Istimewa

1708 Words
Wanita berambut ikal itu bisa membuat putrinya begitu dekat dengan. Adam sampai berpikir, apa keistimewaan wanita bertubuh mungil itu. Tidak ada yang istimewa, bahkan dia bukan wanita keibuan seperti istrinya. Adam memikirkan hal itu hingga dia tidak bisa memejamkan matanya. Tanpa diminta bayangan April semasa masih remaja terlintas di benaknya. April suka curi-curi pandang padanya saat sedang di rumahnya. Bagi Adam, April masih anak kecil yang manja seperti yang dia lihat dulu. Bahkan saat mendapat nilai jelek April menangis sesenggukan. Adam tersenyum saat mengingat masa kecil April bersama Alifa adiknya. Gadis kecil berambut ikal itu bahkan sering terlihat mengusap ingusnya dengan ujung bajunya. Dibukanya ponsel yang sedari tadi dia matikan. Terlihat ada sepuluh panggilan tak terjawab dari ibunya. Adam pun meletakkan kembali ponselnya kemudian merebahkan tubuhnya. Adam melirik jam di atas nakas, tepat pukul dua dini hari. Setelah meninggalkannya sang istri, dia memang kesulitan untuk tidur. Hingga menit pun berlalu Adam masih belum bisa memejamkan matanya, akhirnya dia memutuskan untuk Shalat malam. Di atas sajadah itulah dia selalu menumpahkan kesedihannya hingga akhirnya dia puas mengadu pada Sang Pemilik Hati. Setelah menyelesaikan tiga rakaat terakhir, matanya sudah minta untuk dipejamkan, dia pun tertidur dalam perasaan yang jauh lebih tenang. *** Tidur satu jam saja membuat Adam merasa lebih segar. Setelah membersihkan diri, dia bersiap untuk sarapan bersama putrinya. Saat akan keluar dari kamarnya, ponselnya berdering, Adam sudah mengira kalau dari ibunya. Segera dia terima panggilan telepon kesebelas dari ibunya. "Assalamualaikum, Bu," sapa Adam setelah panggilan tersambung. "Adam! Berapa kali ibu menelpon kamu kenapa tidak diangkat juga?" berang sang ibu. Dia begitu kesal dengan putranya itu. Adam sudah memberi jarak pada telinganya, suara melengking ibunya membuat telinganya sakit. "Iya, Bu, ada apa?" tanya Adam dengan santainya. "Adam, bagaimana Dara di sana, apa kalian sudah dekat?" tanya Lasmi. Dia begitu penasaran dengan perasaan putranya, pemberitahuan April membuat Lasmi penasaran ingin menanyai putranya. "Dia baik di sini, tidak rewel juga," jawab Adam. Dia tidak ingin terlalu berharap lagi setelah penolakan Dara kemarin. "Iya, kalau itu ibu tahu, April sudah memberitahu Ibu. Yang ingin Ibu tahu, bagaimana hubungan kamu dengan Dara?" tanya sang ibu. Adam membuang napas kasar, sebenarnya hatinya sudah mulai menerima Dara, tapi penolakan sang putri kemarin membuatnya pesimis. "Adam?" tanya sang ibu lagi karena Adam tidak segera menjawab. "Dara tidak mau denganku, Bu," jawab Adam getir. "Kamu harus lebih sabar lagi, pasti Dara butuh waktu untuk bisa menerimamu," ujar Lasmi. Dia tahu, menyatukan hubungan ayah dan anak itu panti sulit. Namun, Lasmi punya keyakinan bahwa hubungan darah antara mereka, pasti akan membuat mereka bisa saling menerima. "Iya, Bu, aku pasti akan lebih dekat lagi dengan Dara," tukas Adam. Setelah mereka mengakhiri panggilan itu, Adam segera turun untuk sarapan lebih awal. Dia ingin mempunyai waktu lebih banyak dengan putrinya. Adam melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari keberadaan putrinya. Beberapa mainan berada di lantai, Adam mengambilnya dan meletakkannya di atas meja. "Tante, kejar aku!" Suara Dara dari arah dapur seketika membuat Adam menoleh. Dara langsung menghentikan langkahnya saat melihat ayahnya memegang mainan yang tadi dia tinggalkan di lantai. Adam menyadari ketakutan Dara, dia pun langsung memberi senyuman pada putrinya. April ikut berhenti saat melihat Adam yang tengah berada di ruang tamu dan memegang mainan Dara yang belum dia bereskan. "Dara, sini, Ayah mau bicara," panggil Adam sambi berusaha tersenyum. Dara menoleh pada April, gadis kecil itu ragu untuk mendekati ayahnya. April paham maksud Dara, dia pun mengangguk agar Dara mendekati ayahnya. Namun, Dara masih gamang untuk berjalan ke arah ayahnya. Akhirnya, April menggandeng Dara untuk mendekati ayahnya. "Dara, sini," pinta Adam sembari menepuk sofa agar Dara duduk di sampingnya. April mengantar Dara dan membantunya duduk bersebelahan dengan ayahnya. "Dara, sedang apa?" tanya Adam. Dengan ragu, tangannya menyentuh rambut putrinya. Dara masih menunduk, dia benar-benar belum terbiasa dengan perlakuan ayahnya. "Dara, kalau ditanya Ayah, jawab," ujar April, dia menggenggam tangan mungil itu. "Lagi main sama Tante," jawab Dara. "Main sama ayah mau? Nanti biar Tante bantu Mbok Darsih di dapur," ujar Adam lembut. Seperti terhipnotis, Dara menganggukkan kepalanya dan menatap lekat lelaki yang selama ini begitu dia rindukan kehadirannya. April segera meninggalkan mereka berdua, dia memberi kesempatan pada ayah dan anak itu, waktu untuk berdua. Adam mencium pucuk kepala putrinya, matanya pun berembun karena ada rasa yang tak biasa di hatinya. "Dara, boleh Ayah memelukmu?" tanya Adam. Dia begitu ingin merasakan pelukan dari putrinya. Dara pun mengangguk dan membiarkan tubuhnya direngkuh oleh ayahnya. Udara pagi tiba-tiba masuk melewati pintu tanpa diundang, seakan semesta ikut bahagia atas bersatunya ayah dan anak itu. Adam merasakan Arumi tersenyum padanya, dia terlihat bahagia menatapnya dengan senyum termanisnya. "Anak kita, Rum," gumam Adam sembari menyeka cairan bening yang meluncur secara tiba-tiba itu. "Ayah." Suara Dara begitu merdu terdengar di telinganya, ternyata selama ini dia begitu merindukan putrinya, tapi hanya karena hatinya berusaha menolak akhirnya Adam tidak mau menerima anaknya. Dia bukannya tidak sayang dengan darah dagingnya sendiri, tapi dia hanya ingin protes pada Sang Pemilik Jiwa agar mengembalikan istrinya. Harapan itu tidak akan pernah terwujud, jiwanya hilang bersama dengan belahan hatinya yang telah pergi meninggalkannya. "Ayah menangis? Apa Ayah marah sama Dara? Dara nakal, ya, Yah?" tanya Dara sembari mengusap air mata ayahnya yang sempat menetes. "Tidak, Ayah hanya kelilipan." Adam segera menyeka air matanya. "Ayah tidak marah, Dara 'kan anak pintar," ujar Adam sembari mengecup pucuk kepala putrinya. Adam merasakan ada energi yang masuk ke dalam tubuhnya, dia merasakan lebih semangat dari biasanya. Dua pasang mata menatap kebersamaan ayah dan anak itu terharu hingga meneteskan air mata, Mbok Darsih sampai memeluk April melihat kejadian langka itu. April segera mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen berharga itu. Lasmi sudah mewanti-wantinya agar jangan sampai melewatkan setiap kebersamaan Adam dan Dara. *** Kebersamaan dengan sang putri membuat perubahan yang besar pada diri Adam. Banyak yang mengira bahwa Adam telah jatuh cinta lagi, karena sepanjang dia melangkah senyumnya terus tersungging. "Selamat pagi, Pak, sepertinya hari ini Bapak terlihat bahagia," tanya Olivia--sekretarisnya. "Oh, seperti yang kamu lihat," jawab Adam seraya mengambil dokumen yang diberikan Olivia. "Apa Bapak butuh sesuatu? Bunga misalnya," tanya Olivia, karena jiwa ingin tahunya yang besar, dia begitu berani menanyakan itu. Melihat senyum Adam, itu adalah hal langka baginya. Selama empat tahun dia menjadi sekretaris Adam, tidak pernah sedikitpun dia tersenyum. "Bunga? Buat apa?" tanya Adam balik. "Buat pacar Bapak, kelihatannya Bapak sedang jatuh cinta," ucap Olivia ragu-ragu. Dia memang begitu penasaran dengan Adam yang tidak seperti biasanya. "Gini, ya, kalau orang keseringan pacaran. Makanya cepat nikah biar pikirannya jernih." "Iya, Pak, maaf." Olivia tersenyum salah tingkah. Dari mana Adam tahu kalau dia memang punya pacar, pikirnya. Olivia permisi keluar, dia sudah tidak bisa mengorek informasi tentang Adam. "Liv," panggil Adam saat Olivia akan menarik tuas pintu. "Iya, Pak." "Apa yang biasanya disukai anak-anak?" tanya Adam tanpa sedikitpun menatap Olivia karena dia masih fokus dengan berkas yang ada di hadapannya. "Anak-anak? Aku tahu, Bapak pasti ingin mengambil hati calon istri 'kan? Akhirnya, Bapak bisa membuka hati lagi," cerocos Olivia. "Sok tahu kamu, sudah keluar sana," usir Adam pada Olivia. Olivia menarik tuas dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, "Anak-anak paling suka kalau dibelikan es krim atau coklat," ujar Olivia setelah itu dia kembali ke meja kerjanya. Adam tersenyum setelah mendengarkan ucapan Olivia itu. Dia membayangkan kalau Dara akan senang jika dibawakan es krim. Olivia langsung menyebarkan berita tentang Adam yang sedang jatuh cinta, dengan mengarang cerita. Olivia telah dikerubungi rekan kerjanya yang begitu antusias mendengarkan cerita tentang bos dinginnya itu. "Kamu nggak bohong 'kan, Liv." "Buat apa aku bohong. Lihat saja kelakuan Pak Adam, dari dia datang, wajahnya berbinar, aku yakin dia memang sedang jatuh cinta." Gosip tentang Adam yang sedang jatuh cinta tersebar di seluruh kantor, bahkan kabar itu terdengar oleh direktur utama. Mereka semua ikut bahagia mendengar kabar itu. Kecuali satu wanita yang begitu mencintai Adam, Dahlia. *** Setelah jam pulang kantor, Adam segera kembali karena ingin melihat senyum putrinya saat dia bawakan es krim. Panggilan telepon dari sang ibu membuat Adam menepikan mobilnya. "Iya, Ibu," jawab Adam. "Ibu senang melihat kalian sudah semakin dekat," ucap sang ibu, kali ini ibunya tidak teriak bahkan terdengar isakan. "Ibu menangis?' tanya Adam khawatir mendengar suara sumbang sang ibu. "Iya, ini tangis bahagia. April cerita sama Ibu tadi pagi, dia juga mengirimkan foto kamu memangku Dara," ujar sang ibu. "April?" gumam Adam. "Iya, April yang mengambil gambar kalian," ujar ibu riang. 'Awas kamu, ya,' batin Adam. "Dam, Ibu ingin kamu segera menikah lagi," pinta Lasmi. "Ibu, untuk itu aku belum bisa, biarlah saat ini aku menikmati waktu bersama Dara," ujar Adam. Dia memang tidak pernah berpikir untuk menikah lagi, terlalu sakit saat membayangkan pengorbanan Arumi ketika melahirkan Dara. "Tapi, kamu itu masih muda, kamu berhak bahagia, Adam." Sudah ribuan kali Lasmi meminta Adam untuk segera menikah, tapi ribuan kali juga Adam menjawab tidak. Dia tidak tega melihat putranya itu hidup dalam kesendirian. "Ibu, Arumi telah berjuang demi kehadiran Dara, mana mungkin aku akan mengkhianatinya," ujar Adam. "Adam, kepergian Arumi itu sudah takdir, kamu harus bisa menerimanya agar dia bisa tenang di sana. Arumi pasti akan bahagia saat melihatmu bahagia," ucap sang ibu. "Adam tidak bisa, sudah, ya, Bu, Assalamualaikum," pungkas Adam kemudian mematikan ponselnya. Dia tidak ingin membahas masalah itu lagi. "Aku akan buat perhitungan, April" gumam Adam seraya menghidupkan mesin mobilnya, kemudian Adam segera melajukan mobilnya agar cepat sampai. Adam mampir ke minimarket ujung jalan perumahan itu, dia membeli beberapa es krim. Saat akan mengambil es krim itu, tiba-tiba ingatan tertuju saat bersama Arumi. "Mas, aku beli es krim dulu, ya," pinta Arumi sembari menarik tangan Adam. Dia mengikuti istrinya membeli es krim. Bagi Arumi, apapun yang rasa cokelat pasti dia suka. Arumi mengambil es krim rasa coklat yang dalam cup, katanya agar mudah memakannya. Adam tersenyum saat bayangan istrinya muncul dalam angannya, dia merasa istrinya berada di sampingnya memilihkan es krim untuk putri mereka. Dia mengambil es krim dalam cup dengan rasa cokelat persis kesukaan istrinya. Dia juga membeli beberapa cokelat untuk putrinya. Dia ingat betul cemilan yang selalu diminta Arumi adalah cokelat. Dia ingat saat mereka masih pacaran, bagaimanapun Arumi merajuk, jika diberi cokelat dia akan langsung tersenyum. Semudah itu membuat istrinya bahagia. . Hatinya tiba-tiba berdebar saat melihat Dara yang bermain di atas ayunan seakan gadis kecil itu menyambutnya. Debaran yang semakin terasa saat sang putri melihatnya dan tersenyum padanya. Senyum tulus tersungging di bibir mungilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD