Tidak Biasa

1512 Words
Adam masuk ke rumah dengan kerepotan membawa mainan itu. Melihat Adam kerepotan membawa mainan sebanyak itu, April segera membantunya mengambil mainan yang dibawa Adam. Di saat bersamaan, tangan mereka saling bersentuhan. Adam menikmati sentuhan lembut April hingga beberapa detik akhirnya dia menyadarinya dan segera melepas tangannya. “Maaf,” ucap Adam gugup. April segera memalingkan wajahnya karena dia semakin gugup berada sedekat itu dengan Adam, laki-laki yang selama ini hanya ada dalam angannya. Dara yang berada di kamar langsung keluar saat melihat April membawa banyak sekali mainan. Dara langsung mendekati April sambil menatap heran dengan mainan sebanyak itu. “Ini mainan untuk Dara,” ucap Adam sambil menunjuk mainan yang ditaruh di meja. Dara mundur dan bersembunyi di belakang punggung April sambil mengintip karena ketakutan. Adam bingung melihat putrinya yang terlihat ketakutan. Matanya tertuju pada pengasuh putrinya meminta penjelasan, tapi dia tidak punya jawaban karena April malah mengalihkan pandangan saat tatapan mereka saling beradu. “Dara takut, Tante,” bisik Dara. April paham dengan perasaan Dara yang belum siap untuk menerima kebaikan ayahnya. "Dara, ayo kita main di depan." April berusaha membuat Dara nyaman, dia takut jika perubahan tiba-tiba itu membuat Dara bingung. Adam hanya melihat kecewa saat putrinya justru malah ketakutan dengan perhatiannya. "Mas, kamu itu harus perhatian sama anak kita. Jangan sampai dia tidak tahu ayahnya karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu," ujar Arumi lima tahun yang lalu. "Mana ada anak lupa sama ayahnya," sahut Adam sembari masih berkutat dengan laptopnya. "Kalau kamu kurang memperhatikannya, pasti dia akan merasa asing sama kamu, Mas." Wanita lemah lembut itu mendekati suaminya kemudian memijat pundaknya. Pijatan yang masih saja dia rasakan meskipun lima tahun wanita yang selalu saja ada di hatinya meninggalkannya untuk selamanya. "Den, butuh sesuatu? Biar Mbok buatkan." Sapaan Mbok Darsih membuyarkan lamunannya. Adam menoleh ke sumber suara, kemudian duduk di sofa. "Buatkan teh hangat saja Mbok," ujar Adam sembari mengambil bungkus nikotin yang ada di saku celananya. Diambilnya satu puntung rokok lalu disulutnya dengan korek api. Seketika asap mengepul memenuhi seperempat ruangan itu. Adam menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sembari berusaha menenangkan hatinya atas penolakan putrinya. "Kamu benar, Rum. Anak kita tidak mau menerimaku," gumamnya. "Ini, tehnya, Den," ucap Mbok Darsih sembari meletakkan secangkir teh hangat di meja. "Terima kasih, Mbok," ujar Adam singkat. Mbok Darsih melihat begitu banyak mainan yang masih ada di lantai, dia tersenyum melihatnya karena dia yakin kalau Adam mulai mau membuka hatinya untuk Dara. Mbok Darsih segera mengambil mainan itu dan membawanya ke kamar Dara, dia menatanya di keranjang. Senyumnya pun terkembang, satu perubahan yang sangat berarti. Adam masih menikmati kepulan asap beracun itu, sesekali disesapnya teh manis buatan Mbok Darsih. "Tante, kejar aku!" Suara teriakan Dara seketika membuatnya ingin melihat apa yang Dara lakukan. Netranya terus saja mengawasi Dara dan April yang asik berkejaran di taman depan dengan rasa iri. Adam akhirnya naik ke lantai atas, dimana dia biasa menghabiskan kesendiriannya. Diletakkannya tas kerjanya di atas nakas dan membuka dasinya serta melonggarkan kancing kemejanya. Adam merebahkan tubuhnya dengan kasar. "Mas, jangan mudah menyerah, kamu harus berusaha lebih keras lagi." Ucapan Arumi yang selalu menguatkannya ketika dia hampir menyerah. Adam merasakan sentuhan jemari lembut di dadanya, dia merasakan cinta Arumi masih tertinggal untuk selalu menguatkannya. "Apa aku bisa, Rum?" ucapnya lirih. Adam masih saja tidak yakin putrinya akan mau menerimanya kembali setelah apa yang selama ini dia lakukan. Dia merasa gagal menjadi ayah, tapi dia tidak berdaya. Melihat Dara sama saja membuka luka itu kembali. "Seandainya kamu masih di sini, mungkin Dara tidak akan menolakku. Kamu akan selalu mengatakan kalau aku ini ayahnya. Ayah paling hebat di dunia." Adam tersenyum getir menertawakan kemalangan hidupnya. Impian yang selalu dia dan istrinya inginkan, hidup bersama hingga ke surganya nanti. "Kenapa kamu tega meninggalkanku, Rum. Bukankah kita sudah berjanji akan bersama selamanya hingga ke Surganya?" lirihnya. Adam memejamkan matanya merasakan kehadiran istrinya dalam angannya, rasa rindu selalu saja dia rasakan. "Mas, cepat mandi, air hangatnya sudah siap," ujar Arumi kala itu. "Nanti dulu, aku masih lelah," jawab Adam. Dengan menarik tangan suaminya, Arumi memaksanya untuk segera mandi. Dulu, dia selalu saja protes jika istrinya memaksanya untuk segera mandi, tapi sekarang, hal itu begitu dirindukannya. Adam segera menuju kamar mandi mengisi bathup dengan air panas dan dingin lalu mencelupkan jarinya untuk mengetahui airnya pas suhunya. Itu yang selalu Arumi ajarkan berkali-kali setiap kali istrinya menyiapkan air untuknya mandi. Adam menceburkan tubuhnya sekedar mengurangi rasa lelah, pikirannya terus saja tertuju pada wajah ketakutan Dara. "Apa Dara membenciku, Rum?" lirihnya. Segala kenangan tentang putrinya memang nyaris tidak terlintas dalam benaknya, yang dia ingat hanya tangis bayi saat pertama kali dia hadir ke dunia. Tangisan yang menyayat hati bersamaan dengan hembusan napas terakhir istri tercintanya. *** Azan subuh berkumandang, para penghuni bumi memenuhi panggilan untuk menghadap Sang Pencipta untuk melaksanakan kewajibannya dan juga memohon kebaikan Pada Sang Pemilik alam semesta beserta isinya. Selesai melaksanakan shalat magrib, Adam menuju lantai bawah untuk makan malam. Dia berjalan gontai enggan untuk turun karena belum siap melihat penolakan putrinya lagi. Netranya terpaku pada wanita yang begitu telaten menyuapi makan untuk Dara. Hati Adam sesak, lara itu semakin terasa, seharusnya yang ada di sana Arumi. Sejenak Adam berusaha menenangkan perasaannya yang diselimuti kesedihan, dinding-dinding seakan ikut merasakan kepiluan dalam hatinya. Setelah merasa tenang, Adam berjalan dengan tenang tanpa menimbulkan suara pada pijakan kakinya, dia menarik kursi dan mendudukinya. Suara decitan akibat gesekan kaki kursi dan lantai membuat Dara menoleh, dia pun langsung menghentikan kunyahan di mulutnya dan sedikit mendekatkan tubuhnya pada April. Adam menyadari semuanya, tapi dia masih bersikap tenang dengan mengambil nasi dan lauk yang terhidang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mereka makan malam dengan saling diam, April masih menyuapi Dara hingga selesai. "Tante, sudah kenyang," ujar Dara sembari mengusap perutnya. April menyudahi menyuapi Dara kemudian mengambilkan air untuk Dara. Saat tangannya hendak menyentuh teko kaca, tanpa disadari tangan mereka berada di tempat yang sama. Adam juga ingin mengambil minum. Kebiasaan Adam selalu minum di sela-sela makannya, hal itu persis seperti yang dilakukan Dara. April segera menarik tangannya, ini adalah kedua kalinya tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja. Adam menuangkan air minum di gelasnya dan menuangkan juga di gelas yang April dekatkan. Dara menatap ayahnya yang menuangkan air dengan perasaan berdebar. Ada sedikit rasa takut jika ayahnya marah. Setelah menuangkan air, Adam kembali lagi meneruskan makannya, tiba-tiba rasa makanan itu hambar saat tanpa sengaja netranya beradu dengan April yang menatapnya tanpa berkedip. April segera menunduk saat menyadari tatapan tajam Adam, wajahnya seketika memerah dengan degup jantung yang semakin berdetak kencang. Adam segera memalingkan wajahnya ke arah lain, dia melihat seakan Arumi tersenyum melihatnya. Setelah menyelesaikan makannya, Adam kembali ke ruang atas, dia masih belum siap melihat penolakan putrinya. Adam ke ruang kerjanya, dia mengerjakan pekerjaan yang belum dia selesaikan di kantor. Dibukanya lembar demi lembar kertas dan data-data di laptopnya, matanya sangat jeli memperhatikan setiap data yang dia buka. Adam selalu fokus dalam setiap pekerjaannya. Hingga larut malam Adam enggan mengakhiri semuanya, dia masih saja terus menyelesaikan pekerjaannya. Dalam beberapa tahun setelah i meninggalnya sang istri, Adam memang selalu menghabiskan malamnya untuk bekerja. "Mas, tidurlah, kamu pasti lelah. Jaga kesehatan, jangan terlalu malam tidurnya," ucap Arumi kala itu sembari memijat pundaknya. "Tinggal sedikit lagi, kamu tidur saja dulu," jawab Adam tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. "Mas, kalau kamu sakit bagaimana? Iya kalau aku ada terus, kalau aku meninggal, siapa yang mengurusmu?" Itu adalah ucapan di hari-hari terakhir Arumi menemaninya. Adam akhirnya menghentikan kegiatannya, dia menutup laptopnya dan merapikan berkas yang telah dipelajarinya untuk rapat besok. Dia berjalan menuruni tangga, netranya mengawasi seluruh ruangan, tidak ada yang berubah. Adam memang tidak mengizinkan Mbok Darsih merubah sedikitpun posisi perabot rumah. Bahkan benang dan hakpen terakhir Arumi pakai masih berada di atas nakas. Ya, terakhir kali Arumi merajut dan belum menyelesaikan topi bayi untuk putrinya. Adam berjalan menuju ruang tamu dan duduk di kursi dekat nakas, istrinya biasa menunggunya pulang kerja duduk disana sembari merajut. Diambilnya benang dan alat rajut itu, masih terasa tangan lembut Arumi di sana. "Aku merindukanmu, Rum," lirihnya. Sepasang mata menatapnya berkaca-kaca, April yang sedari tadi memperhatikan Adam dari balik pintu tidak mengalihkan pandangannya. Dia mengurungkan niatnya untuk keluar mengambil air saat melihat Adam menuruni tangga. Ingin rasanya April mendekati Adam dan menghiburnya, tapi dia tidak punya keberanian. Adam adalah lelaki dingin dan sangat sulit didekati. Sejak April diminta mengurus Dara, dia mulai mengagumi lelaki berjambang itu. Matanya yang sedikit coklat dengan alis tebal semakin terlihat mempesona. "Tante, mana airnya?" Suara Dara mengagetkannya hingga pintu kamar itu terbuka sempurna. Kebiasaan-kebiasaan Dara sama persis dengan ayahnya, dia selalu minum air saat tengah malam. Adam memang akan mengambil air saat itu, tapi tiba-tiba rasa rindu pada sang istri menggelitiknya untuk merasakan tangan lembut sang istri lewat rajutan Arumi. Adam menatap tajam wanita berambut ikal itu lalu mengalihkan pandangannya pada putri kecilnya, dia hanya diam menatapnya. Namun, tatapan Adam membuat Dara takut, dia langsung berbaring lagi dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. April berjalan dengan jantung yang berdegup kencang, saat melewati Adam bahkan kakinya sampai ikut bergetar. Dengan cepat April mengambil segelas air dan segera masuk ke kamar lagi. Adam masih bergeming menatap April yang berjalan tergesa menuju kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD