Jika hatimu sedang tidak baik-baik saja, maka curahkanlah segala keresahanmu pada Tuhan, maka kamu akan mendapatkan ketenangan. Namun, terkadang manusia butuh orang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya.
Bagi Adam, lima tahun hidup sendirian, tidak pernah dia melupakan Sang Pemilik Hati. Dia selalu mengungkapkan kesedihannya, tapi dia juga butuh teman untuk mengungkapkan segala keresahannya itu.
Di sinilah Adam sering melampiaskan kesedihannya ketika dia sudah benar-benar kalut.
Di taman tempat pertemuan pertamanya dengan istri tercintanya dan juga tempat dimana mereka menghabiskan setiap peringatan hari pernikahan mereka. Di Tempat itulah Adam bisa mengenang setiap momen indah bersama istrinya.
Udara pagi itu begitu dingin, beberapa orang berjalan-jalan dengan keluarganya. Adam tersenyum kala mengingat istrinya berceloteh tentang keinginannya ketika anak mereka sudah lahir.
Dia masih ingat betul saat istrinya memintanya untuk mengenalkan tempat bersejarah itu, tempat dua hati yang saling mencintai sejak pertama kali bertemu.
"Adam, kamu harus kuat. Masih banyak waktu untuk bersama putrimu," gumam Adam.
Adam membuang rokok yang baru dia sulut itu, dia ingin memperbaiki hidupnya agar punya waktu lama bersama putrinya.
Adam telah memutuskan untuk mulai meninggalkan kebiasaan merokoknya saat itu juga. Dibuangnya satu bungkus rokok yang ada di saku celananya ke dalam tong sampah.
Adam kembali masuk ke mobilnya, dia akan kembali ke rumah. Hari libur ini Adam berencana menghabiskan waktu bersama putrinya.
Saat melewati kios buah, Adam membeli beberapa buah untuk dibawa pulang. Dia membeli beberapa macam buah untuk putrinya.
Saat melihat duren, Adam menghentikan pandangannya, dia ingat betul jika istrinya tidak suka dengan buah itu. Bahkan setiap kali Adam membeli duren, istrinya sampai mual dan pusing.
Dia mengurungkan mengambil buah itu, dia takut jika putrinya juga tidak menyukai buah duren meskipun itu adalah buah kesukaannya. Demi cintanya pada sang istri, Adam akhirnya tidak pernah menyentuh buah itu lagi.
Adam segera melajukan mobilnya kembali ke rumah. Pandangannya langsung tertuju pada putri kecilnya yang sudah ceria lagi bermain di luar. Putrinya suka sekali bermain di bawah sinar matahari pagi.
"Ayah!" pekik Dara saat melihat Adam mendekat. Dia masih sedikit takut saat melihat ayahnya.
Adam mendekati putrinya sembari tersenyum, "Sayang, maafkan, Ayah, ya," pinta Adam sembari berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putrinya.
Dara tersenyum tulus pada ayahnya, dia begitu bahagia bisa dekat dengan lelaki yang dia panggil ayah itu.
"Sekarang hari libur, kita seharian akan bermain puas-puas ya," ujar Adam sembari mengusap kepala putrinya.
Dara mengangguk dengan mata berbinar, "Iya, Ayah," jawabnya antusias.
"Sama Tante April juga, ya, Yah?" pinta Dara. Dia merasa tenang hanya bersama April dan hanya April yang akan membelanya jika ayahnya marah.
"Iya, boleh," jawab Adam.
April yang berada di depan pintu melayangkan pandangannya ke arah ayah dan anak itu. Saat akan mengabadikan momen itu, April mengurungkan niatnya karena Adam telah melarangnya.
"Tante, ayo, kita main!" panggil Dara yang masih berada di atas ayunan.
Dengan rasa ragu, April berjalan menuju ayunan dengan masih menunduk tidak berani menampakkan wajahnya pada Adam.
"Pril, sekarang aku libur kerja, aku ingin bermain dengan Dara. Menurutmu, permainan apa yang menarik dan tidak melelahkan bagi Dara?" tanya Adam.
April berpikir sejenak, selama ini mereka selalu bermain apa saja yang saat itu mereka temui. Dara, sama seperti anak seumurannya, dia akan betah meskipun seharian hanya bermain, tapi kali ini dia juga memikirkan Adam juga. Bagaimana ayah dan anak itu menghabiskan waktu bersama dalam waktu lama.
"Piknik," ucap April lirih. Dia masih tidak punya keberanian menatap wajah Adam.
"Piknik?" tanya Adam sembari mengernyitkan keningnya.
"Ayah, Dara mau," ujar Dara dengan senyum terkembang sempurna di bibirnya.
Adam berpikir sejak, dia sedang tidak ingin kemana-mana hingga akhirnya ide itu muncul.
"Oke, kita piknik," ujar Adam.
"Hore!" Dara bertepuk tangan riang.
"Dara di sini dulu, Ayah akan siapkan semuanya." Adam segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke rumah.
April menatap heran Adam yang setengah berlari menuju rumah.
***
Adam membuka gudang yang selama ini tidak pernah dia masuki. Hanya Mbok Darsih saja yang masuk ke gudang itu untuk membersihkannya.
Gudang itu adalah tempat barang-barang milik Arumi dan juga segala perlengkapan bayi yang Arumi beli dan tidak pernah diberikan pada Dara. Dia melupakan barang-barang itu saat kelahiran Dara yang langsung dibawa ke kampung oleh ibunya.
Adam mengambil perlengkapan piknik yang selalu dia gunakan bersama Arumi kala sedang libur kerja. Akhirnya setelah sekian lama dia tidak menggunakannya, saat ini dia piknik bersama putrinya.
"Mas, coba kalau kita sudah punya anak, pasti anak kita senang kita ajak piknik," ujar Arumi kala itu, disaat mereka masih dalam penantian menunggu kehadiran buah hati mereka.
"Rum, sekarang aku akan mewujudkan keinginanmu. Aku akan piknik bersama putri kita," gumam Adam. Matanya mulai berkaca saat ingatan tentang istrinya terpampang jelas dalam bayangannya.
Dia merasakan bahwa Arumi tersenyum padanya, dia tahu bahwa di atas sana Arumi ikut merasakan kebahagiaan.
"Den, sedang apa?" tanya Mbok Darsih yang akan membersihkan gudang dan juga barang-barang yang ada di dalam sana.
"Dara minta diajak piknik," jawab Adam sembari menunjukkan perlengkapan piknik milik Arumi.
"Mari, Mbok bantu," ujar Mbok Darsih, lalu dia mengambil alih perlengkapan piknik itu.
Mbok Darsih memang selalu membersihkan barang-barang di gudang, jadi saat akan menggunakannya barang-barang itu masih tetap bersih.
Adam mengikuti Mbok Darsih ke dapur, dia ingat betul saat akan piknik, Arumi selalu membawa berbagai macam makanan.
"Mau bawa apa saja, Den?" tanya Mbok Darsih.
Adam melihat berbagai makanan yang sudah tersaji di meja makan. Mereka memang belum sarapan, jadi berbagai makanan itu masih belum tersentuh.
"Bawa semua Mbok. Mungkin kami akan pulang siang," ujar Adam.
Mbok Darsih mempersiapkan makanan yang akan dibawakan untuk piknik, sedangkan Adam mengganti pakaiannya dengan kaos.
Kaos warna putih itu, tergambar jelas tubuh kekar Adam. Meskipun dia jarang sekali olahraga, tapi tubuhnya masih terlihat berotot.
Mbok Darsih mengantar peralatan piknik dan menaruhnya di mobil Adam, dia juga membawakan makanan dan juga buah-buahan untuk dibawa mereka.
April yang masih belum tahu Adam akan mengajakku mana hanya terdiam sembari menjaga Dara.
Adam keluar setelah mengganti pakaiannya. Tubuh kekar itu membuat mata April sampai tak berkedip. Baru kali ini dia melihat Adam memakai pakaian seperti itu hingga melancarkan ketampanannya.
Adam sudah bersiap membukakan pintu dan meminta April dan Dara masuk.
***
Mobil APV itu melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian kota, Adam melakukannya menuju taman kenangan bersama istri tercintanya. Dia ingin memperkenalkan Dara dengan apapun yang berkesan bagi Arumi.
Mereka sudah sampai di taman yang sudah lumayan ramai itu. Adam menata tikar di tempat biasa dirinya dan Arumi menghabiskan waktu libur bersama.
Mereka bertiga duduk di atas tikar seperti keluarga. Dalam posisi sedekat itu, April merasakan debaran yang tak biasa. Dia memang mengagumi Adam sejak dulu, tapi memang tidak biasanya merasakan debaran yang berbeda.
"Tante, Haus!" teriak Dara saat dia sudah berhenti dari lari-larian.
Mereka berdua lekas mengambilkan botol minum bersamaan hingga tangan mereka saling bersentuhan.
Adam menatap wajah April dan tangannya masih menikmati jemari lembut itu. Wanita berparas cantik itu sempat menghipnotis dirinya.
Rambut panjang melambai menyapu wajahnya, Adam menikmati wangi yang menusuk indera penciumannya.
Lelaki yang sudah sekian lama menyendiri itu seperti magnet yang menarik tubuhnya untuk semakin mendekati April. Tangan kekarnya terangkat dengan tiba-tiba menyentuh pipi bersemu merah April.
Beberapa detik mereka seperti terbuai dalam perasaan yang tidak biasa, Adam begitu menikmatinya hingga tangan itu menyentuh bibir tipis wanita di depannya.
April menatap lekat lelaki bermata elang itu, jantung semakin berdetak kencang. Dia pun hingga tidak bisa bernapas karena Adam semakin mendekat dan mereka hampir tak berjarak.
"Tante, haus!" teriakan Dara menyadarkan keduanya. April segera mengambilkan botol minum itu dan memberikan pada Dara.
Adam mengumpat karena begitu tidak tahu malunya dia mendekati wanita itu. Dia tidak bisa menahan tubuhnya yang terus saja ingin mendekat. Akhirnya dia menjauhi tempat itu untuk meredam perasaannya yang tidak biasa itu.
Adam adalah lelaki normal, bagaimanapun dia menolaknya, tapi tubuhnya seakan tidak bisa menolak gejolak itu.
Bagi laki-laki normal, hidup sendirian itu begitu berat. Tidak ada tempat baginya untuk mencurahkan kesedihannya. Dia tidak pernah merasakan bahagia hidup dalam kesendirian.
Adam menatap lurus ke arah Dara dan April yang sedang asik bermain, dia begitu menikmati pemandangan itu. Dara begitu terlihat bahagia dengan tawa yang terkembang sempurna.
Selama dia melihat putrinya, meskipun diam-diam, dia tidak pernah mendapati putrinya terlihat sebahagia itu. Dia merasa telah ikut andil dalam kebahagiaan putrinya.
Meskipun Dara belum tahu apa itu orang tua, tapi dia yakin dalam hati gadis kecil itu pasti merasakan bahwa orang tuanya telah tiada. Ya, ibunya yang sudah meninggalkannya tanpa dia merasakan sentuhan sang ibu, dan ayah yang seharusnya ada di sampingnya malah menolaknya.
"Adam, kamu harus mengganti waktu yang telah kau ambil untuk Dara," gumamnya.
***
Sepulang dari piknik, Adam mengajak putrinya ke Mall yang ada di tengah kota. Dia ingin membelikan beberapa pakaian untuk putrinya dan juga ….
'ah, kenapa aku harus memikirkan April?' batinnya.
Setelah sampai di Mall, Adam menggendong Dara masuk ke dalam, sedangkan April berjalan di belakang Adam.
"Pril, jangan di belakangku," ujar Adam sembari menghentikan langkahnya.
April terdiam, dia tidak mengerti maksud Adam.
Adam menarik tangan April lalu menggandengnya, "Aku tidak mau kamu hilang, pasti akan merepotkanku kalau kamu sampai hilang," ucap Adam hingga membuat April kesal.
Padahal April berharap bukan itu yang dikatakan Adam. Ah, dia memang terlalu berharap pada lelaki yang tingginya hampir dua jengkal di atasnya.
Tangan Adam masih menggenggam jemari April, dia merasakan ada yang beda saat tangan itu bersentuhan. Adam menikmatinya hingga dia tidak ingin melepasnya.
Mereka masuk ke sebuah butik, Adam meminta April memilihkan pakaian untuk Dara, sedangkan dia duduk di kursi sembari mengawasi putrinya yang bingung memilih baju.
Mata Adam terkunci pada tunik warna marun, dia masih ingat betul istrinya pernah punya tunik seperti itu. Pikirannya langsung tertuju pada April, pasti April akan terlihat dewasa jika memakai pakaian itu. Adam tersenyum membayangkannya.
Dara sudah memilih beberapa pakaian lalu menunjukkan pada ayahnya.
"Bagus tidak?" tanya Dara sembari menempelkan baju itu di tubuhnya.
"Anak Ayah, cantik sekali!" seru Adam.
Pelayan butik itu menghampiri Adam, "Pak, putrinya saya bantu mencoba bajunya, ya?" ujar pelayan itu ramah.
Adam mengangguk, dia ingin melihat putrinya mencoba baju yang dipilihnya.
"Pril, kamu ambil tunik warna marun itu," ujar Adam sambil menunjuk tunik yang sedari tadi dilihatnya.
April mengambilkan tunik itu dan mendekatkan pada Adam, "Ini, Kak?" tanya April.
"Iya, coba kamu pakai."
"Aku?" tanya April tidak yakin.
"Iya," jawab Adam tanpa menoleh sedikitpun pada April.
Dengan sedikit ragu, April akhirnya mencoba tunik itu. Dia tersenyum saat tunik itu melekat di tubuhnya.
'Kenapa Kak Adam pintar sekali memilihkan baju untukku,' pikir April.
April keluar memperlihatkan tunik yang dia pakai. Dia melihat Adam yang sedang tersenyum memperhatikan Dara berputar-putar memperlihatkan bajunya.
Mata Adam tetiba tertuju pada gadis yang selalu menunduk itu, dia sampai tidak berkedip melihatnya.
Wajah istrinya tiba-tiba terlintas pada wajah April sembari tersenyum padanya.
"Arumi."