Mencari Perhatian

1733 Words
Angin berhembus begitu sejuk menerpa rambut gadis berponi itu, seakan ikut merasakan kebahagiaan gadis kecil itu. Matahari yang mulai meredup meneduhkan penduduk bumi dengan eloknya. Senyum tulus terkembang sempurna menyambut sang kekasih hati. Rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya membuatnya terasa berbeda. 'Ayah' nama yang selalu disebut gadis kecil itu dalam hati. Adam menghampiri putri kecilnya yang sedang duduk sendirian di ayunan dengan senyum yang terkembang. "Dara, Ayah punya hadiah," ucap Adam sembari memberikan es krim itu pada putrinya. Dara langsung menerima pemberian ayahnya dengan riang, es krim dan coklat kesukaannya. Biasanya eyang putrinya melarangnya banyak makan es krim dan juga cokelat. "Banyak sekali, Ayah. Ini untuk Dara semua?" tanya gadis kecil berambut ikal itu. "Iya, Sayang," jawab Adam sembari membuka tutup cup es krim dan menyuapkannya di mulut mungil itu. Dara mengerutkan kening dan menyipitkan matanya karena dinginnya es krim. Ekspresinya persis seperti Arumi. "Hemm, dingin," ujar Arumi kala itu sembari menyipitkan matanya. Adam begitu senang melihat ekspresi wajah istrinya yang menggemaskan, tak jarang dia malah menggoda istrinya dengan menyuapinya sesendok penuh es krim. "Jangan banyak-banyak, ngilu," protes Arumi. "Ayah, lagi," pinta Dara yang sudah siap membuka mulutnya. Adam langsung tersadar dari lamunannya. Adam menyuapi es krim itu hingga habis, "Lagi?" tanya Adam, dia begitu senang merasakan momen itu bersama putrinya. "Jangan, Kak!" pekik April saat melihat Adam membukakan es krim lagi. Adam terdiam, baru kali ini dia mendengar suara April yang sedikit meninggi. "Dara nggak bisa banyak-banyak makan es krim," ujar April. "Kenapa?" tanya Adam tak suka. Dia merasa April telah merusak kebersamaannya dengan Dara. "Nanti sakit," lirih April sembari menunduk, dia tidak berani menatap wajah lelaki berjambang itu. "Ibu juga melarang Dara makan es krim," ucap April lagi. "Eyang Putri 'kan tidak di sini, Tante. Boleh, ya?" pinta Dara memelas. Adam tidak tega melihat Dara mengiba, dia tidak akan membiarkan momen itu rusak gara-gara April. "Dara itu anakku, kamu tidak punya hak untuk melarang," ketus Adam. "Maaf, Kak, tapi …." "Sudah, kamu masuk saja. Aku ingin bermain dengan Dara," tukas Adam seraya memberikan eskrim dan coklat yang belum di buka. April menerima es krim itu dan kembali ke dalam dengan rasa khawatir, dia takut jika Dara sakit karena banyak makan es krim. Sesekali April mengawasi ayah dan anak itu, dia ikut bahagia melihatnya, tapi dia takut karena Adam tidak mengetahui kondisi Dara. Mereka berdua bermain sampai puas hingga menjelang azan maghrib. Adam menggendong putrinya dan membawanya ke lantai atas. Dia ingin merebut perhatian putrinya, dia tidak ingin Dara lebih menyayangi April dari pada dirinya. "Dara boleh tidur dengan, Ayah?" tanya Dara saat Adam mendudukkan tubuh Dara di ranjang. "Dara mau?" tanya Adam dengan wajah berbinar. Dara mengangguk membulakkan matanya. Kerinduan akan hadirnya sang ayah membuatnya begitu bahagia. "Pasti boleh, Sayang," jawab Adam sembari mengecup pucuk kepala putrinya. *** Sejak Adam dan Dara ke lantai atas, April begitu khawatir dengan gadis kecil itu. Dia takut Dara kelelahan karena diajak main oleh ayahnya. Ingin sekali April ke lantai atas, tapi dia tidak berani, dia takut Adam akan memarahinya. Akhirnya dia hanya berjalan mondar-mandir di ruang tenang itu. Karena rasa khawatir yang berlebihan itu, April memutuskan akan tetap di ruang tengah menunggu jika Dara mencarinya. Dara sudah tertidur saat Adam mengusap kepalanya, senyum tipis tersungging di bibir mungilnya. Adam merasakan kedamaian saat bersama putrinya. Entah kenapa, saat menikmati hembusan napas teratur sang putri membuat Adam tiba-tiba merasakan kantuk. Tidak biasanya Adam bisa dengan mudah tertidur. *** Suara menggigil Dara mengagetkan Adam, Dia langsung memeriksa tubuh putrinya. Suhu tubuhnya sangat tinggi, dia panik lalu menggendong putrinya ke bawah. April yang memang berada di ruang tengah karena khawatir dengan Dara, langsung berjalan membantu Adam. "Dara panas!" Adam sangat panik, apalagi Dara menggigil dan tubuhnya pucat. "Bawa masuk ke kamar, Kak," ujar April kemudian membukakan pintu kamar dan menata bantal. Adam membaringkan tubuh Dara yang masih menggigil. "Aku panggil Dokter Fahmi dulu," ujar Adam. April mengambil air dan juga handuk untuk mengompres Dara, dia tahu Dara seperti itu karena kebanyakan makan es krim. Tidak menunggu lama, Dokter Fahmi datang. Dia langsung memeriksa Dara. Adam berjalan mondar-mandir, dia sangat merasa bersalah karena tadi tidak mendengarkan ucapan April. "Pak Adam, jangan khawatir, Dara hanya demam biasa. Sudah saya berikan obat, Insya Allah nanti akan turun panasnya," ucap Dokter Fahmi. "Tapi dia tadi sampai pucat, Dok." "Tidak ada yang serius, Bapak tenang saja, ya." Setelah selesai memeriksa Dara, Dokter Fahmi pamit pulang. Adam masih begitu gelisah melihat keadaan Dara, dia sangat merasa bersalah karena tidak mendengarkan ucapan April. Digenggamnya tangan putrinya yang masih terasa panas, rasa takut kehilangan tiba-tiba muncul. Adam akhirnya menelpon ibunya. Dia ingin mencari tahu tentang putrinya agar tidak terulang lagi kesalahan yang sama. "Ada apa, Dam?" Terdengar suara panik di seberang sana. "Bu, Dara sakit, badannya tiba-tiba panas, padahal tadi tidak apa-apa," ucap Adam. "Sudah diobati?" tanya Lasmi. "Sudah, tadi Dokter Fahmi ke sini," jawab Adam. Rasa sesal masih saja menyesakkan dadanya. "Kamu yang tenang, nanti kalau sudah diberi obat pasti turun panasnya," ujar Lasmi menenangkan Adam. "Maaf, Bu, tapi aku tidak mendengarkan April. Dara makan es krim terlalu banyak," pinta Adam. "Ya, sudah tidak apa-apa, sudah terlanjur. Yang penting Dara sudah di obati, kamu yang tenang, ya." Lasmi sangat khawatir kondisi jiwa putranya, dia takut jika Adam akan mengalami trauma lagi setelah dia bisa menerima putrinya. "Bu, makanan apa saja yang tidak boleh di makan Dara?" tanya Adam sembari menatap lekat putrinya. "April tahu semua tentang Dara, kamu tanya dia, ya," ujar sang ibu. *** Semalaman Adam tidak tidur, dia juga tidak beranjak menunggui putrinya. Rasa sesal begitu mendalam karena ulahnya. Dia telah gagal menjadi seorang ayah. "Maafkan aku, Rum," sesalnya. Berkali-kali ia merutuki kebodohannya. Dipejamkan matanya, dia merasakan sentuhan tangan Arumi begitu menenangkannya. Adam masih berharap Arumi hadir di sisinya meskipun itu tidak mungkin. Dia begitu rapuh karena tidak punya tempat untuk berbagi kesedihannya. "Ayah," panggil Dara saat melihat Ayahnya menangis tergugu. "Ayah kenapa?" tanya Dara. Adam segera menyeka air matanya, dia segera menciumi tangan mungil itu. "Ada yang sakit?" tanya Adam sembari meletakkan punggung tangannya di kening Dara. Dara menggeleng lalu tersenyum kepada ayahnya, "Haus," ujar Dara. Adam segera mengambilkan air minum yang ada di atas nakas kemudian meminumkan pada putri kecilnya. "Dara, makan, ya?" tanya Adam. Dara mengangguk. "Ayah ambilkan dulu, ya," ujar Adam kemudian dia mencari Mbok Sumi menuju ke dapur. "Ada apa, Kak?" tanya April saat melihat Adam berjalan dengan cepat ke arah dapur. "Pril, buatkan Dara sarapan," pinta Adam dengan nada datar. "Iya, Kak." Adam kembali lagi menunggui putrinya yang sudah akan turun dari tempat tidur. "Dara, mau kemana?" Adam segera menahan tubuh putrinya agar tidak terjatuh. "Dara mau pipis," ucap Dara. Adam segera menggendong putrinya dan membawanya ke kamar mandi. "Ayah, keluar," pinta Dara. "Kenapa? Ayah bantu biar nggak jatuh," ujar Adam. "Sama Tante April saja," pinta Dara. Adam paham, pasti Dara malu jika dia bantu. Dia segera memanggil April untuk membantu Dara. April segera datang sembari membawa bubur ayam untuk Dara kemudian dia membantu Dara di kamar mandi. Adam memperhatikan mereka berdua, dia begitu iri melihat kedekatan Dara dan April yang seharusnya dialah yang lebih dekat dengan putrinya. "Mas, nanti kalau anak kita lahir, kamu harus bantu aku, ya. Kamu yang memandikannya, aku yang menyiapkan makanan untuk kalian," ujar Arumi kala itu sembari menyandar di da*a bidang suaminya. "Iya," jawabnya singkat. "Kamu janji, ya, akan selalu ikut menemani tumbuh kembang anak kita?" ujar Arumi. Ucapan Arumi begitu terasa nyata saat itu, padahal permintaan itu sebelum Arumi hamil. Entah kenapa wanita itu punya harapan yang begitu besar, tapi Tuhan telah mengambilnya sebelum dia merasakan menjadi ibu. "Maafkan aku, Rum. Aku telah mengecewakanmu," sesalnya. Dia tidak bisa mengulang kembali masa kecil Dara, dimana dia seharusnya berada di samping putrinya. Waktu terus berjalan tanpa mau kembali ke belakang, seandainya waktu bisa diputar kembali, Adam akan menemani putrinya seperti janjinya pada Arumi. April sudah menggendong Dara ke ranjangnya, Adam mendekati putrinya. Dalam hati dia berjanji akan mengganti waktu yang telah dia sia-siakan. Setelah April mengganti pakaian Dara, Adam langsung mengambil alih putrinya. Dan langsung menyuapi putrinya, April hanya memperhatikan ayah dan anak itu sembari memberi jarak. "April, jangan pernah mengambil gambarku diam-diam," ketus Adam dengan masih terus fokus menyuapi putrinya. April yang memang ingin mengabadikan momen itu, langsung meletakkan ponselnya. "Maaf, Kak," jawab April sembari menunduk, dia takut Adam akan marah padanya. Adam masih fokus menyuapi Dara tanpa memperdulikan April yang duduk tidak jauh darinya, dia hanya ingin membuktikan bahwa dia bisa menjadi ayah yang baik. Dia ingin menunjukkan bahwa dia tidak butuh orang lain untuk merawat Dara. Dia juga ingin membuktikan bahwa dia mampu melakukannya. "Sudah, Ayah," tolak Dara setelah Adam sedikit memaksa Dara menghabiskan makanannya. "Tinggal sedikit, habiskan, ya, biar Dara cepat sehat dan bisa main lagi sama Ayah," ujar Adam. "Tante, Dara sudah kenyang," rengek Dara pada April. "Ya, sudah, sini," ujar April sembari mendekati Dara. Saat April akan mengambil piring yang ada di tangan Adam, dia langsung menjauhkan piring itu. "Kamu tidak usah ikut campur, aku lebih tahu apa yang anakku butuhkan," ujar Adam sembari menatap tajam April. Dengan tubuh yang bergetar, akhirnya April mundur dan membiarkan Adam terus menyuapi Dara. "Dara, kamu nurut apa yang Ayah minta. Kamu harus menghabiskan makanannya, biar kamu segera sehat," tegas Adam. Melihat ayahnya seperti itu, Dara semakin ketakutan, dia akhirnya mau membuka mulutnya lagi meskipun dengan ketakutan. Hingga piring itu bersih, Dara menahan rasa takutnya hingga wajahnya memerah. Isakan Dara yang tertahan membuat Adam panik, April pun tak kalah panik karena baru kali ini wajah Dara sampai memerah menahan tangis. "Dara, kamu kenapa?" tanya Adam yang tidak tahu dengan yang sedang dialami Dara. Dara akhirnya mengencangkan tangisnya hingga terdengar di seluruh ruangan. Adam begitu kebingungan melihat Dara histeris seperti itu. April segera memeluk Dara yang menangis histeris. "Sayang, sudah, ya, jangan menangis," ucap April sembari memberi pelukan pada Dara, tapi Dara masih saja menangis histeris. Adam mengusap wajahnya kasar, dia begitu frustasi melihat putrinya seperti itu. Dia hanya ingin mencari perhatian putrinya untuk menebus kesalahannya, tapi putrinya malah histeris karena ulahnya. Karena tidak tahan melihat putrinya yang menangis histeris, akhirnya Adam keluar dari kamar. Dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah untuk sekedar mencari ketenangan. Adam merasa serba salah, apa yang dia lakukan ternyata membuat Dara ketakutan, padahal menurutnya, jika Dara sedikit dipaksa untuk makan, pasti akan lekas sembuh dan bisa bermain dengannya. Adam terus saja melajukan mobilnya dengan kencang, rasa sesalnya semakin terasa. Baru saja dia bisa dekat dengan putrinya, tapi dia telah membuat putrinya takut padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD