Mata Coklat

1671 Words
April mengerutkan dahinya saat Adam tiba-tiba tersenyum dan menatapnya tanpa berkedip, tapi Adam menyebut nama Arumi. Adam berdiri mendekati April yang masih terpaku tidak mengerti maksud Adam. Tubuh kekar itu tiba-tiba menarik tubuh April lalu memeluknya. Rasa haru menyeruak di dadanya, Adam telah terbuai oleh angannya. Rasa rindu yang begitu besar pada mendiang sang istri membuatnya lupa jika istrinya telah tiada. "Aku merindukanmu, Rum." Adam masih menikmati pelukan itu, wangi rambut April begitu menenangkannya. "Ayah, Tante," panggil Dara sembari menarik kemeja Adam hingga membuat Adam tersadar. Adam langsung menjauhkan tubuhnya dari April, sedangkan April langsung memalingkan wajahnya. Mereka berdua salah tingkah apalagi saat para pelayan berbisik-bisik sambil melihat mereka. "Ayah, sudah berteman dengan Tante April?" Pertanyaan polos Dara semakin membuat Adam salah tingkah. April segera mengganti bajunya lagi dan membawa baju yang di cobanya ke luar. Adam sudah membayar pakaian yang mereka beli kemudian berjalan mendahului April dan Dara. Terlalu malu memperlihatkan wajahnya pada gadis itu. Apalagi Dara masih saja menanyakan kejadian tadi. "Tante, mau, jadi teman Ayah?" tanya Dara. April masih salah tingkah karena sesekali Adam meliriknya lewat spion dalam mobil. Mata coklat itu, begitu indah saat Adam menatapnya. Posisi sedekat tadi begitu mengingatkan Adam dengan mata coklat milik istrinya. Ya, mereka berdua mempunyai warna mata yang sama, hal itu yang membuat Adam begitu terpesona melihatnya. "Ayah, jangan galak-galak sama Tante April, Ya," pinta Dara pada ayahnya. Adam tersenyum saat matanya beradu dengan mata coklat itu, sedangkan April segera menundukkan pandangannya saat menyadari mereka menatap. Mobil mereka sudah memasuki kawasan perumahan, Adam membuka kaca mobilnya karena biasanya beberapa tetangga berada di luar pagar disaat sore hari. Adam memang selalu ramah dengan para tetangganya, sekedar memelankan mobilnya dan membuka kaca mobil untuk menghormati para tetangga lalu menyapa dengan senyum. Sikap ramah Adam memang menjadikanya lelaki idaman para ibu yang mempunyai anak gadis bahkan juga para janda. Mereka ingin dipilih Adam untuk menggantikan istrinya. Siapa yang tidak tertarik dengan lelaki bertubuh kekar itu, selain parasnya yang tampan dengan jambang yang menghiasi dagunya, membuat Adam semakin menawan. Dia juga punya kurir yang bagus di perusahaan. *** Mbok Darsih membantu membawakan barang-barang mereka. April membawa belanjaan yang Adam beli tadi. Setelah menaruh paper bag di dalam kamar sembari melihat kembali tunik yang di belikan Adam, senyum manis tersungging di bibirnya. Kemudian April ke dapur untuk membantu Mbok Darsih membersihkan bekas piring kotor yang mereka pakai tadi. "Bagaimana jalan-jalannya tadi? Kalian piknik di mana?" tanya Mbok Darsih sambil mengeluarkan perlengkapan piknik itu. "Dara sangat senang, Mbok," jawab April. "Mbok ikut senang kalau Den Adam mau menerima Dara," ujar Mbok Sumi. "Iya, Mbok. Dara itu selalu saja menanyakan Ayahnya kalau Kak Adam lama tidak mengunjunginya. Tapi kalau Kak Adam sudah datang, dia hanya mengintip dari jauh," cerita April. "Kasihan mereka, tapi ini semua memang sudah takdir. Yang penting sekarang mereka sudah bersatu lagi." Mbok Darsih meninggalkan April yang sedang mencuci piring. Bayangan saat di Mall tadi membuat April tersenyum simpul. Debaran dadanya berdegup kencang kala pelukan Adam masih begitu terasa, bahkan wangi parfumnya masih tercium. Setelah selesai mencuci piring, April masuk ke kamar dan segera membersihkan diri, dia tidak mau pikirannya terus-terusan mengingat kejadian itu. Sangat memalukan jika ada yang mengetahui perasaannya pada Adam. Karena April berjalan sembari melamun, dia tidak tahu jika Adam berjalan sambil melihat ponselnya. April langsung berhenti tepat di depan Adam hingga tak ada jarak diantara mereka. Hembusan napas mereka begitu terasa. Adam menatap iris coklat itu hingga beberapa detik. Mata mereka terkunci mengagumi satu sama lain. Adam seketika memundurkan tubuhnya saat dia menyadari jika mereka terlalu dekat, kemudian meninggalkan April dengan perasaan yang, entahlah. Mata coklat itu terus saja membayanginya hingga tanpa disadarinya senyum tipis tersungging di bibirnya. Adam menggeleng menepis rasa yang dia sendiri tidak tahu artinya. "Ayah, Tante April mana?" Suara Dara membuyarkan lamunannya dan membuat Adam tergagap. Sejak seharian ini nama April terus saja terngiang di telinganya. Adam tidak mau hatinya tiba-tiba lemah hanya karena wanita bernama April. "Ayah!" Dara menarik lengan baju ayahnya yang masih mematung tidak menjawab pertanyaannya. "Tante April di kamar," ujar Adam. Menyebut nama April terasa ada yang beda, desiran halus muncul begitu saja di dadanya. Dara berlari saat Adam memberitahukan padanya keberadaan April. Rasa kagum Adam pada sosok bertubuh mungil itu semakin terasa. "April." Nama itu begitu ringan meluncur dari mulutnya. Notifikasi ponselnya mengagetkan lamunannya, Adam segera mengusap layar ponselnya ketika sebuah pesan masuk dari aplikasi hijau itu. Tidak biasanya Alifa mengirim pesan padanya. [Mas, bagaimana kabarnya?] Isi pesan basa-basi yang tidak biasanya dikirim Alifa adik bungsu Adam. Adam tersenyum, biasanya Alifa langsung mengungkapkan keinginannya kalau mengirim pesan tanpa menanyakan kabarnya. [Nggak usah basa-basi, mau minta apa?] Balas Adam. Sebenarnya dia tidak begitu suka berbalas pesan seperti itu, dia lebih suka menelepon, tapi adiknya lebih suka mengirim pesan. [Ih, kebiasaan, suka suudzon sama adik sendiri.] balas Alifa dengan emot menangis berjajar. [Iya, Adikku sayang, tumben tanya kabar Mas. Ada apa, sih?] [Gimana, April di sana? Mas Adam seneng nggak? Pasti senang, lah.] Adam tidak membalas pesan dari adiknya, dia tahu kebiasaan adiknya yang suka menjodohkan dirinya dengan April semenjak wanita mungil itu lulus sekolah. Karena tidak ada balasan, akhirnya panggilan telepon dari Alifa terpaksa diterima Adam. "Iya, ada apa, sih?" tanya Adam ketus. Hal yang membuatnya kesal jika ada yang membahas tentang pernikahannya karena dia tidak ingin mengkhianati Arumi. "Kok nanyanya gitu," protes Alifa sambil berdecak kesal. "Iya, Adikku sayang, ada apa?" Adam melembutkan ucapannya agar adiknya tidak merajuk. "Mas, gimana April? tidak menyusahkan, Mas 'kan?" tanya Alifa berusaha memancing kakaknya. "Memangnya dia anak kecil, harus menyusahkan di sini," ketus Adam. Dia sudah tidak tahan saat adiknya malah membahas April. "Mas sudah jatuh cinta belum, sama April?" "Alifa! Sekali lagi kamu tanya itu, Mas tidak kirimi kamu uang saku lagi!" tukas Adam. "Jangan, Mas. Maaf," pinta Alifa sambil tertawa. Adam begitu kesal dengan adiknya. Sejak tadi nama April terus saja disebut ditambah adiknya menanyakan April lagi. "Minta uang berapa, nanti, Mas, transfer," ujar Adam. "Seperti biasa, Mas," jawab Alifa sambil terkekeh. Adam mematikan ponselnya untuk mengakhiri pembicaraan tak penting dari adiknya. Kemudian, dia membuka aplikasi m-banking untuk mentransfer sejumlah uang untuk adiknya. Pesan masuk dari aplikasi hijau, Adam membuka pesan dari adiknya. [Terima kasih, Mas Adam tersayang. Jangan galak-galak sama April, nanti bucin lho.] pesan Alifa yang disertai emot hati sempat membuat Adam tersenyum. Meskipun dia kesal, tapi rasa penasaran Adam pada April membuatnya ingin mengetahui lebih jauh tentang gadis itu. Adam membuka aplikasi berlogo F yang sudah lama tidak dia gunakan. Dia mengetik nama Aprilia pada kolom pencarian, ada puluhan nama Aprilia. Adam terus saja men-scroll nama Aprilia hingga dia tergelitik meng-klik nama Aprila Cantik. Sebuah foto dua gadis berpose mengangkat dua jari begitu manis. "Kekanakan sekali," gumam Adam sambil menggelengkan kepalanya. Jarinya masih terus men-scroll postingan April. 'Sepuluh menit yang lalu?' batinnya saat melihat ponstingan terakhir April. 'Mencintaimu dalam diam.' Adam berpikir sejenak, siapa laki-laki yang dicintai April hingga dia membagikan postingan tersebut. Dia tergelitik membaca kolom komentar, sudah ada puluhan komentar dan ratusan like. April ternyata setenar itu di sosial media, pikir Adam. Beberapa komentar mempertanyakan siapa laki-laki yang dicintai April, apalagi para akun lelaki memberi komentar patah hati. 'Pepet terus, pantang mundur.' Balas akun yang bernama Icha Imoet. Adam tersenyum saat melihat foto profil Icha Imoet adalah adiknya. Tidak ada balasan di setiap komentar itu dan April tidak sedang online. Adam terus saja mengusap layar ponselnya, tanpa disadarinya kalau dia begitu antusias melihat postingan April. April begitu aktif di sosial media, sangat berbeda dengan aslinya yang pendiam. Memang terkadang orang pendiam itu lebih rame di sosial media, karena di sosial media mereka bisa mengekspresikan lebih bebas. *** Makan malam kali ini terasa berbeda, Adam sedikit lebih banyak bicara dari biasanya, dia juga beberapa kali menanyai April. Selesai makan malam, Adam yang biasanya langsung ke lantai atas, dia ikut di ruang keluarga. Mereka bertiga mengajak Dara bermain. "Dara senang ada Ayah disini," ucap Dara sembari bergelanjut pada lengan ayahnya. Adam tersenyum lalu menjawil gemas pipi putrinya. Sejak dia membuka hatinya untuk putri semata wayangnya, hatinya terasa semakin tenang. Rasa hampa yang biasa dia rasakan kini sudah terisi oleh tawa riang putrinya. Hatinya yang selama ini mati, kini bersemi kembali. Adam, lelaki yang telah menutup rapat hatinya hanya untuk istri tercintanya kini merasakan ada getaran yang tak biasa saat bersama April., tapi dia tidak menyadarinya. 'Apakah cinta itu akan bersemi seiring kebersamaan yang kita lalui.' tulisan April di media sosialnya. Tulisan itu banjir komentar tidak menunggu waktu yang lama. April memang begitu dikagumi para pemilik akun media sosial. 'Aku jamin, sebentar lagi dia pasti bucin. Semangat kakak cantik.' Balas Icha Imoet di komentar paling atas. Alifa paling antusias menjodohkan mereka berdua, katanya, dia tidak akan membiarkan kakaknya menikahi wanita lain selain April. Ya, karena persahabatannya sejak kecil membuat mereka sangat akrab. Apalagi Alifa tahu bahwa April menyukai kakaknya sejak April masih sekolah menengah pertama, padahal waktu itu Adam sudah pacaran dengan Arumi. April kecil yang sudah jatuh cinta dengan lelaki remaja membuatnya merasakan sakit hati berkali-kali, apalagi saat Adam menikah dengan Arumi. "Sabar ya, jika jodoh pasti akan bersatu," hibur Alifa kala itu saat mereka mendengar kabar kalau Adam akan menikahi Arumi. "Tapi, kalau mereka sudah menikah, pasti tidak ada harapan untukku," ucap April. "Kamu tenang saja, kalau tidak jadi istri pertama 'kan bisa istri kedua," goda Alifa sambil terkekeh. "Gila kamu ya, memangnya aku wanita yang suka merebut suami orang," protes April. Sejak pernikahan Adam, April berusaha melupakan lelaki yang begitu sempurna menurutnya. Kabar kematian Arumi, membuat April ikut sedih, meskipun dia begitu mencintai Adam. Baginya, melihat orang yang dicintai bahagia ini sudah membuatnya bahagia. Hingga suatu saat, Lasmi dan Alifa merencanakannya agar April dekat dengan Adam. Mereka ingin Adam menikah lagi dan wanita itu adalah April. Apalagi sejak Dara kecil, April selalu ikut menjaga Dara dengan tulus. Hingga saat April berada di rumah Adam, merekalah yang merencanakan semuanya. Satu-satunya alasan agar Adam bisa dekat dengan April yaitu membuat keadaan agar April bisa tinggal bersama Adam dengan alasan Dara. Rencana itu juga atas persetujuan orang tua April. Mereka setuju karena mereka tahu Adam itu memang laki-laki baik dan bertanggung jawab.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD