelah lelah berselancar di sosial media untuk mencari tahu tentang April, Adam meletakkan ponselnya di atas nakas. Bukan kebiasaannya berselancar di sosial media karena dia bukan lelaki yang suka berinteraksi lewat ponsel. Hidupnya terlalu membosankan karena hanya bekerja yang dia lakukan. Matanya enggan terpejam karena pikirannya masih tertuju pada postingan April. Mungkin dia terlalu terbawa perasaan setelah beberapa kali dalam posisi yang dekat dengan gadis itu. "Adam, sadar. Dia itu seumuran adikmu, tidak pantas kamu menyukainya," gumamnya. Saat membayangkan gadis itu dengan mata coklat yang begitu indah, tiba-tiba bayangan Arumi hadir begitu saja. Adam menghembuskan napasnya, begitu berat melupakan istri tercintanya. "Mas, apa kamu akan selalu menyayangiku seperti ini hingga rambutku memutih?" tanya Arumi kala itu. "Sekarang dan sampai kapanpun, cintaku tidak akan berubah," jawab Adam usai mereka melakukan aktivitas suami istri. Arumi memang selalu menanyakan tentang perasaan suaminya, rasa cinta yang begitu besar membuatnya sangat takut kehilangan suaminya. Adam tahu jika cinta istrinya begitu besar padanya, hal itu yang membuat hatinya terjerat dan tidak bisa berpaling. Meskipun berkali-kali sang ibu menyuruhnya segera menikah, tapi dia belum bisa membuka hatinya, dia takut menyakiti hati istrinya. "Adam, kamu itu tidak mengkhianati Arumi, dia sudah tenang di sana. Insya Allah, dia akan tetap menjadi jodohmu di akhirat meskipun kamu menikah lagi," ujar sang ibu. Tidak henti-hentinya Lasmi memberi pengertian pada putranya. Di usianya yang masih 35 tahun, Adam masih terlalu muda untuk tidak menikah lagi. Lasmi ingin putranya bahagia dengan kehidupan barunya. Adam masih dilanda kegamangan dengan hatinya. Dia juga sebenarnya butuh pendamping lagi, tapi dia merasa akan menyakiti hati istrinya jika menikah lagi. "Rum, seandainya kamu masih hidup, pasti kita bahagia bersama putri kita," lirih Adam. *** Pagi-pagi sekali setelah shalat subuh, Adam keluar untuk jogging. Dulu dia biasa melakukannya dengan sang istri, tapi semenjak istrinya meninggal, dia tidak pernah melakukannya lagi. Adam sudah terlihat segar dengan memakai kaos warna putih yang membentuk tubuh kekarnya. Dia berjalan menuruni tangga saat bersamaan April keluar dari kamar. Adam melambatkan langkahnya sembari terus mengamati April yang terlihat begitu cantik dengan rambut yang diikat ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Memang Arumi dan April sangat berbeda, Arumi yang selalu memakai jilbab terlihat begitu anggun. Namun, ada banyak kesamaan antara mereka berdua. Mereka berdua punya hati yang lembut dan sama-sama punya keunikan yang membuat hati Adam kagum. Begitulah Adam menilai dua wanita itu, tapi Adam selalu menolak jika dia mulai membuka hatinya untuk April. April menoleh saat Adam sudah semakin dekat dengannya. Kali ini April lebih berani menatap wajah lelaki berjambang itu. "Mau kemana, Kak?" tanya April sambil tersenyum. Adam tertegun, ini adalah kali pertama April berani menatapnya dan tersenyum padanya. Dia bahkan tidak berkedip menatap senyuman yang begitu indah itu. Ada desiran dalam hati Adam yang tiba-tiba membuatnya canggung, entah kenapa senyum April begitu mempesona. "Kak?" ulang April karena Adam tidak menjawab pertanyaannya, dia malah menatapnya tak berkedip. "Oh, iya. Sa--saya mau jogging," jawab Adam gugup. Baru kali ini dia merasa gugup berhadapan dengan wanita, padahal berkali-kali dia didekati wanita tidak sekalipun dirinya tergoda. "Aku juga mau jogging," ucap April malu-malu berharap diajak Adam untuk jogging bersama. "Kalau kamu tidak malu jalan sama aku, ayo, ikut," ujar Adam kemudian berlalu mendahului April. Adam sudah tidak bisa menahan debaran di dadanya, sehingga dia segera menjauhi April agar gadis itu tidak melihat kegugupannya. 'Adam, kenapa sama anak kecil saja jadi salah tingkah gini,' gerutu Adam dalam hati. April tersenyum sambil berjalan di belakang lelaki yang usianya 12 tahun diatasnya. April mengikuti ide Alifa agar sedikit berani memperlihatkan perasaannya pada Adam. "April, kamu itu jangan terlalu jaim di depan Mas Adam. Kamu harus sedikit berani mendekatinya," ujar Alifa semalam. "Nggak, ah, ntar dikira ganjen," jawab April sambil menggelengkan kepalanya. "Ih, nggak apa-apa kali, Mas Adam itu sudah terlalu lama menduda, dia pasti sudah lupa rasanya jatuh cinta," ujar Alifa. "Tapi, apa nggak malu-maluin?" tanya April sedikit ragu dengan ide Alifa. "Kenapa harus malu, kalau kamu masih berharap sama Mas Adam, kamu harus usaha. Kalau kamu menunggu Mas Adam mendekatimu, kamu keburu jadi perawan tua," sungut Alifa sambil berdecak kesal. "Haish! Siapa yang jadi perawan tua, kamu sendiri juga masih betah jomblo," ledek Alifa. "April! Kalau kamu masih ngeledekin aku, kamu akan aku eliminasi jadi kakak iparku," ketus Alifa. Ya, sejak Alifa ditinggal kuliah oleh lelaki pujaannya, dia sudah tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun, dia juga sudah sering menolak saat ada yang melamarnya. Karena asyik melamun, April tidak menyadari jika Adam berhenti. Akhirnya, April menabrak Adam yang berhenti tepat di depannya. "Auw!" April mengusap-usap keningnya akibat terbentur tubuh Adam. "Kalau jalan, jangan sambi melamun," ujar Adam sambil menahan senyum. Adam memang sengaja berhenti tiba-tiba karena dia tahu kalau April tengah melamun. April tersenyum sambil mengusap keningnya, sangat memalukan jika Adam tahu bahwa April sedang melamunkannya. "Ayo, sini," ujar Adam sembari menggandeng tangannya. Adam sudah tidak bisa menahan rasa itu, dia ingin sekali menggenggam tangan April. Hanya itu. 'Adam, apa yang kamu lakukan,' ucapannya dalam hati, tapi dia masih terus menggenggam tangan itu sembari pura-pura tidak memperdulikan tatapan April. "Selamat pagi, Tuan Adam dan Nyonya baru," sapa salah seorang tetangga yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Adam langsung melepaskan genggamannya, dia tidak mau ada yang salah paham dengan hubungan mereka. Adam tahu, meskipun hal seperti itu bukan hal yang tabu di kota, tapi dia akan tetap menjaga norma. Dia hanya sedang terbuai perasaan saja saat itu. "Selamat pagi, Bu, mari kami duluan," ucap Adam ramah kemudian berjalan mendahului April. April tersenyum canggung pada Ibu itu dan berjalan setengah berlari menjajarkan tubuh mereka. "Kak, tunggu!" panggil April saat dirinya masih ketinggalan karena langkah Adam yang terlalu panjang. Adam memelankan langkahnya hingga akhirnya mereka bisa mensejajarkan langkahnya. "Kak Adam, suka jogging juga?" tanya April berusaha mengakrabkan diri. "Iya, dulu," jawab Adam singkat dengan jawaban yang ambigu. "Sekarang?" tanya April. Dia masih tidak mengerti maksud Adam. "Biasa saja," jawab Adam lagi. April semakin tidak mengerti dengan ucapan Adam, akhirnya dia menyerah karena Adam begitu menyebalkan dengan jawabannya yang singkat. "Kak, Apa Kakak sudah punya kekasih?" tanya April hati-hati supaya tidak menyinggung perasaan Adam. Adam berhenti kemudian menatap tajam April. Pertanyaan yang membuat Adam kesal. Namun, hal itu begitu penting bagi April karena dia tidak ingin sakit hati lagi sebelum berharap terlalu jauh. "Aku bukan anak kecil yang harus pacaran, ya," sinis Adam sembari masih menatap iris coklat itu. Mata April berbinar, dia begitu senang dengan jawaban Adam. Dia yakin jika Adam memang tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun. "Berarti, masih ada harapan …." April langsung menutup mulutnya kemudian dia berlari meninggalkan Adam. Dia sudah tidak tahu malu telah menanyakan hal itu pada Adam. Adam menggeleng melihat tingkah April, gadis itu telah begitu berani menunjukkan perasaannya. Usai mereka berkeliling komplek perumahan itu, mereka segera kembali karena matahari sudah menampakkan sinarnya. April duduk di ayunan sebentar untuk mengurangi rasa lelah. Selama ini dia tidak pernah jogging, tadi sebenarnya dia hanya iseng mungkin saja Adam juga jogging. April mengetahui semua kebiasaan Adam dulu sebelum lelaki itu menikah, dia selalu mencari informasi tentang Adam. Hingga saat ini dia tahu apa saja yang disukai ataupun yang tidak disukai Adam. April selalu berharap jika kelak dia menjadi istri Adam, dia akan menjadi istri yang paling pengertian. Ah, harapan yang terlalu berlebihan, begitu yang April katakan jika Adam tidak merespon perasaannya sedikitpun. Adam melirik sebentar pada gadis berwajah imut itu, wajahnya yang masih seperti bocah, begitu menggemaskan. Dia segera ke lantai atas untuk membersihkan diri karena hari sudah siang. Sebenarnya dia masih ingin di rumah seharian ini, tapi karena jadwal yang padat hari ini tidak mungkin dia izin libur kerja. Adam menggeleng dengan pikiran konyolnya, untuk apa coba harus di rumah seharian. Pagi ini, Adam merasakan jauh lebih baik dari pagi-pagi sebelumnya. Senyuman April masih saja terngiang di matanya, bahkan dia harus beberapa kali mencoba memasang dasi masih juga gagal. Adam memang lelaki yang payah, dengan perasaan yang terlalu resah akhirnya dia lupa dengan simpul yang yang sudah dia pelajari sejak lama. Memasang dasi memang hal yang sering membuat Adam kesal, dia harus melihat tutorial lagi di ponselnya karena sering melupakan simpul yang menurutnya sangat susah untuk dihapal. Mungkin kalau bukan karena Arumi yang memaksa, dia tidak akan pernah bisa memasang dasi sendiri. Karena sudah semakin siang, akhirnya Adam membawa dasi itu keluar. Dia akan meminta tolong pada Mbok Darsih untuk membantunya memasang dasi. April dan Dara sudah bersiap untuk sarapan, Adam menghampiri mereka dan menyapa ramah putrinya. "Bagaimana tidurnya malam ini, nyenyak?" tanya Adam pada putrinya kemudian melirik sekilas April yang sedang menatapnya. Adam segera mengalihkan pandangannya saat dia mendapati April sedang menatapnya. Suasana semakin canggung saat Dara tiba-tiba tidak lagi berceloteh karena dia sedang menikmati makanannya. Mbok Darsih keluar membawakan teh hangat untuk Adam dan juga s**u untuk Dara. Adam langsung ingat bahwa tadi dia akan minta bantuan Mbok Darsih untuk memasangkan dasinya. "Mbok," panggil Adam sembari berdiri. "Ada apa, Den?" tanya Mbok Darsih. "Mbok, bisa pasangan dasi? Aku lupa caranya," pinta Adam sambil mengulurkan dasi itu pada Mbok Darsih. "Mana bisa saya pasang begituan," ujar Mbok Darsih sambi mengernyitkan dahi. "April pasti bisa," ujar Mbok Darsih. "Aku bisa, Kak." April sangat antusias mendengar ucapan Mbok Darsih Dia langsung berdiri dan mengambil dasi itu dari tangan Adam. Adam akhirnya pasrah karena dia memang benar-benar lupa membuat simpul itu. April berdiri tepat di depan Adam. Postur tubuh Adam yang tinggi, membuat April berjinjit. Adam sedikit membungkukkan tubuhnya hingga akhirnya tubuh mereka menjadi semakin dekat. Adam berusaha menahan napasnya karena detak jantungnya berdegup lebih kencang. 'Adam, tahan, jangan sampai April tahu kalau kamu saat ini grogi,' batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD